Grafik Pergerakan Nilai Tukar Dinar

Grafik Pergerakan Nilai Tukar Dinar
sumber: GERAI DINAR

Alasan Fundamental Untuk Memilih Dinar…

1. Dinar emas adalah uang yang digunakan oleh Rasulullah SAW tidak hanya untuk jual beli, tetapi juga untuk penerapan syariah itu sendiri.

a. Nisab zakat yang diukur dengan 20 Dinar atau 200 Dirham.

b. Batasan Hukum potong tangan bagi pencuri batasannya adalah nisab pencuri ¼ Dinar.

c. Diyat atau uang darah [dibebaskan dari hukum qisas (dibunuh)] yang besarannya 1000 Dinar.

Lantas bagaimana kita bisa tahu seseorang menjadi wajib zakat atau malah sebaliknya berhak menerima zakat kalau ukurannya yang berupa Dinar atau Dirham saja kita tidak mengenalnya ?.

2. Fakta di dunia modern ini bahwa uang kertas tidak akan bertahan terlalu lama. Semua uang kertas yang ada di dunia modern ini, tidak ada satupun yang telah membuktikan dirinya bisa survive dalam seratus tahun saja. Bisa jadi nama uangnya masih ada, tetapi jelas daya belinya sangat jauh berbeda dalam rentang waktu tersebut.

Padahal disisi lain ada uang yang daya belinya terbukti tetap lebih dari 1400 tahun yaitu Dinar. Di jaman Rasulullah SAW 1 Dinar cukup untuk membeli kambing, saat inipun 1 Dinar bisa membeli kambing yang baik di Jakarta.

Selengkapnya……..

Grafik Harga Emas Harian - Mingguan - Bulanan -Tahunan

Investasi Emas : Koin Dinar, Emas Lantakan Atau Emas Perhiasan ?

Default value (nilai asal) dari investasi emas tinggi - otomatis nilai emas akan kembali ke nilai yang sesungguhnya – yang memang tinggi.

Default value (nilai) uang kertas, saham, surat berharga mendekati nol , karena kalau ada kegagalan dari pihak yang mengeluarkannya untuk menunaikan kewajibannya –uang kertas, saham dan surat berharga menjadi hanya senilai kayu bakar.

Nah sekarang sama-sama investasi emas, mana yang kita pilih ? Koin Emas, Emas Lantakan atau Perhiasan ?

BACA SELENGKAPNYA...........

Jumat, 19 Maret 2010

Dunia Akan Membutuhkan Uang Baru Atau System Barter Yang Canggih …

Written by Muhaimin Iqbal
Friday, 19 March 2010 06:32
Buying Power

Dalam tulisan saya awal pekan ini tentang bagaimana kita bisa mengalahkan inflasi, saya telah memberi gambaran betapa daya beli umat manusia di di seluruh dunia tergerus oleh inflasi yang tidak bisa dikendalikan oleh pemerintahan negerinya masing-masing.

Kalau ada yang masih berpikir bahwa ada uang kertas dunia yang bertahan daya belinya, maka perhatikanlah kinerja uang kertas-uang kertas yang selama ini dipandang kuat di dunia seperti grafik disamping. Daya beli terhadap emas untuk Rupiah misalnya tinggal 20% selama 10 tahun terakhir, bila di awal tahun 2000 Anda bisa membeli emas seberat 1 gram seharga Rp 66,000,- maka kini dengan uang yang sama Anda hanya bisa membeli 0.2 gram emas karena per gramnya kini telah menjadi Rp 330,000,-.

Bukan hanya Rupiah tetapi berbagai mata uang perkasa dunia-pun nasibnya hanya sedikit lebih baik dari Rupiah; dalam kurun waktu 10 tahun yang sama daya beli Poundsterling terhadap emas tinggal 23%, US Dollars tinggal 25%, Yen dan Sing Dollar tinggal 30 % dan Euro tinggal 34 %.

Mengapa emas pembandingnya ?, bukan data inflasi di masing-masing negara ?. Sederhana, di negara maju sekalipun seperti di Amerika yang katanya paling transparan dalam informasi – data inflasi resmi pemerintah negeri itu diragukan oleh rakyatnya sendiri sehingga munculah Shadow Government Statistic misalnya – pemerintah dianggap mempunyai ‘kepentingan’ terhadap data inflasi ini sehingga data yang dikeluarkan bisa jadi bukanlah data yang sebenarnya.

Dilain pihak daya beli emas sudah terbukti stabil selama lebih dari 1,400 tahun - bahwa 4.25 gram emas yang disebut 1 Dinar, selalu cukup untuk membeli satu ekor kambing. Sehingga emas (bersama perak) memang layak sebagai satu-satunya timbangan yang adil dalam bermuamalah seperti yang diungkapkan oleh Imam Ghazali dalam ‘Ihya Ulumuddin sejak 10 abad lalu.

Dengan penurunan daya beli uang kertas seperti tersebut diatas, disadari atau tidak umat manusia akan semakin banyak yang merindukan hadirnya uang yang adil yang nilainya bebas inflasi – meskipun bisa jadi uang ini tidak diakui sebagai uang oleh system moneter yang dianut dunia saat ini.

Bila otoritas-otoritas keuangan dunia menerima kembali uang bernilai intrinsik seperti emas/Dinar atau perak/Dirham , maka urusan pencarian uang baru ini selesai sudah. Tinggal copy paste dari syariah Islam tentang bagaimana penggunaan emas dan perak ini diatur – semuanya sudah komplit dan sudah dijalankan selama lebih dari seribu tahun.

Masyalahnya adalah system keuangan dunia saat ini yang dikomandoi IMF menolak kehadiran uang emas ini, jadi apa kira-kira yang akan terjadi ?. Masyarakat akan semakin tidak mempercayai rezim uang kertas dunia, tetapi uang bernilai intrinsic yang didambakannya terhambat kehadirannya sehingga sulit untuk tersedia secara cukup di masyarakat. Maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah system barter yang akan berkembang.

Dengan berbagai perkembangan teknologi data processing yang semakin cepat dan murah, tidak mustahil system barter nan canggih akan segera tersedia di pasar. Bahkan di negeri tetangga misalnya sudah ada perusahaan yang menawarkan system barter ini untuk transaksi perdagangan business to business. Tidak tanggung-tanggung, perusahaan ini telah meng-klaim memiliki ratusan ribu customer based dan telah memiliki ‘uang’-nya sendiri yang disebut Barter Trade Credit.

Bila system barter berkembang (ketika uang kertas terus menurun legitimasinya), maka benda-benda riil lah yang berharga dan bukan lagi uang kertas. Dahulu saya sulit memahami mengapa sampai garam-pun disebut dalam Hadis Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi s.a.w bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai”.

Setelah mempelajari system barter ini, kini saya tahu rupanya tidak ada yang tidak penting dalam setiap benda yang disebut di dalam hadits barter tersebut diatas - jadi bukan hanya emas dan perak yang berharga tetapi garam-pun sangat berharga. Hidup menjadi sungguh hambar tanpa garam – karena makanan yang seharusnya enak-pun menjadi tidak ada rasanya, otak yang seharusnya cerdas menjadi tidak berfungsi (iodium dalam garam juga berfungsi mencerdaskan otak).

Jadi kalau garam-pun bernilai untuk barter, benda-benda lain yang Anda miliki dan peroleh dengan susah payah – tentu bernilai dan bermanfaat untuk Anda. Kalaupun toh Anda sudah tidak membutuhkannya lagi, bisa jadi ada orang lain yang membutuhkannya – mengapa tidak berfikir untuk di barter saja ?. Wa allahu A’lam.

Last Updated on Friday, 19 March 2010 06:49

Copyright © 2010 Gerai Dinar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.


Read more...

Selasa, 16 Maret 2010

Mengalahkan Inflasi, Insyallah Kita Bisa…

Emas atau Dinar terbukti memiliki daya beli relatif stabil sepanjang lebih dari 1,400 tahun; bukan hanya untuk membeli kambing 1 Dinar tetap dapat satu ekor kambing sejak zaman Nabi – sampai sekarang; untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras pun insyallah relatif stabil. Dari data IRRI jika disajikan kembali dalam nilai emas; maka Anda akan bisa lihat bahwa harga beras rata-rata berfluktuasi di sekitar 0.7 oz emas/ ton beras. Ada yang di kisaran 1 oz emas/ton beras, namun ada juga yang di 0.5 oz emas/ton beras.

Perbedaan harga karena jenis/kwalitas ini wajar, karena di barang apapun termasuk di kambing pun juga demikian. Kambing-kambing yang kami pelihara di pesantren Darul Muttaqqiin untuk indukan rata-rata 2 Dinar, bahkan pejantan unggul bisa berharga diatas 10 Dinar. Tetapi secara umum di pasar 1 Dinar akan tetap dapat untuk membeli kambing yang cukup baik.

Demikian pula di beras; ada beras Jepang yang sangat mahal, tetapi dengan 0.7 Oz emas atau sekitar 5 Dinar Anda tetap dapat membeli beras 1 ton di sepanjang masa.


Written by Muhaimin Iqbal
Monday, 15 March 2010 08:32
Dalam ilmu ekonomi, yang dimaksud dengan inflasi adalah kenaikan harga-harga terhadap barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu. Menurut para penganut teori Monetarist, penyebab utama inflasi ini adalah supply uang. Bahkan dalam pandangan Monetarist Economist terkenal Milton Friedman "Inflation is always and everywhere a monetary phenomenon."

Dalam sistem ekonomi barat ada yang berpendapat bahwa inflasi ini ada positifnya karena antara lain berguna untuk mendorong investasi sektor riil. Ketika inflasi tinggi orang cenderung untuk tidak mempertahan assetnya dalam bentuk uang – tetapi dalam bentuk barang, kebutuhan akan barang inilah yang mengangkat produksi dan memutar ekonomi.

Dalam Islam, produksi sektor riil tidak didorong oleh inflasi tetapi oleh putaran uang yang lebih cepat. Kekayaan bukan untuk ditimbun tetapi berputar ke masyarakat luas – berputar tidak hanya pada yang kaya tetapi juga pada yang miskin. Dalam pandangan Ibnu Taimiyyah, pemerintah yang mencetak fulus melebihi kebutuhan transaksi – dus menyebabkan inflasi – adalah pemerintah yang mendhalimi rakyatnya.

Pandangan Ibnu Taimiyyah inilah yang sebenarnya lebih pas untuk manusia modern di zaman ini sekalipun. Pemerintah-pemerintah dunia akan mampu menjaga kemakmuran rakyatnya bila mereka bisa menurunkan atau bahkan menghilangkan inflasi – kalau saja mereka mau !.

Contoh betapa inflasi menyengsarakan rakyat seluruh dunia dapat Anda lihat pada grafik diatas. Grafik yang saya buat berdasarkan data yang dikeluarkan oleh International Rice Research Institute (IRRI) ini menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir saja, harga beras di dunia telah mengalami kenaikan rata-rata hampir dua kali lipat. Padahal sangat sedikit porsi penduduk dunia yang bisa meningkatkan penghasilannya dua kali lipat dalam periode tersebut.

Artinya, rata-rata penduduk dunia menurun tingkat kemakmurannya – karena penurunan daya beli uangnya ini. Hal ini juga bisa kita rasakan di rumah tangga kita masing-masing. Bisa saja penghasilan kita meningkat dari tahun ketahun, tetapi kok beban hidup tidak terasa lebih ringan ya…?; bila Anda merasakan hal yang sama – sangat bisa jadi ini karena kenaikan penghasilan Anda kalah cepat dengan inflasi terhadap harga-harga kebutuhan pokok Anda.

Yang bisa mengendalikan inflasi ini adalah pemerintah khususnya otoritas moneter; rakyat seperti kita tidak bisa mengendalikan inflasi ini. Meskipun demikian, sebenarnya ada yang bisa dilakukan oleh rakyat seperti kita-kita untuk tidak menjadi korban inflasi ini. Dengan apa kita dapat melakukan ‘perlawanan’ terhadap inflasi ini ?.

Dengan meminimise penggunaan uang yang menjadi penyebab inflasi tersebut. Menurut para penganut paham Monetarist diatas, inflasi kan disebabkan oleh supply uang – ya jangan taruh kekayaan Anda yang kegunaannya bersifat jangka panjang dalam bentuk uang. Bila Mayoritas kekayaan Anda tersimpan dalam nominal mata uang (Rupiah, US$ dlsb), maka daya beli kekayaan Anda tersebut akan terus menurun bersamaan dengan waktu. Bila dalam lima tahun terakhir saja harga beras internasional rata-rata naik dua kali, berarti daya beli uang Anda terhadap beras turun tinggal separuhnya – maka bisa Anda bayangkan bila lima belas tahun dari sekarang Anda pensiun misalnya – maka saat itu daya beli asset Anda bisa jadi sangat tidak memadai untuk kehidupan saat itu.

Dalam situasi inflasi yang sangat tinggi sekalipun (hyper inflasi), harga barang-barang naik relatif bersamaan – maka nilai tukar benda riil yang satu relatif stabil terhadap benda riil yang lain. Artinya bila asset Anda berupa benda riil yang tidak aus atau rusak, maka daya beli asset Anda tersebut insyallah akan relatif stabil. Salah satu benda riil yang tidak aus/rusak , sangat likuid dan statitisk daya belinya terbukti sepanjang zaman adalah Emas atau Dinar.
Emas atau Dinar terbukti memiliki daya beli relatif stabil sepanjang lebih dari 1, 400 tahun; bukan hanya untuk membeli kambing 1 Dinar tetap dapat satu ekor kambing sejak zaman Nabi – sampai sekarang; untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras pun insyallah relatif stabil. Bila data dari IRRI tersebut saya sajikan kembali dalam nilai emas; maka Anda akan bisa lihat pada grafik disamping bahwa harga beras rata-rata berfluktuasi di sekitar 0.7 oz emas/ ton beras. Ada yang di kisaran 1 oz emas/ton beras, namun ada juga yang di 0.5 oz emas/ton beras.

Perbedaan harga karena jenis/kwalitas ini wajar, karena di barang apapun termasuk di kambing pun juga demikian. Kambing-kambing yang kami pelihara di pesantren Darul Muttaqqiin untuk indukan rata-rata 2 Dinar, bahkan pejantan unggul bisa berharga diatas 10 Dinar. Tetapi secara umum di pasar 1 Dinar akan tetap dapat untuk membeli kambing yang cukup baik.

Demikian pula di beras; ada beras Jepang yang sangat mahal, tetapi dengan 0.7 Oz emas atau sekitar 5 Dinar Anda tetap dapat membeli beras 1 ton di sepanjang masa.

Masih ada satu lagi, dalam lima tahun terakhir setelah ditimbang/dinilai dengan emas-pun harga beras tidak menjadi datar – tetapi bergelombang membentuk gelombang sinus; inilah dampak dari naik turunnya harga yang fitrah karena mekanisme pasar supply and demand – bukan lagi faktor inflasi.

Karena inflasi bisa dilawan dengan pertukaran barang yang satu dengan yang lain tanpa menggunakan uang; maka inilah yang melatar belakangi bangsa-bangsa di dunia sedang berlomba menciptakan system barter modern – seperti juga yang sedang kita kaji dalam Indobarter project. Tidak akan mudah memang, tetapi untuk sesuatu problem yang tidak pernah bisa diatasi oleh pemerintah-pemerintah dunia – yaitu problem inflasi; maka hal yang sulit tersebut cukup menantang untuk dicoba – Insyallah.
Last Updated on Monday, 15 March 2010 09:01

Copyright © 2010 Gerai Dinar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Read more...

Antara Mekanisme Pasar Yang Fitrah & Inflasi Yang Harus Dicegah…

“Jumlah fulus ( uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga, kertas dlsb.) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka”.

Masalahnya sekarang adalah kita hidup dai zaman uang kertas; di seluruh dunia uang kertas inilah yang digunakan – dan tidak ada satu negarapun yang terbukti bisa mengendalikan inflasi. Maka sangat bisa jadi kini zamannya sudah semakin dekat prediksi pemenang hadiah Nobel ilmu ekonomi tahun 1974 Friedrich August Von Hayek, dan juga prediksi ‘dewa’ ekonomi-nya dunia barat John Naisbitt untuk terbukti : masanya uang ‘swasta’ untuk berjaya menggantikan uang nasional.

Written by Muhaimin Iqbal
Thursday, 11 March 2010 08:32
Daily Change

Sudah beberapa hari ini harga emas mengalami penurunan dan puncaknya semalam ketika pasar internasional turun secara significant dari US$ 1,121/Oz ke angka US$ 1,108/Oz. Akibatnya pagi ini harga Dinar kembali turun mendekati angka Rp 1.4 juta lagi. Ini kabar baik bagi kita yang di Indonesia, bahwa uang kita masih bernilai baik – meskipun (mungkin) ini hanya bersifat jangka pendek.

Pada kesempatan ini saya ingin share data harga emas dalam Rupiah yang sudah terkumpul di system kami sejak 14 September 2007. Pada grafik disamping Anda akan lihat pergerakan naik turunnya harga emas harian, yang kurang lebih berimbang antara hari-hari dimana harga emas naik dan hari-hari dimana harga emas turun.

Naik turunnya harga emas harian ini lebih banyak didorong oleh mekanisme pasar yang bekerja secara global; ketika harga tinggi orang banyak yang menjual emasnya sehingga supply meningkat dan akan mendorong harga turun. Demikian pula ketika harga rendah, banyak peminat akan berburu emas sehingga demand meningkat dan harga kembali naik, demikian seterusnya.

Kalau harga emas hanya didorong oleh mekanisme pasar, maka seharusnya angka berfluktuasi pada kisaran nilai tertentu - seperti bandul jam yang berayun di sekitar angka 6. Namun ternyata tidak demikian yang terjadi pada harga emas; diawal system kami mulai mencatat harga emas harian, harga ini berada di kisaran Rp 220,000/gram ; kini harga berada pada kisaran Rp 330,000/gram atau naik sekitar 50% dalam 2.5 tahun terakhir.

Artinya selain mekanisme pasar yang mendorong berayunnya harga emas secara harian tersebut; ada kekuatan lain yang hari demi hari mendorong harga emas keatas. Kekuatan lain ini hanya nampak bila kita lihat dalam rentang waktu yang panjang - kekuatan apa ini ?. Inilah yang namanya inflasi atau penurunan daya beli uang kertas terhadap benda riil yang dalam hal ini diwakili oleh emas.

Naik turunnya harga karena mekanisme pasar ini tidak boleh dicampuri oleh siapapun; bahkan dalam Islam Rasulullah SAW-pun tidak mau mempengaruhi-nya sebagaimana Hadits Ashabus Sunan dengan perawi yang shahih sebagai berikut :

Telah meriwayatkan dari Anas RA., ia berkata :” Orang-orang berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, harga-harga barang naik (mahal), tetapkanlah harga untuk kami. Rasulullah SAW lalu menjawab, ‘Allah-lah Penentu harga, Penahan, Pembentang, dan Pemberi rizki. Aku berharap tatkala bertemu Allah, tidak ada seorangpun yang meminta padaku tentang adanya kedhaliman dalam urusan darah dan harta”.

Sebaliknya dorongan kenaikan harga secara terus menerus yang disebabkan oleh inflasi mata uang kertas, ini tidak boleh terjadi. Penguasa negeri wajib mengendalikan jumlah uang (fulus) yang beredar sehingga rakyat tidak terdhalimi oleh penurunan nilainya. Inilah yang sudah juga diingatkan oleh Ibnu Taimiyyah berikut :

“Jumlah fulus ( uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga, kertas dlsb.) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka”.

Masalahnya sekarang adalah kita hidup dai zaman uang kertas; di seluruh dunia uang kertas inilah yang digunakan – dan tidak ada satu negarapun yang terbukti bisa mengendalikan inflasi. Maka sangat bisa jadi kini zamannya sudah semakin dekat prediksi pemenang hadiah Nobel ilmu ekonomi tahun 1974 Friedrich August Von Hayek, dan juga prediksi ‘dewa’ ekonomi-nya dunia barat John Naisbitt untuk terbukti : masanya uang ‘swasta’ untuk berjaya menggantikan uang nasional.

Bila megatrend itu bener-bener terjadi, maka insyallah kita-pun sudah siap untuk menyongsongnya. Semoga Allah selalu menunjuki kita ke JalanNya. Amin.

Last Updated on Thursday, 11 March 2010 08:43

Copyright © 2010 Gerai Dinar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.


Read more...

Selasa, 23 Februari 2010

Harga Emas Berpeluang Terus Melejit

lan Heap, Analis Citigroup Inc, mengatakan, Bank Sentral China sudah menjual US Treasury senilai US$ 46 miliar sepanjang November dan Desember 2009. "Mereka pasti akan membeli sesuatu dari dana tersebut.
Ibrahim, Analis Asia Kapitalindo Futures, bilang, jika IMF akan menjual emas, berarti ada yang akan membeli. "Biasanya India dan China. Maka itu, harga emas masih bisa naik," kata dia. Pada tahun ini, Ibrahim meramal, harga emas berpeluang menuju US$ 1.400 per ons troi. Minggu ini, emas bisa US$ 1.150 per ons troy.

INVESTASI
/ Home / Investasi

Selasa, 23 Februari 2010 | 09:22

HARGA KOMODITAS

Harga Emas Berpeluang Terus Melejit

JAKARTA. Pamor emas kian mengkilap. Sampai pukul 20.30 WIB kemarin (22/2), harga kontrak emas pengiriman April 2010 di bursa NYMEX Amerika Serikat naik 0,26% ke US$ 1.125 per ons troi. Jika dihitung sejak awal 2010 hingga kemarin, harga emas sudah melompat 2,5%.

Kebangkitan harga emas dipicu oleh pelemahan dollar Amerika Serikat (AS) dan belum jelasnya arah pemulihan ekonomi Eropa. Leo Hadi Loe, Country Representative World Gold Council, memperkirakan, harga emas di sepanjang semester pertama 2010 akan berfluktuasi di kisaran US$ 1.000-US$ 1.200 per ons troi. "Jika dilihat sejak Januari 2010, tidak ada lompatan signifikan dari harga emas," kata dia, kemarin.

Dalam jangka pendek, Leo melihat ada sejumlah faktor yang bisa menggerakkan harga emas. Misalnya, rencana Bank Sentral China membeli emas dari Dana Moneter Internasional (IMF). China kemungkinan masih menjadi institusi yang paling banyak memborong emas IMF. "Bank Sentral China tidak puas dengan kinerja surat utang pemerintah AS (US Treasury) yang mereka genggam, dan mencoba mendiversifikasi asetnya," tutur Alan Heap, Analis Citigroup Inc, seperti dikutip Bloomberg, kemarin.

Heap bilang, Bank Sentral China sudah menjual US Treasury senilai US$ 46 miliar sepanjang November dan Desember 2009. "Mereka pasti akan membeli sesuatu dari dana tersebut," kata dia. Dan, sesuatu itu kemungkinan adalah emas. Jika ini benar, harga emas bakal terus naik. "Kita akan melihat kenaikan yang pelan dan stabil atas harga emas," ujar Gavin Wendt, Analis Mine Life di Sydney.

Ibrahim, Analis Asia Kapitalindo Futures, bilang, jika IMF akan menjual emas, berarti ada yang akan membeli. "Biasanya India dan China. Maka itu, harga emas masih bisa naik," kata dia. Pada tahun ini, Ibrahim meramal, harga emas berpeluang menuju US$ 1.400 per ons troi. Minggu ini, emas bisa US$ 1.150 per ons troi.

Wahyu Tri Rahmawati
Read more...

Jumat, 05 Februari 2010

Harga Emas Dunia Jatuh, Mengapa…?

Kekawatiran akan likuiditas inilah yang membuat orang memborong US$. Terlepas bahwa US$ sebenarnya juga memiliki masalahnya sendiri – bagaimanapun sampai sekarang US$ masih dianggap sebagai World’s Reserve Currency.

Apakah penurunan ini akan berlanjut ?, untuk sementara mungkin. Tetapi sekian banyak analisa yang saya baca dan analisa saya sendiri – untuk jangka panjang tetap peluang naiknya harga emas lebih tinggi dari peluang menurunnya

Written by Muhaimin Iqbal
Friday, 05 February 2010 08:00
Crisis Stages

Meskipun sudah saya prediksikan dalam serangkaian tulisan pekan ini tanggal 01/02/10 ; 02/02/10 ; 04/02/10 ; penurunan harga emas yang tajam semalam terus terang juga mengejutkan saya sendiri. Memang di tulisan-tulisan tersebut saya estimasikan harga emas dalam jangka pendek bisa turun hingga kisaran US$ 975/Oz; saya sendiri tidak menduga bahwa harga emas bisa turun diatas 4% ke angka US$ 1,057.40 semalam.

Diluar kebiasaan pula, pada umumnya bila harga emas turun – harga saham naik karena dana dari penjualan emas dipasar sebagian lari ke saham. Tidak demikian yang terjadi semalam, harga saham dunia juga jatuh. Semua dana untuk sementara nampaknya lari ke US$.

Apa yang menjadi penyebab kejadian yang tidak biasa ini ?, saya coba telusuri penyebabnya ternyata bermuara di krisis hutang beberapa negara Eropa. Kekhawatiran yang meluas atas krisis hutang dan defisit Yunani, Spanyol, Portugal dan beberapa negara kecil di Eropa Timur telah membuat seluruh pasar dunia mengkawatirkan likuiditas.

Ini yang disebut systemic yang sesungguhnya; bila ada negara yang gagal – maka akan sangat cepat merembet ke negara-negara lain atau institusi keuangan dunia karena piutang mereka yang tidak tertagih, likuiditas yang tersedot dan seterusnya.

Kekawatiran akan likuiditas inilah yang membuat orang memborong US$. Terlepas bahwa US$ sebenarnya juga memiliki masalahnya sendiri – bagaimanapun sampai sekarang US$ masih dianggap sebagai World’s Reserve Currency.

Apakah penurunan ini akan berlanjut ?, untuk sementara mungkin. Tetapi sekian banyak analisa yang saya baca dan analisa saya sendiri – untuk jangka panjang tetap peluang naiknya harga emas lebih tinggi dari peluang menurunnya.

Kejadian semalam mirip dengan kejadian November 2008 yang saya tulis dalam judul “Tahapan Dalam Krisis Dan Pengaruhnya Terhadap Harga Emas…” ; untuk memudahkan pembaca saya tampilkan lagi ilustrasinya di grafik diatas.

Seperti berlalunya kekawatiran likwiditas US$ pada akhir 2008 tersebut, selepas panik pelaku pasar dan juga negara-negara akan kembali berpikir logis dan harga-harga akan menuju keseimbangan baru. Wa Allahu A’lam.

Copyright © 2010 Gerai Dinar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License
Read more...

Senin, 01 Februari 2010

Antara Trader Dan Investor, Termasuk Yang Mana Anda…?


Bila grafik pertama (jangka pendek) yang lebih menjadi fokus pertimbangan Anda ketika mengambil keputusan membeli/menjual Dinar atau emas Anda – maka kemungkinan Anda termasuk kategori Trader. Sebaliknya bila grafik kedua yang menjadi pendorong utama keputusan Anda untuk menjual/membeli Dinar – maka kemungkinan besar Anda adalah seorang Investor.


Written by Muhaimin Iqbal
Monday, 01 February 2010 06:45
Short Term Trend

Bertahun-tahun menjalankan perusahaan publik dan berinteraksi dengan para pemain pasar saham di profesi saya sebelumnya; saya menjadi mudah memahami mana-mana pemain pasar yang Trader dan mana pemain yang Investor. Pemain pasar yang Trader dia tidak fokus pada kinerja riil perusahaan yang sahamnya diperdagangkan, dia lebih fokus pada fluktuasi harga jangka pendek.

Sebaliknya, pamain pasar yang Investor – dia fokus pada kinerja dan prospek perusahaan dalam jangka panjang; fluktuasi harga sesaat tidak terlalu merisaukannya – bila perusahaan yang sahamnya dia beli memiliki fundamental dan prospek yang bagus dalam jangka panjang. Trader dan Investor keduanya ada di pasar dan tidak ada yang salah dengan keberadaannya, keduanya bisa benar untuk alasannya masing-masing.

Ketika pengalaman dari profesi sebelumnya tersebut saya bawa ke pasar Dinar atau emas, ternyata karakter Trader dan Investor tersebut tetap ada. Pembeli Dinar atau emas yang Trader, dia lebih fokus pada fluktuasi harga sesaat. Sebaliknya pembeli yang investor, dia lebih fokus pada kinerja Dinar/emas dalam jangka panjang.

Long Term Trend

Bedanya dengan para pemain saham yang dulu sering saya jumpai dimana lebih banyak porsi Trader ketimbang Investor, para pembeli Dinar/emas jauh lebih banyak porsi Investor ketimpang para Trader. Sangat kecil porsi pembeli Dinar di GeraiDinar misalnya yang menjual kembali Dinarnya dalam tahun yang sama.

Ingin tahu apakah Anda termasuk kategori Trader atau Investor ? berikut test sederhana-nya dengan data yang riil harga emas dunia yang saya ambilkan dari Kitco.com.

Grafik pertama diatas menunjukkan bahwa dalam dua bulan terakhir harga emas menunjukkan kecenderungan menurun. Secara teknis ini diindikasikan oleh apa yang disebut gerakan Lower Highs atau titik-titik tertinggi yang menurun.

Grafik kedua menunjukkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir harga emas berkecenderungan meningkat. Secara teknis ini diindikasikan oleh gerakan Higher Highs (titik titik tertinggi yang semakin tinggi) dan kemudian juga dikuatkan Higher Lows (titik titik terendah yang semakin tinggi).

Meskipun kedua grafik kelihatan bertentangan satu sama lain, tetapi keduanya adalah benar. Yang pertama kondisi jangka pendek, sedangkan yang kedua adalah kondisi jangka panjang.

Nah bila grafik pertama (jangka pendek) yang lebih menjadi fokus pertimbangan Anda ketika mengambil keputusan membeli/menjual Dinar atau emas Anda – maka kemungkinan Anda termasuk kategori Trader. Sebaliknya bila grafik kedua yang menjadi pendorong utama keputusan Anda untuk menjual/membeli Dinar – maka kemungkinan besar Anda adalah seorang Investor.

Karena keduanya juga ada di pasar Dinar/Emas, maka GeraiDinar melayani keduanya dengan menyajikan grafik-grafik jangka pendek mulai dari harian, mingguan maupun bulanan sampai grafik jangka panjang tahunan dan sepuluh tahunan.

Dengan tersedianya grafik-grafik yang insyallah selalu ter-up-dated tersebut, Anda akan memiliki informasi yang cukup baik jangka pendek maupun jangka panjang – sebelum Anda mengambil keputusan jual atau beli Dinar/emas.

Berbeda dengan para tenaga penjualan pada umumnya yang selalu mendorong (calon) pembeli untuk secepatnya memutuskan untuk membeli (close deal) ; kami selalu ingin mendorong untuk Anda memahami lebih dahulu segala sesuatu yang terkait produk Dinar/emas yang (akan) Anda beli sebelum Anda memutuskan untuk membeli. Bahkan kami tidak menganjurkan Anda membeli Dinar atau emas ketika Anda masih ragu. Wa Allahu A’lam.

Last Updated on Monday, 01 February 2010 06:53

Copyright © 2010 Gerai Dinar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.


Read more...

Sabtu, 23 Januari 2010

HIPERINFLASI di INDONESIA Tahun 1963


HIPERINFLASI tetap tidak dapat dihindari akibat MONEY CREATION yang terus menerus, sehingga pada tanggal 13 Desember 1965 pemerintah melakukan pemotongan nilai uang dari 1000 rupiah menjadi 1 rupiah. Kebijakan ini memberikan pukulan besar bagi perbankan nasional, terutama yang telah menyetor modal tambahan karena tergerus drastis dalam sekejab. Para nasabah perbankan juga gigit jari akibat nilai dana simpanannya juga menciut 1/1000. Segala usaha pemotongan nilai uang ini ternyata tidak berhasil meredam inflasi, dan harga tetap naik membumbung tinggi maka terjadilah HIPERINFLASI.

Ada yang mempertanyakan mengapa ekonomi terpuruk hanya karena nilai mata uang yang berubah? Itulah masalahnya karena banyak uang beredar terlalu besar akibatnya menurunkan nilai mata uang itu sendiri. Tetapi lain bagi pemilik emas, harganya masih tetap stabil, ketika rupiah terpuruk dari 1 USD menjadi 20.000 rupiah, maka harga emas akan semakin membumbung tinggi , jika melakukan jual beli didalam negeri. Silahkan anda renungkan……bagaimana kekuatan emas ini….saat itu….saat HIPERINFLASI terjadi.

Ditulis oleh logammulia di/pada November 12, 2008

Pada tahun 1963 Gubernur bank sentral ditetapkan sebagai sebutan Menteri urusan bank sentral, pada waktu itu segala urusan kebijakan moneter ditetapkan oleh Menteri urusan bank sentral dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Waktu itu aksi-aksi militer guna memadamkan pemberontakan didaerah makin menggerogoti anggaran pemerintah, diperbesar lagi adanya propaganda politik misalnya, pemberontakan Irian barat, konfrontasi dengan Malaysia, pembangunan proyek2 mercusuar dan lain sebagainya, yang akibatnya menimbulakn defisit bagi negara semakin parah. Defisit negara yang semula pada tahun 1955 sebesar 14% membengkak menjadi 175%. Sehingga untuk menutupinya pemerintah melakukan MONEY CREATION yang mengakibatkan inflasi makin tinggi.

Tingginya laju inflasi ini mnegikis tingkat suku bunga riil para deposan, bahkan menjadi negatif. Akibatnya banyak bank yang menggunakan uang nasabah dimasukkan ke institusi luar yang returnnya lebih tinggi termasuk perdagangan komoditas yang untungnya jauh lebih besar. Sehingga BI memberi aturan tegas bagi bank2 di Indonesi agar uang tidak lari keluar guna menjaga likuiditas dalam negeri. Sifatnya adalah membatasi ruang gerak dan peningkatan permodalan. Pemerintah memberikan aturan bahwa seluruh saldo bank2 swasta harus dipindahkan ke rekening bank2 pemerintah. Untuk itu pemerintah mengharuskan bank2 swasta menambah jumlah modal sebesar 25 JUTA rupiah.

Namun HIPERINFLASI tetap tidak dapat dihindari akibat MONEY CREATION yang terus menerus, sehingga pada tanggal 13 Desember 1965 pemerintah melakukan pemotongan nilai uang dari 1000 rupiah menjadi 1 rupiah. Kebijakan ini memberikan pukulan besar bagi perbankan nasional, terutama yang telah menyetor modal tambahan karena tergerus drastis dalam sekejab. Para nasabah perbankan juga gigit jari akibat nilai dana simpanannya juga menciut 1/1000. Segala usaha pemotongan nilai uang ini ternyata tidak berhasil meredam inflasi, dan harga tetap naik membumbung tinggi maka terjadilah HIPERINFLASI.

Perlu diketahui bahwa gejala HIPERINFLASI ini dulu juga dimulai dengan menguatnya nilai tukar USD SEPERTI SEKARANG YANG TERJADI. Dimana USD menguat takterkendali, padahal RESESI EKONOMI terjadi di negara yang mengeluarkan uang USD tersebut. Waktu itu Indonesia amat bergantung pada IMPORT sehingga bahan2 baku dan baran di Indonesia meningkat tak terkendali, suku bunga bank meroket 90% guna mengurangi likuiditas yang terlalu besar beredar di masyarakat. Dunia usaha macet, banyak penganguran dimana-mana, GDP minus, banyak orang frustasi.

Ada yang mempertanyakan mengapa ekonomi terpuruk hanya karena nilai mata uang yang berubah? Itulah masalahnya karena banyak uang beredar terlalu besar akibatnya menurunkan nilai mata uang itu sendiri. Tetapi lain bagi pemilik emas, harganya masih tetap stabil, ketika rupiah terpuruk dari 1 USD menjadi 20.000 rupiah, maka harga emas akan semakin membumbung tinggi , jika melakukan jual beli didalam negeri. Silahkan anda renungkan……bagaimana kekuatan emas ini….saat itu….saat HIPERINFLASI terjadi.


Read more...

Cara Obama Hadapi Keresahan AS atas Dana Talangan Bank


"Kita harus menyelamatkan sistem keuangan yang bisa saja menjadi lebih buruk. Kita harus menempuh langkah tersebut awal tahun ini guna menstabilkan kondisi ekonomi," jelas Obama dalam wawancaranya dengan ABC News.

Kamis, 21 Januari 2010 | 16:36 WIB
AFP
Barack Obama

WASHINGTON, KOMPAS.com - Presiden Barack Obama mengakui terdapat keresahan masyarakat di AS sehubungan dengan dana talangan bank. Namun, Obama meminta masyarat AS harus optimistis terhadap prospek ekonomi di AS tahun ini.

"Kita harus menyelamatkan sistem keuangan yang bisa saja menjadi lebih buruk. Kita harus menempuh langkah tersebut awal tahun ini guna menstabilkan kondisi ekonomi," jelas Obama dalam wawancaranya dengan ABC News.

"Dan saya senang melihat ekonomi yang kembali bertumbuh saat ini. AS dihadapkan dengan kondisi ekonomi yang lebih baik tahun ini," tutur Obama. "Namun, hal ini belum dapat meredam rasa amarah dan frustasi masyarakat AS."

Seorang pejabat senior di Washington menerangkan rencana Obama untuk memohon dukungan wewenang lebih tinggi bagi Pemerintah AS dalam membatasi kemampuan institusi keuangan besar untuk terlibat transaksi yang berisiko besar. Dewan Perwakilan Rakyat AS telah menyetujui pembatasan transaksi tersebut dan Senat sedang menyusun regulasi perbankan baru untuk menyikapi masalah ini.

Read more...

Rabu, 13 Januari 2010

Historic and Current Hyperinflation From Across the Globe ....



Angola (1991-1999) ;Argentina (1975-1991) ;Austria (1921-1922)

Belarus (1994-2002) ;Bolivia (1984-1986) ;Brazil (1986-1994) ;Bosnia-Herzegovina (1993)

Chile (1971-1973) ;China (1939-1950)

Free City of Danzig (1923) ;Ecuador (2000);England ;Greece (1944-1953)

France (1789-1797) ; Georgia (1995) ;Germany (1923-1924, 1945-1948)

Greece (1944-1953) ; Hungary (1922-1924, 1944-1946)

Israel (1979-1985) ; Japan (1944-1948); Krajina (1993) ; Madagascar (2004)

Mexico (2004) ; Mongolian Empire (13th and 14th Century AD) ; Nicaragua (1987-1990)

Persian Empire (1294) ;Peru (1984-1990) ;Poland (1922-1924, 1990-1993)

Romania (2000-2005) ; Ancient Rome ; Russia (1921-1922, 1992-1994)

Taiwan (late-1940's) ; Turkey (1990's) ; Ukraine (1993-1995) ; Yap (late 1800's)

Yugoslavia (1989-1994) ; Zaire (1989-1996) ; Zimbabwe (1999 - present)

Seberapa besar hiperinflasi yang terjadi di negara-negara tersebut di atas?
KLIK di SINI....


Sejarah terus berulang .....


Hyperinflasi menyebabkan nilai uang kertas menjadi tidak berharga....
Saat ini masih bisa terasakan kejadian Zimbabwe...



Zimbabwe FAQ – why the hyperinflation? how do they fix it?


Why is Zimbabwe currently experiencing hyperinflation?

Zimbabwe is currently experiencing an inflation rate of over 7600% per annum. The crisis started in 2000 when the Zimbabwean government effectively destroyed their agricultural industry by displacing farmers from their lands.

Zimbabwe’s economy immediately went into recession and inflation began to rise.

So what did the Zimbabwean government do to try and correct this problem?

They printed more currency.

Why did they do that?

They had salaries to pay, projects to finance, things to buy. Just like everyone else they were suddenly faced with the crisis of having to pay much more for things, and they didn’t have enough, so they printed more money to cover it.

Is printing money a problem? Don’t governments do that all the time?

The reserve bank of a country prints currency. Current economic theory holds that an independent reserve bank is superior to a state owned bank. Independence means that they set monetary policy (without political interference) and they decide how much currency to print.

A prudent reserve bank will take care not to grow the money supply (physical currency) at a rate above the CPI inflation rate.

Zimbabwe’s Reserve Bank is state owned and the Governor, Dr Gideon Gono, has been ordered by Mugabe (on an ongoing basis over the years since 2000) to print amounts of currency that grow the money supply at a rate well over Zimbabwe’s inflation rate. Mugabe has in fact stated recently (in July 2007) that Zimbabwe will continue this practice of printing more currency as and when required.

This practice has led to hyperinflation.

How does printing more money cause hyperinflation?

Whenever money supply is increased (without a corresponding increase in the overall economy), the currency is debased. In other words, it loses value. So the cost of goods rise to counter this loss of value. If the supply of money increases above the inflation rate, the rate of inflation increases too.

Zimbabwe has been printing trillions of additional Zim dollars at a time when their economy has actually been contracting (quite rapidly). The punitive regulatory measures that Mugabe has imposed on traders (ordering that they fix their prices) has served only to increase the rate at which Zimbabwe’s economy contracts. So you have an ever increasing amount of currency chasing an ever shrinking amount of goods.

Why don’t they simply stop printing money?

If they do that, they won’t be able to pay government workers’ salaries which were recently hiked by 300% (which was an insufficient increase). They’ll default on all the things they have to pay for and they don’t want to deal with that scenario. They prefer to inflate their way out of their crisis.

Zimbabwe will immediately enter a deep depression if currency growth halts. Arguably, they are in one already, but they can still buy things with Zim dollars. If money supply growth is frozen, people simply won’t have enough currency to buy anything anymore.

If people cannot afford to buy anything, won’t prices come down?

Yes, but there are other problems. Mugabe has regulated the economy by barring businesses from raising their prices and in fact ordered them (in July 2007) to reduce prices by 50%, in an attempt to rein in inflation.

It is a losing proposition to businesses, so their alternatives have been to either defy Mugabe or to cease trading. Those who choose to defy him, are arrested. So damage is being done to whole business sectors and their supply chains. Whole industries will be wiped out if they are not free to set prices rationally.

That is the greater danger, that when the time comes that rational economic policies are applied, there will be no businesses left to respond. Confidence would have been completely lost and it will be difficult to lure the major chains back. Frankly, I don’t see a ZANU-PF government ever enjoying confidence again. Unless the people of Zimbabwe elect a new party to govern, Zimbabwe will not recover. They will remain a crippled country.

So what is the best strategy forward for Zimbabwe?

That’s the trillion dollar question. However, we do have Bolivia as an example. In 1985, they eliminated hyperinflation within a few months by enacting the following measures:

* they linked their currency to a stable foreign currency (in their case, the United States dollar)
* they froze government spending
* they stopped printing currency
* they lifted all price controls
* they deregulated their economy

Zimbabwe will most likely have to do all that and more. They could link their currency to the South African Rand like Namibia has done. The Namibian dollar is linked 1:1 to the Rand.

Zimbabwe also has to rebuild their agricultural sector.

Sources:
Bolivia
TIMELINE: Chronology of Zimbabwe’s economic crisis
A non-currency country
The World’s Greatest Unreported Hyperinflation
Read more...

Zimbabwe Hyperinflation : Pemotongan Nilai Uang Kertas oleh Hantu Inflasi .....

Soon, very much like Zimbabwe, 3 eggs will cost US$ 100 billion

. All of us will no doubt be Trillionaires. But we probably cannot afford breakfast. All our hundreds of thousand of dollars of savings, will not buy us chicken shit ! Hyper-inflation destroys savings !
So what’s not to like about Gold ?



How to Destroy a Country .....


by Tom Palmer on July 8, 2008
When you create this

and this.....?

and get this....

I saw something similar in Belgrade during the hyper inflation they experienced under Milosevic. Mounds and mounds of soggy paper notes in “wishing wells,” as people tossed in big handfuls of nearly worthless notes of high denomination. But even that hyper inflation has been greatly surpassed by the astonishing hyper inflation in Zimbabwe, which seems to have attained the status of all-time record for currency depreciation through inflation. [Note correction from Slavisa in the notes.]

Note the expiration dates on the new “Special Agro-Cheques”: “Pay to the bearer on demand twenty five billion dollars on or before 31st December 2008″
Read more...

Senin, 11 Januari 2010

Banjir Dollar 2010 : Apa Dampaknya Pada Harga Emas Dunia…?

Melonjaknya jumlah Uang US$ di pasar tahun ini, yang kemungkinan besarnya jika tidak diikuti oleh kenikan out put sektor riil yang sepadan – akan berdampak pada naiknya harga barang dan jasa secara significant – dalam satuan mata uang US$.


Harga emas internasional selama ini masih dibeli (dinilai) dengan US$; maka harga emas dalam US$ juga akan mengalami kenaikan yang siginificant sepanjang tahun ini sejalan dengan kenaikan harga-harga barang dan jasa lainnya
.

Written by Muhaimin Iqbal
Monday, 11 January 2010 08:19
Equity of Exchange

Hari ini ada tulisan menarik di harian Republika (11/01/10) dengan judul Meraba Likuiditas 2010. Dalam tulisan ini antara lain dikutip pernyataan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani beberapa waktu lalu yang menyatakan bahwa tahun 2010 akan diwarnai ‘banjir’ Dollar AS dalam jumlah yang sangat besar, mencapai US$ 2.4 trilyun !.

Saya berasumsi bahwa sebagai Menteri Keuangan, Ibu Menteri tentu tidak sembarang mengeluarkan pernyataan. Pernyataannya sudah seharusnya didasari oleh pengetahuan yang sangat dalam dan di support oleh team yang juga sangat menguasai bidangnya. Maka saya dalam tulisan ini menganggap pernyataan tersebut sebagai prediksi yang peluang kebenarannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan peluang kelirunya.

Dengan asumsi bahwa benar tahun 2010 Dollar AS akan membanjiri pasar internasional, lantas apa dampak ‘banjir’ Dollar tersebut pada harga emas dunia ?. Untuk menjawab pertanyaan ini saya menggunakan Teori Kwantitas yang terkenal dengan equation of exchange-nya seperti dalam rumus diatas.

M adalah jumlah uang yang beredar, berdasarkan pernyataan Ibu Menteri tersebut diatas, maka M inilah yang akan melonjak tinggi di tahun ini 2010. V adalah kecepatan uang berputar, para ahli secara umum meragukan akan ada perubahan yang berarti karena ekonomi secara global sesungguhnya belum benar-benar pulih dari krisis sejak tahun lalu.

Karena V yang tidak berputar lebih cepat dari sebelumnya, out put sektor riil berupa barang dan jasa (Q) juga tidak akan banyak berubah. Bila dalam satu persamaan, sisi kiri melonjak tajam – maka sisi kanan juga akan mengikuti. Karena satu unsur di sisi kanan akan relatif tetap (Q), maka tinggal satu unsur lagi disisi kanan yang bisa mengimbangi kenaikan M di sisi kiri. Unsur ini adalah P atau tingkat harga barang-barang dan jasa secara umum.

Jadi melonjaknya jumlah Uang US$ di pasar tahun ini, yang kemungkinan besarnya tidak diikuti oleh kenikan out put sektor riil yang sepadan – akan berdampak pada naiknya harga barang dan jasa secara significant – dalam satuan mata uang US$.

Harga emas internasional selama ini masih dibeli (dinilai) dengan US$; maka harga emas dalam US$ juga akan mengalami kenaikan yang siginificant sepanjang tahun ini sejalan dengan kenaikan harga-harga barang dan jasa lainnya.

Harga emas pada pembukaan di pasar Sydney pagi ini yang melonjak sampai angka US$ 1,156.90/Oz bisa jadi adalah bagian dari symptoms ‘banjir’ Dollar AS tersebut diatas. Wa Allahu A’lam.

Copyright © 2010 Gerai Dinar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Read more...

Kamis, 07 Januari 2010

Cadangan Devisa Sulit Capai US$ 100 Miliar


Menggelembungnya cadangan devisa bukan disebabkan oleh aspek fundamental ekonomi, seperti ekspor. Menurut para ekonom, besar kecilnya cadangan devisa saat ini lebih banyak ditentukan oleh aliran duit panas milik investor asing di instrumen keuangan, yang biasa disebut hot money. Sumber cadangan devisa lainnya adalah utang luar negeri, baik milik pemerintah maupun milik swasta

JAKARTA. Para ekonom menilai, tidak realistis apabila pemerintah mengharapkan nilai cadangan devisa Indonesia mencapai US$ 100 miliar. Menurut para ekonom, besar kecilnya cadangan devisa saat ini lebih banyak ditentukan oleh aliran duit panas milik investor asing di instrumen keuangan, yang biasa disebut hot money.

Sumber cadangan devisa lainnya adalah utang luar negeri, baik milik pemerintah maupun milik swasta. Jadi, menggelembungnya cadangan devisa bukan disebabkan oleh aspek fundamental ekonomi, seperti ekspor.

Karena terlalu bergantung pada arus modal jangka pendek, cadangan devisa rawan tertekan jika investor tiba-tiba menarik uangnya ke luar. Jadi, besar kecilnya cadangan devisa sangat ikut dipengaruhi kondisi politik dan ekonomi.

Penilaian ini merupakan tanggapan ekonom atas pidato Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia tahun 2010. Dalam acara tersebut, SBY menyatakan keinginannya agar cadangan devisa ditingkatkan jadi US$ 100 miliar.

Presiden menilai, dengan indikator ekonomi yang kian membaik, cadangan devisa bisa diangkat hingga angka tersebut. "Cadangan devisa kita saat ini sekitar US$ 65 miliar, seharusnya bisa
US$ 100 miliar," kata SBY.

Aviliani, ekonom INDEF, mengingatkan, pemilik hot money sangat sensitif terhadap situasi politik dan ekonomi. Bila suhu politik mulai panas, pemilik uang dari negeri lain bakal mencairkan kembali aset mereka. "Cadangan devisa bakal tertekan lagi," ujarnya.

Pengamat ekonomi dari Pusat Studi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada Revrisond Baswir juga menilai, target cadangan devisa senilai US$ 100 miliar terlalu muluk. Revrisond mengingatkan, ekspor Indonesia bisa terganggu oleh pelaksanaan kesepakatan Perdagangan Bebas ASEAN dan China yang berlaku mulai 1 Januari 2010 lalu.

Revrisond menyarankan, bila serius mau menambah cadangan devisa, maka pemerintah harus menghilangkan ketergantungan terhadap hot money, dan utang luar negeri, serta memaksimalkan pendapatan ekspor dari produk yang bernilai tinggi.

Tapi, kalaupun itu terlaksana, Revrisond memperkirakan cadangan devisa tetap tak bisa mencapai US$ 100 miliar, paling tinggi hanya US$ 75 miliar-US$ 80 miliar.

Ruisa Khoiriyah, Roy Franedya KONTAN

Read more...

BI Defisit : 2009 Rp 1 Triliun ; 2010, Defisit Anggaran BI Rp 22,41 Triliun

Tahun 2010 ini, BI memperkirakan neracanya bisa mencatat defisit hingga mencapai Rp 22,18 triliun, membengkak berlipat-lipat dari nilai defisit tahun lalu. Besarnya defisit tersebut masih disebabkan oleh mahalnya ongkos moneter BI.



Rabu, 06 Januari 2010 | 08:09

ANGGARAN BI 2009


JAKARTA. Anggaran Bank Indonesia (BI) tahun 2009 mengalami defisit sebesar Rp 1 triliun. Nilai defisit ini sedikit lebih kecil dari angka yang diproyeksikan sebelumnya.

"Posisi neraca akhir tahun kurang lebih sebesar Rp 1 triliun seperti proyeksi beberapa bulan terakhir," ungkap Deputi Gubernur Bank Indonesia Ardhayadi Mitroatmodjo kepada KONTAN, pekan lalu.

Dalam proyeksi di awal tahun 2009 lalu, BI memperkirakan tahun 2009 anggaran tahunan BI (ATBI) akan mencatat defisit sebesar Rp 1,905 triliun. Defisit sebesar itu banyak disebabkan oleh membengkaknya ongkos operasi moneter BI yang tercantum dalam anggaran kebijakan. Dalam ATBI, anggaran kebijakan BI yang meliputi operasi moneter untuk menjaga nilai tukar Rupiah dan inflasi sepanjang tahun ini mencapai Rp 18,33 triliun. Sedangkan anggaran operasional diperkirakan defisit Rp 16,42 triliun.

Namun, berapa persisnya defisit dari masing-masing pos anggaran tersebut, Ardhayadi masih belum bisa mengungkap. Yang sudah pasti, nilai defisit total dari neraca BI turun tipis menjadi Rp 1 triliun.

Biaya terbesar BI adalah ongkos kebijakan untuk operasi moneter termasuk di antaranya adalah pembayaran bunga dari instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Sepanjang tahun 2009 ini, duit parkir di instrumen tersebut memang cukup tinggi. Tak hanya asing yang menempatkan duitnya di instrumen moneter, kalangan perbankan juga semakin rajin menempatkan likuiditas berlebihnya di SBI. Bunga SBI saat ini sekitar 6,5%. Dalam catatan Ardhayadi, nilai SBI sampai awal November lalu sudah mencapai Rp 280 triliun.

Tahun 2010 ini, BI memperkirakan neracanya bisa mencatat defisit hingga mencapai Rp 22,18 triliun, membengkak berlipat-lipat dari nilai defisit tahun lalu. Besarnya defisit tersebut masih disebabkan oleh mahalnya ongkos moneter BI. BI mengaku masih terus mencari upaya untuk menekan biaya SBI dengan langkah pengurangan SBI. Saat ini BI masih terus melakukan dialog dengan Departemen Keuangan untuk mengganti SBI dengan SBN sebagai instrumen moneter.


2010, Defisit Anggaran BI Rp 22,41 Triliun



JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperkirakan, pada 2010, angka defisit anggaran BI akan lebih besar di tahun ini. Hal itu akan terjadi, jika di tahun ini defisit anggaran BI benar-benar akan mencapai Rp 1,905 triliun.

"Tahun depan kami akan hadapi tantangan yang jauh lebih besar. Sehingga, perkiraan defisit anggaran tahunan BI sebesar Rp 22, 41 triliun," kata Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution dalam Rapat Kerja dengan Komisi 11 DPR-RI di Gedung DPR, Senin (16/11).

Defisit yang luar biasa besar itu dipicu oleh defisit anggaran kebijakan di tahun depan sebesar Rp 37,40 triliun. Perlu diketahui, anggaran kebijakan BI ini mencakup biaya operasi moneter untuk menjaga stabilitas inflasi dan Rupiah.

Darmin menjelaskan, menjaga stabilitas moneter merupakan tugas utama bank sentral. Dus, berapapun biaya yang dibutuhkan untuk keperluan itu tidak bisa ditawar-tawar lagi. "Tidak boleh lebih, tidak boleh kurang," katanya.

Sejatinya, instrumen BI untuk mengendalikan moneter sejauh ini adalah Sertifikat Bank Indonesia (SBI). "Ini adalah instrumen moneter yang utama untuk menarik uang dari dan ke masyarakat," jelas Darmin.

Penempatan dana di SBI baik oleh perbankan maupun investor asing akan diganjar BI dengan bunga. Lazimnya, bunga SBI sebesar suku bunga acuan alias BI rate atau sedikit lebih tinggi. Bunga dari SBI yang sangat besar setiap tahunnya itulah, yang harus ditanggung oleh BI menjadi biaya operasi moneter.


Ruisa Khoiriyah

Ruisa Khoiriyah - Harian KONTAN

Read more...

Minggu, 06 Desember 2009

Noise Dan Signal Dalam Pasar Emas…

Di pasar emas (juga pasar modal, pasar uang dlsb); Noise adalah issue-issue sesaat yang berpengaruh pada fluktuasi harga emas.
Signal yang sangat jelas bisa dilihat pada harga emas dunia dari rentang waktu Januari 2000 sampai awal Desember 2009 ini atau rentang waktu 10 tahun terakhir, dimana harga emas dunia dalam US$ naik menjadi lebih dari 3 kali lipatnya (323 %); maka bila Anda investor emas atau Dinar yang berorientasi jangka panjang – kemungkinan besar Anda telah menangkap dan memanfaatkan Signal yang sangat jelas ini

.

Written by Muhaimin Iqbal
Sunday, 06 December 2009 06:24
Noise and Signal

Saya sering mendapat pertanyaan terutama dari klien-klien yang baru atau calon klien tentang naik turunnya harga emas dunia; pertanyaan ini lebih sering muncul pada saat terjadi perubahan drastik – baik itu harga naik ataupun harga turun. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menjawab secara umum – mayoritas dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Dalam pasar mata uang, pasar modal, komoditi dan tak terkecuali pasar emas ada istilah Noise And Signal yang berperan dalam pergerakan harga. Seperti ketika Anda mencari gelombang radio, ketika gelombang yang Anda putar tidak terlalu pas, stasiun terlalu lemah atau terlalu jauh – ada suara kresek-kresek yang tidak jelas – itulah Noise. Sementara bila Anda bisa menangkap suara yang sangat jelas, maka itulah Signal yang sesungguhnya.

Di pasar emas (juga pasar modal, pasar uang dlsb); Noise adalah issue-issue sesaat yang berpengaruh pada fluktuasi harga emas. Namanya juga issue – bisa benar, bisa juga salah – bahkan bisa juga di rekayasa oleh pihak tertentu. Sifat pengaruhnya jangka pendek, setelah issue atau penyebab jangka pendek tersebut mereda – maka harga emas akan kembali ke trend yang semula.

Contoh issue sesaat yang menjadi Noise di pasar emas secara berulang-ulang adalah (rencana) pelepasan emas IMF yang saya tulis di blog saya satu setengah tahun lalu (7 Mei 2008). Contoh lain adalah jatuhnya harga emas dunia akhir pekan ini setelah Amerika mengeluarkan data pengangguran yang ternyata tidak seburuk yang disangkakan oleh pasar – meskipun data ini juga diragukan oleh banyak pihak.

Bila Noise bisa disebabkan oleh issue sesaat yang tidak harus benar; tidak demikian halnya dengan Signal. Signal disebabkan oleh alasan yang bersifat fundamental dan biasanya berdampak dan teruji dalam jangka panjang. Dalam harga emas dunia yang dihitung dengan uang US$ misalnya; alasan fundamental yang mempengaruhi harga emas dunia antara lain ya nilai uang US$ itu sendiri. Uang US$ sangat dipengaruhi oleh fundamental ekonomi Amerika, maka harga emas dunia dalam US$ sangat dipengaruhi oleh ekonomi Amerika.

Di negara seperti Indonesia harga emas dalam Rupiah; Signal naik turunnya dalam jangka panjang selain tergantung ekonomi Amerika (karena harga emas internasionalnya tetap dalam US$) juga tentu saja sangat tergantung dengan ekonomi Indonesia sendiri , untuk ini lihat tulisan saya tentang Mengenal Gold Dinar Quadrant.

Grafik diatas adalah contoh Noise dan Signal ini; contoh Noise besar saya ambilkan periode antara Maret 2008 s/d November 2008 dimana pada periode tersebut harga emas dunia turun sampai 21 %-nya. Penyebabnya adalah issue-issue penyelamatan krisis ekonomi yang tidak jelas selama periode tersebut disamping juga faktor musiman. Bila Anda investor emas atau Dinar yang baru dan hanya menangkap Noise, maka pastilah Anda pada periode tersebut kecewa dengan penurunan ini.

Untuk contoh Signal yang sangat jelas saya ambilkan harga emas dunia dari rentang waktu Januari 2000 sampai awal Desember 2009 ini atau rentang waktu 10 tahun terakhir, dimana harga emas dunia dalam US$ naik menjadi lebih dari 3 kali lipatnya (323 %); maka bila Anda investor emas atau Dinar yang berorientasi jangka panjang – kemungkinan besar Anda telah menangkap dan memanfaatkan Signal yang sangat jelas ini.

Karena saya tidak pernah menganjurkan Anda untuk berspekulasi dengan harga emas jangka pendek; maka memahami Signal yang mempengaruhi atau menggerakkan harga emas jangka panjang adalah tema sentral dari tulisan-tulisan saya di situs ini. Wa Allahu A’lam.
Last Updated on Sunday, 06 December 2009 06:30

Copyright © 2009 Gerai Dinar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Read more...

Rabu, 02 Desember 2009

Korut Potong 100 Won Jadi 1 Won

Korea Utara pada hari Selasa (1/12) menyebutkan, sanering nilai won sebesar dua digit itu berlaku mulai hari Senin (30/11). Perubahan kebijakan pemerintah komunis Korut di bidang keuangan publik ini merupakan yang pertama dalam 17 tahun terakhir ini.
Pemerintah membatasi jumlah yang ditukar paling banyak 100.000 won per orang.
”Ini sama dengan merampas kekayaan orang dengan kekerasan, mengurangi daya beli mereka secara tajam.



Rabu, 2 Desember 2009 | 06:01 WIB


SEOUL, KOMPAS.com - Pemerintah Korea Utara melakukan sanering atau pemotongan nilai mata uang won secara tajam, dari 100 won menjadi 1 won. Langkah itu untuk menekan laju inflasi dan mengekang aktivitas pasar gelap yang telah memperburuk kondisi ekonomi nasional.

Laporan media massa di Korea Utara pada hari Selasa (1/12) menyebutkan, sanering nilai won sebesar dua digit itu berlaku mulai hari Senin (30/11). Perubahan kebijakan pemerintah komunis Korut di bidang keuangan publik ini merupakan yang pertama dalam 17 tahun terakhir ini.

Pejabat perdagangan luar negeri Korut, seperti dikuti kantor berita Yonhap di Seoul, Korea Selatan, menegaskan, pemotongan nilai won memicu rush. Pejabat di Seoul meragukan laporan itu.

Warga Pyongyang pun berbondong-bondong menyerbu pasar gelap guna menukarkan won dengan yuan China dan dollar AS. ”Penduduk Pyongyang terkejut dan panik karena reformasi mata uang itu,” kata para pedagang valas di pasar gelap.

Agen kantor berita China, Xinhua, di Pyongyang melaporkan, Deplu Korut sudah memberi tahu semua kedutaan besar di sana bahwa uang kertas lama, surat berharga, termasuk cek masih bisa ditukarkan hingga hari Minggu. Toko-toko milik negara telah ditutup untuk mengakomodasi perubahan itu. Para pramuniaga mengatakan, toko akan buka kembali sepekan lagi setelah harga baru ditetapkan oleh pemerintah.

”Rasio konversi telah ditetapkan 100 menjadi 1. Oleh karena itu, setiap 1.000 won kini ditukar menjadi 10 won dan 100 won menjadi 1 won,” ungkap seorang pejabat seperti dikutip Yonhap. Dia pun melanjutkan, ”Pasar-pasar gelap di Pyongyang pun kacau-balau karena penduduk bergegas mengubah mata uang lokal ke yuan China dan dollar AS.”

Xinhua juga melaporkan Kementerian Luar Negeri Korut tidak memberikan alasan-alasan akan perubahan tersebut. Adapun Badan Intelijen dan Kementerian Unifikasi Korsel di Seoul mengatakan, pemerintah telah menerima laporan tentang pemotongan nilai won Korut itu, tetapi tidak bisa mendapat konfirmasi soal itu dari Pyongyang.

”Dalam kasus-kasus terdahulu, Korut biasanya mengambil satu keputusan berdasarkan arahan anggota kabinet dari dewan rakyat pusat, yang kemudian dirilis media resmi pada hari itu,” kata juru bicara Kementerian Unifikasi, Chun Hae Sung.

Surat kabar Chosun Ilbo di Pyongyang melaporkan, sanering merupakan strategi Kim Jong Il mengendalikan rezimnya. Sebenarnya, 24 juta penduduk Korut sedang bersiap-siap mendesak Kim untuk segera menyerahkan kekuasaan kepada salah seorang dari tiga anak laki-lakinya.

Menegaskan peran negara

Park Hyeong-Jung, peneliti senior pada Institut Unifikasi Nasional Seoul, mengatakan, sanering dilakukan untuk menegaskan peran negara dalam mengendalikan inflasi dan aktivitas pasar gelap. Pemerintah membatasi jumlah yang ditukar paling banyak 100.000 won per orang.

”Ini sama dengan merampas kekayaan orang dengan kekerasan, mengurangi daya beli mereka secara tajam. Langkah yang ekstrem ini bertujuan melemahkan fungsi pasar bebas yang sedang berkembang di sana,” katanya.

Mata uang Korut, yang disebut won sama seperti mata uang Korsel, secara resmi telah digunakan untuk membendung arus mata uang asing. Namun, nilai aktualnya yang diakui di pasar gelap malah merosot tajam.

Pemerintah Korut secara efektif telah memanggil pulang semua pejabat perdagangan untuk mengawal peredaran mata uang asing. Peredaran itu pun dibatasi, kecuali sebagian dari mata uang asing itu bisa ”disumbangkan” kepada pemerintah pusat. Praktik ini sebetulnya adalah sinyal dari buruknya sistem moneter dan keuangan modern.

Kasus salah urus ekonomi bertahun-tahun, bencana alam, runtuhnya Uni Soviet, dan sanksi internasional atas ambisi nuklir Pyongyang telah mengguncang ekonomi Korut. Utusan khusus AS untuk Korut, Stephen Bosworth, mengunjungi Pyongyang awal pekan depan. Dia akan membujuk Korut agar meninggalkan program nuklirnya.(REUTERS/AFP/AP/CAL)
Read more...

Rabu, 18 November 2009

Gold Reserve : Mereka Mungkin Tahu Yang Dilakukannya, Sedangkan Kita…?

Lihat grafik disamping buktinya, Ton 10 negara dalam hal cadangan emas mayoritas adalah negara-negara barat yang suka mengkampanyekan bahwa emas adalah hal yang jelek untuk uang maupun untuk investasi. Negara yang sadar bahwa mereka selama ini ‘tertipu’ dengan pencitraan buruk emas – pun segera mengejarnya; hal ini misalnya dilakukan oleh China beberapa tahun terakhir dan India baru-baru ini


"Coin Emas & Emas Lantakan Produk USA"


Written by Muhaimin Iqbal
Wednesday, 18 November 2009 06:56
Gold Reserve

Saya punya dua ponakan laki-laki yang usianya hampir sebaya 3 dan 4 tahun yang lagi lucu-lucunya. Tidak hanya lucu, anak-anak ini rupanya juga cerdas. Karena selisih umur yang sangat dekat ini, mereka suka sekali berantem berebut mainan.

Rupanya si kecil yang 3 tahun mempunyai kecerdasan yang melebihi usianya; untuk mengelabui kakaknya yang lebih tua – agar tidak merebut mainannya – dengan idenya sendiri si kecil suka berkata “jelek…jelek…jelek…” pada mainan yang lagi dimainkannya dengan asyik. Maka si kakak menduga bahwa mainan tersebut memang jelek dan tidak tertarik untuk merebutnya.

Dari memahami permainan ponakan saya tersebut, saya tersentak dengan data cadangan emas negara-negara besar dunia. Rupanya ‘permainan’ inilah yang dimainkan negara-negara besar Dunia terhadap emas. Mereka melalui jalur IMF, melarang penggunaan emas sebagai referensi mata uang dan bahkan mengawasi perdagangannya secara ketat. Mereka juga rajin ‘mencitrakan’ emas sebagai hal yang buruk.

Saking besar pengaruh mereka ini, sampai-sampai otoritas pasar modal kita pun sempat beberapa tahun lalu ikut-ikutan memojokkan investasi emas dengan membuat citra buruk tentang investasi emas. Dalam iklannya mereka menggambarkan seorang ibu yang serakah dengan tumpukan emas di gelangnya kemudian nyengir memamerkan gigi emasnya pula.

Nampaknya negara-negara besar dunia, sedang mempraktekkan ilmu yang sama dengan yang dimiliki ponakan saya yang 3 tahun tersebut diatas. Mereka senang mengatakan “jelek…jelek…jelek” pada investasi emas. Padahal mereka sendiri asyik mengamankan cadangan kekayaannya dalam bentuk emas.

Lihat grafik diatas buktinya, Ton 10 negara dalam hal cadangan emas mayoritas adalah negara-negara barat yang suka mengkampanyekan bahwa emas adalah hal yang jelek untuk uang maupun untuk investasi. Negara yang sadar bahwa mereka selama ini ‘tertipu’ dengan pencitraan buruk emas – pun segera mengejarnya; hal ini misalnya dilakukan oleh China beberapa tahun terakhir dan India baru-baru ini.
Bukan hanya dari sisi kwantitif yang besar - karena rata-rata mereka memang negara besar, secara persentase terhadap total reserve mereka – cadangan emas mereka juga sangat besar. Amerika mencapai 77%, Perancis mendekati 71 %, Jerman mendekati 70 % , Italy mendekati 67% dan Belanda mendekati 60%. Bila di rata-rata dari top 10 tersebut, maka cadangan emas rata-rata mereka adalah 38.5 % dari total reserve-nya.

Lantas dimana kita dan negara-negara dengan penduduk mayoritas Islam lainnya ?; meskipun bagian dari syariat kita membutuhkan uang emas (Dinar) misalnya untuk menentukan nishab zakat, hukum potong tangan, uang darah (diyat) dlsb.; tidak satu-pun negara-negara yang penduduknya mayoritas Muslim seperti Indonesia memiliki cadangan emas yang memadai.

Indonesia misalnya; di bank sentral kita – Bank Indonesia – kita hanya memiliki cadangan emas sebesar 2,347,046.31 troy ounce atau sekitar 73 ton per akhir tahun lalu sesuai data BI di laporan tahunan tahun buku 2008. Dengan tingkat harga saat ini US$ 1,140/oz ; maka cadangan emas kita ini hanya bernilai US$ 2.68 Milyar, atau sekitar 4.15% dari cadangan devisa terakhir yang berada pada kisaran 64.5 milyar. Trend cadangan emas kita di BI juga bukannya naik, malah turun.

Setelah seperempat abad bertengger pada posisi di kisaran 96 ton, sekarang tinggal 73 ton atau turun 24 % dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini. Kemana perginya emas kita tersebut ? menurut laporan BI tahun buku 2006, sebagian emas kita tersebut di lego untuk mempercepat pelunasan hutang kita ke IMF !.

Jadi terserah kita sekarang….; ponakan saya yang usia 4 tahun saja, kini tidak mempan lagi dikibuli adiknya yang berkata “jelek…jelek…jelek” pada mainannya; masya kita tetap akan membiarkan pasar emas dunia dikuasai mereka yang sambil memojokkan citra emas, mereka mengumpulkannya dari tangan bangsa-bangsa lain yang lalai mengamankan asset riil-nya. Kalau toh otoritas kita tidak mengamankan asset riil bangsa ini, masya kita sebagai pribadi juga tidak mengamankan asset kita sendiri ?. Wa Allahu A’lam.


Last Updated on Wednesday, 18 November 2009 07:08

Copyright © 2009 Gerai Dinar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.


Read more...

Rabu, 21 Oktober 2009

Dengan Syariah Emas, Dunia Akan Bisa 8.7 Kali Lebih Makmur…!


Emas dan perak jumlahnya terbatas dan tidak bisa digelembungkan seperti pada asset-aset diatasnya, maka apa yang akan terjadi ? hukum permintaan dan penawaran yang akan berlaku. Ketika permintaan melebihi penawaran, harga pasti naik

Written by Muhaimin Iqbal
Tuesday, 20 October 2009 07:42
Piramid Terbalik

Dalam sebuah siaran televisi Business News Network (BNN) beberapa hari lalu, Trace Mayer – seorang financial blogger yang cerdas dari Canada memberikan uraian menarik tentang struktur kekayaan di seluruh dunia saat ini. Dia menggambarkan struktur kekayaan ini membentuk piramida terbalik seperti pada ilustrasi disamping.

Paling atas adalah kekayaan ‘paling palsu’ yang menggelembung dalam berbagai bentuk derivatives, nilainya mencapai sekitar US$ 1,600 Trilyun (Seribu Enam Ratus Trilyun US Dollars !). Dibawahnya sedikit lebih baik dari ini adalah berbagai asset dalam bentuk real estate dan non–monetary commodities, jumlahnya hanya sekitar 8 % dari asset yang di gelembungkan tersebut diatas atau sekitar US$ 125 Trilyun.

Yang ketiga adalah hutang yang ada jaminannya dan saham, nilainya hanya US$ 100 Trilyun . Yang keempat adalah uang dalam arti luas dalam bentuk obligasi pemerintah, treasury bills dlsb.; nilainya sebesar kurang lebih US$ 65 Trilyun. Yang kelima adalah uang kertas dalam bentuk fisik seperti US$ Yen , Euro, Rupiah dst.; nilainya hanya sekitar US$ 4 Trilyun.

Yang terakhir adalah kekayaan yang sesungguhnya yaitu berupa emas dan perak yang nilainya dperkirakan hanya sekitar US$ 4 Trilyun, atau hanya 0.25% dari kekayaan yang paling atas (derivatives).

Struktur ini digambarkan sebagai piramida yang terbalik oleh Trace Mayer, untuk mengisyaratkan betapa labilnya ekonomi dunia saat ini. Kekayaan yang paling atas adalah yang paling tidak aman, semakin kebawah semakin aman.

Seperti grafitasi bumi yang menarik benda-benda jatuh kebawah, maka setiap kali pemegang asset merasa tidak nyaman dengan asset-nya - maka dia akan mencari pelarian ke asset yang lebih aman dibawahnya.

Investor yang sudah tidak nyaman dengan derivatives akan pindah ke real estate dan sejenisnya; kemudian tidak nyaman lagi akan pindah ke securitized debt dan stocks, tidak nyaman lagi akan pindah ke obligasi pemerintah dan sejenisnya; tidak nyaman lagi akan memilih memegang uang saja; dan tidak nyaman lagi akhirnya akan berburu emas dan perak.

Karena emas dan perak jumlahnya terbatas dan tidak bisa digelembungkan seperti pada asset-aset diatasnya, maka apa yang akan terjadi ? hukum permintaan dan penawaran yang akan berlaku. Ketika permintaan melebihi penawaran, harga pasti naik.

Lantas dengan emas yang nilainya hanya sekitar US$ 4 trilyun atau 0.25 % dari seluruh asset derivatives dunia; apakah emas akan cukup untuk memutar ekonomi dunia ? jawabannya adalah sangat-sangat cukup !. Berikut perhitungannya :

Total seluruh Gross Domestic Product (GDP) dunia saat ini ‘hanya’ sekitar US$ 55 Trilyun; jadi jelas tidak memerlukan derivates yang nilainya US$ 1,600 Trilyun untuk menghasilkan GDP yang nilainya hanya US$ 55 Trilyun ini. Tetapi emas yang diam atau disimpan saja, nilainya cuma US$ 4 Trilyun, jadi tidak cukup juga untuk menghasilkan GDP yang US$ 55 Trilyun.

Itulah sebabnya dalam Islam, emas tidak boleh ditimbun, tidak boleh digunakan untuk perhiasan laki-laki, tidak boleh untuk tempat makan dan minum – agar dia beredar untuk digunakan sebagai uang. Contoh yang diberikan dalam suatu hadits Rasulullah SAW, perputaran harta yang banyak ini adalah hanya dalam waktu 3 hari.

Jadi emas yang ada di dunia senilai US$ 4 Trilyun, bila berputar sebagai uang dengan kecepatan berputar 3 hari sekali, maka potensi nilai ekonomi yang diputarnya akan mencapai US$ 480 Triyun atau sekitar 8.7 kali dari total GDP seluruh dunia saat ini. !.

Artinya apa ini semua ?; dengan menggunakan emas sebagai uang, kemudian penggunaannya mengikuti tuntunan syariah – maka dunia bisa 8.7 kali lebih makmur dari dunia yang sekarang. Wa Allahu A’lam.

Copyright © 2009 Gerai Dinar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.

Read more...

Selasa, 29 September 2009

Gold & Silver: the Shining Stars

Sep 22 2009 3:39PM
Courtesy of www.adenforecast.com

Gold, silver and gold shares are jumping up. Gold hit a record high this month and all three are in ‘break out’ mode. The time of truth is at hand and it won’t take much more strength to confirm that a stronger phase of the eight year old bull market has begun.

GOLD IS MONEY

We have often talked about gold’s role in the monetary system. For many years it was tossed aside as a barbaric relic and the thinking was that it was old fashioned. Nixon reinforced this in the 1970s when he closed the gold window by taking the U. S. dollar off the gold standard. An energetic economy then became most important.

But in spite of the generally strong U.S. economy and the growing global economies since the 1970s, the dollar has been weakening. Gold has been moving up quietly this decade and your average person or investor is still essentially unaware of its strength, but that will likely soon change.

GOLD: Strong in all currencies…

In today’s world it’s important that gold rise in all currencies. Why? Very simply, it will reconfirm that gold’s strength is powerful and real. We think this is ready to happen.

Looking at Chart 1 (left side), you can see that the gold price has tested the $1000 level twice since March 2008 when it first reached a record high. If gold now stays above $1004, it will clearly be breaking into record high territory and it’ll confirm a stronger phase of the ongoing bull market. You can bet this will attract attention and eventually mainstream investors will jump on board, driving the price much higher.


Interestingly, gold has also formed a head and shoulders technical pattern (see S, H, S). The rule of thumb is, if the NL resistance is broken on the upside, which it was when gold hit a record high, the price could rise the same distance as the size of this formation. In other words, gold could then continue up to near the $1400 level.

We’ll soon see what happens but most interesting is that gold is strong in euro terms as well (see Chart 1, right side). Note that it reached a new bull market high last February when it closed at its 1980 highs. The main point is, if gold can now reach a new record high in both dollars and euros it would be extremely bullish because it would be reaching a record high in the two most widely used currencies in the world.

… AND READY TO FLEX ITS MUSCLES

For now, what we call a “C” rise is ready to go. C rises are recurring, and they’re the best intermediate rises in a bull market when gold reaches new highs (see top of Chart 2). This is why the current C rise is so important, because it’s the first C rise since the financial meltdown last year.

The gold price is the central bankers’ only real discipline. The Federal Reserve has created more credit and injected the most money into the system this year than any other time in its 95 year history, in order to save the economy from a deflationary collapse. But the Fed’s actions, together with Obama’s spending and the massive stimulus from central banks around the world nearly guarantees that the end result will be inflation.

The economy is recovering at a heavy price. And this month’s gold rise suggests that inflation will eventually prevail. This will be especially true if gold breaks clearly out to new record highs. It will be saying that the government is actively creating inflation. This is also why the current C rise is so important.

Chart 2 shows that gold has the power and the room to rise strongly into record high territory. The leading indicator (B) is poised to complete a strong C rise and the gold price (A) shows that once a record high is sustained, gold could indeed jump up to the $1200 level as its first target. The long-term indicator (C) is also in a special situation that usually precedes a strong rise.

Once gold embarks on a stronger phase of the bull market, it’s not inconceivable that gold could eventually reach the $2,000 to even the $5000 level before the mega rise is over, looking out to the years ahead.

GOLD: Better than stocks, currencies & bonds

The stock market and the currencies have been good investments, but it’s important to know that gold is the best investment. It’s stronger than the currencies as you saw, and it’s stronger than the stock and bond markets. Chart 3 shows this clearly. Note that when comparing these markets, gold has been steadily stronger than the Dow Jones Industrials, and the U.S. bond market since 2001. Both ratios have been moving up since rising above the mega trend, the 80 month moving average, in 2003. This means that gold is solidly stronger than these other markets and its gains have been greater.

We are invested in the different market sectors because the trends are up and we’ll stay diversified as long as the trends stay up, but keep in mind that the strongest markets are in the gold and metals sectors. Most important, it’s not too late to buy.

by Mary Anne & Pamela Aden

*****

Mary Anne & Pamela Aden are well known analysts and editors of The Aden Forecast, a market newsletter providing specific forecasts and recommendations on gold, stocks, interest rates and the other major markets. For more information, go to www.adenforecast.com

Read more...

Jumat, 20 Maret 2009

Fiat Money, in Extremis , is Accepted by Nobody. ..Gold is Always Accepted…


Alan Greenspan (Chairman dari US Federal Reserve)10 tahun lalu di depan legislative Amerika dalam perdebatan panjang dengan anggota kongres yang cerdas ( Dr. Ron Paul ) – akhirnya ‘bandar’ uang fiat (uang kertas) dunia ini mengakui bahwa bisa jadi dalam kondisi extremis orang tidak mau menerima uang kertas, sebaliknya uang emas akan selalu dapat diterima.


Written by Muhaimin Iqbal
Thursday, 19 March 2009 07:17

Judul tulisan kali ini saya ambilkan dari pernyataan Alan Greenspan 10 tahun lalu di depan legislative Amerika, waktu itu ia adalah Chairman dari US Federal Reserve. Dalam perdebatan panjang dengan anggota kongres yang cerdas ( Dr. Ron Paul ) – akhirnya ‘bandar’ uang fiat (uang kertas) dunia ini mengakui bahwa bisa jadi dalam kondisi extremis orang tidak mau menerima uang kertas, sebaliknya uang emas akan selalu dapat diterima.

Kondisi extremis seperti apa yang dimaksudkan oleh Alan Greenspan ?, yang dia maksudkan adalah kondisi dimana orang mulai tidak percaya dengan uang kertas.

Kondisi ini pula yang nampaknya ada di pemikiran ‘dewa’ ekonom dan futurolog Amerika John Naisbitt ketika dalam bukunya yang terbit tahun lalu Mindset dia menulis bahwa monopoli terakhir yang akan ditinggalkan umat manusia adalah monopoli uang nasional (sekarang uang fiat). Umat manusia akan meninggalkan uang nasionalnya – uang fiat yang tidak memiliki nilai intrinsik – dan menggantinya dengan uang private yaitu benda-benda riil yang memiliki nilai intrinsik.
Alan Greenspan maupun John Naisbitt – dua orang yang sangat menguasai bidangnya, tentu tidak membuat pernyataannya secara sembarangan. Kondisi extremis yang mereka ungkapkan pernah terjadi dalam sejarah negeri mereka, dan berpeluang terjadi lagi di zaman modern ini.

Dalam sejarah Amerika pernah terjadi ketika debitur lari-lari mengejar kreditur untuk membayar hutang, tetapi sang kreditur lari menghindar karena tidak mau menerima uang yang hendak dibayarkan oleh debiturnya. Peristiwa ini terjadi antara tahun 1775 – 1780 ketika uang kertas mereka yang disebut Continental – tidak ada harganya !. Saat itu sampai-sampai ada barber shop yang menggunakan uangnya sebagi wallpaper (penutup tembok) karena uang harganya kurang lebih sama dengan kertas wallpaper.

Kondisi extremis yang diungkapkan oleh Alan Greenspan tersebut diatas memang belum terjadi saat ini, namun symptoms atau gejala-gejalanya sudah nampak. Coba Anda perhatikan grafik harga Dinar pagi ini, mengapa harga Dinar (harga emas) tiba-tiba melonjak tajam dini hari tadi atau sore waktu Amerika ?.

Penyebabnya tak lain adalah keputusan the Fed untuk ‘mencetak uang baru’ dengan membeli US$ 300 Milyar long-terms Treasury Securities dalam beberapa bulan kedepan. Total pembelian securities oleh the Fed tahun ini akan mencapai US$ 1.25 trilyun.

Setiap kali pemerintah suatu negeri mencetak uang melebihi kebutuhan transaksi riilnya, maka uang yang ada di masyarakat otomatis turun nilainya – Ini teori Ibnu Taimiyyah sekitar 800 tahun lalu yang masih sangat valid sampai sekarang.

Pasar yang paham atas makna tindakan the Fed Amerika tersebut diatas, langsung menyadari bahwa uang kertas yang ada ditangan mereka akan terus berkurang dengan cepat nilainya. Mereka kembali berburu emas dalam kepanikannya, karena mereka tahu hanya emas-lah uang yang tidak pernah kehilangan daya beli itu.

Kejadian semalam memang hanya symptom dari kondisi extremis yang bisa saja terjadi dan bisa juga tidak terjadi. Sama dengan kita ketika menyadari ada gejala penyakit mematikan (misalnya demam berdarah) di tubuh kita, yang hati-hati akan segera periksa ke dokter dan melakukan pencegahan agar gejala penyakit tersebut tidak bener-bener berubah menjadi penyakit yang berakibat fatal.

Yang cuek akan membiarkan gejala yang ada sampai penyakit bener-bener datang, padahal saat itu bisa jadi pengobatan sudah terlambat. Hanya kepada Allah kita mohon perlindungan, Amin.

Read more...

Sabtu, 14 Maret 2009

Sistem Keuangan Porak-poranda dengan Kerugian Triliunan

Bank-bank gelap” menipu investor, nasabah, dan masyarakat, serta menipu sesamanya. Pemodal dibujuk untuk menanamkan dana di perusahaan mereka. Dana dikucurkan kepada siapa saja yang bisa ditubruk tanpa memerhatikan kemampuan pengembalian pinjaman.


Krisis Global
Sabtu, 14 Maret 2009 | 03:07 WIB
Simon Saragih
Memiliki mobil atau rumah tidak harus dengan uang tunai, tetapi bisa dengan mencicil. Kebiasaan ini sudah berlangsung lama di dunia dengan mengandalkan pembayaran dari gaji. Hanya orang mapan yang bisa membeli segala kebutuhan dengan uang tunai.

Kegiatan mencicil seperti itu berjalan lancar. Tidak terdengar kebangkrutan massal perusahaan keuangan secara global sejak 1930-an. Ada sejumlah kasus kehancuran sistem keuangan di beberapa negara, tetapi tidak memberi efek domino kebangkrutan massal seperti sekarang.

Bukti lain, Presiden Bank Dunia Robert Zoellick mengatakan, tak pernah ada pertumbuhan ekonomi dunia yang negatif sejak Depresi Besar 1929.

Paul Krugman dan Joseph E Stiglitz, dua ekonom AS peraih Hadiah Nobel Ekonomi, mengatakan, ada regulasi yang membuat bank dan lembaga keuangan memberi kredit dengan rambu-rambu yang aman. Jika sebagian kredit yang dikucurkan macet, ada perusahaan asuransi yang menjamin kemacetan itu. Jika bank bangkrut sekalian, ada perusahaan penjamin deposito.

Dengan sistem seperti itu, konsumen, nasabah, dan perbankan sama-sama merasa aman dengan kegiatan saling meminjamkan, termasuk kegiatan meminjamkan kepada perusahaan. Dari proses pinjam-meminjam ini terjadilah permintaan, yang menjadi inti pendorong aktivitas perekonomian.

Kegiatan seperti itu buyar untuk sementara. Nasabah dan konsumen tidak dipercaya atau tidak memiliki daya beli sebagian karena sudah dikenai PHK. Bank tidak punya dana, bahkan sudah bangkrut, dan ini terjadi pada bank-bank kaliber dunia, seperti UBS, Citigroup, dan ABN-AMRO yang sudah almarhum.

Ini merembet ke perusahaan dengan anjloknya, misalnya, penjualan mobil buatan General Motors, Ford, Toyota, dan Honda. Hampir semua kategori produk mengalami penurunan penjualan. Sebagian kartu kredit pun kini sudah sekadar kartu yang tak berdaya beli lagi.

Warren Buffett mengatakan, kepercayaan itu pilar dari sistem yang tidak akan jalan tanpa kepercayaan. Ketiadaan kepercayaan itu contagious, menular dan menyebar ke semua sektor dengan daya rusak yang besar.

”Shadow banking”

Mengapa keadaan menjadi kacau? Kegiatan shadow banking, ”bank-bank gelap”, merajalela dalam 25 tahun terakhir. Sebagian ”bank-bank gelap” adalah perpanjangan tangan bank-bank konvensional dan tidak disentuh oleh hukum karena memang tidak diawasi. Regulator ketinggalan kereta.

Michael Hiltzik, kolumnis di harian AS, The Los Angeles Times, pada 12 Maret menulis, terjadi cerita horor dalam sistem keuangan. Walau dikatakan ”bank-bank gelap”, perusahaannya tidak gelap. Lehman Brothers adalah perusahaan AS berusia di atas 150 tahun. Sejumlah bank dan perusahaan besar dan resmi lainnya di AS juga terlibat. AIG, perusahaan asuransi terbesar dunia asal AS, pun sudah mirip ”spekulan”.

Besaran bisnis kegiatan ”bank-bank gelap”, menurut Paul Krugman, sekitar 10 triliun dollar AS, lebih besar dari kegiatan bank-bank konvensional. Mereka menggantikan peran utama bank konvensional dan menjadi saluran utama proses pinjam-meminjam.

”Bank-bank gelap” menipu investor, nasabah, dan masyarakat, serta menipu sesamanya. Pemodal dibujuk untuk menanamkan dana di perusahaan mereka. Dana dikucurkan kepada siapa saja yang bisa ditubruk tanpa memerhatikan kemampuan pengembalian pinjaman. Sekitar 1,2 juta warga di AS, misalnya, bisa mendapat rumah dari kredit, yang tidak didukung pendapatan untuk mencicil di kemudian hari. Walau untung tak ada, eksekutifnya mendapat bonus besar, seperti terjadi pada Merrill Lynch. ”Horrific,” kata Krugman.

Masalah bukan hanya karena kucuran kredit berlebihan tanpa rambu-rambu. ”Bank-bank gelap” itu juga turut serta berspekulasi di bursa. Dana-dana yang mereka dapat dimainkan di bursa. Salah satu yang terkenal adalah dengan mengerek harga komoditas menjadi tinggi, seperti harga kedelai dan minyak, sebagaimana pernah dikatakan Steve Forbes, pemilik majalah Forbes.

Para eksekutif keuangan Wall Street meraup keuntungan pribadi tidak dari keuntungan perusahaan, tetapi menelan dana dengan mengorbankan nasabah. Ini terjadi pada kasus Bernard Madoff, penipuan tunggal terbesar dalam sejarah dengan kerugian 170 miliar dollar AS.

CEO JP Morgan Chase Jamie Dimon, di New York, pekan ini, mengakui, perilaku seperti itu telah mengacaukan sistem keuangan. CEO HSBC Stephen Green mengakui, etika buruk sistem perbankan telah menjadi sumber kekacauan.

Berdasarkan data Bank Pembangunan Asia, jumlah uang yang lenyap akibat kekacauan di sektor keuangan sekitar 50 triliun dollar AS. Ini termasuk nilai kekayaan dunia yang lenyap akibat kejatuhan indeks-indeks di bursa global, bukan saja di AS.

CEO Blackstone Group LP Stephen Schwarzman, Selasa (10/3) di New York, mengatakan, 45 persen kekayaan dunia rusak akibat krisis kredit global. Jika dunia kehilangan 50 triliun dollar AS dana, bayangkan apa dampaknya untuk dunia dengan besaran produk domestik bruto (PDB) 60 triliun dollar AS?

Bagaimana memulihkan ekonomi dunia, kapan krisis akan selesai. ”Saya hanya bisa mengharapkan agar kita semua mendapatkan keberuntungan,” kata Krugman di National Press Club, Washington, Desember 2008. Pernyataan ini merefleksikan dalamnya persoalan, yang tidak bisa diprediksi kapan dan bagaimana menyelesaikannya

Read more...

Sabtu, 07 Maret 2009

Kapitalisme Ribawi Yang Memakan Dirinya Sendiri…


Erisychthon seorang tukang kayu yang kaya namun sangat serakah. Saking serakahnya, si tukang kayu bahkan berani menebang pohon kesayangan dewa mereka.Karena rasa lapar yang tidak pernah bisa terkenyangkan – maka akhirnya Erisychthon-pun memakan dirinya sendiri.


Written by Muhaimin Iqbal
Saturday, 07 March 2009 05:18

Ada cerita menarik dari Danah Zohar dalam bukunya yang best seller di seluruh dunia Spiritual Capital, yang sangat relevan dengan krisis financial yang melanda dunia saat ini.

Cerita ini sendiri berasal dari Mythology Yunani kuno tentang seorang tukang kayu yang kaya namun sangat serakah bernama Erisychthon. Saking serakahnya, si tukang kayu bahkan berani menebang pohon kesayangan dewa mereka – dimana rakyat Yunani biasa ‘beribadah’ di sekitar pohon tersebut.

Konon sang ‘dewa’ sangat marah atas ditebangnya pohon tersebut, dan dikutuklah Erisychthon untuk tidak pernah kenyang walau apapun telah dimakannya. Maka mulailah Erisychthon memakan apapun yang dijumpainya, toko dan isinya dimakan sampai habis, setelah itu keluarganya juga dimakan sampai habis – sampai tinggal satu-satunya yang ada di sekitar dia, yaitu dirinya sendiri. Karena rasa lapar yang tidak pernah bisa terkenyangkan – maka akhirnya Erisychthon-pun memakan dirinya sendiri.

Betapapun tidak masuk akalnya cerita tersebut, tetapi nampaknya realita yang tidak jauh berbeda sesungguhnya terjadi di dunia financial ribawi jaman modern, sehingga menimbulkan krisis di seluruh dunia sampai saat ini.

Dua hari lalu saya sarapan pagi dengan kawan lama seorang professional senior di lembaga pembiayaan yang sekarang induknya sudah di caplok oleh konglomerasi asing. Karena beliau sedang dalam taraf untuk berhijrah ke jalan yang lebih baik, beliau menceritakan apa yang bertentangan dengan hatinya yang antara lain terkait dengan krisis financial global dewasa ini. Yang diambil contohnya oleh beliau adalah industri otomotif di Amerika.

Dalam pasar yang normal, semestinya keseimbangan antara supply and demand terjadi dengan sendirinya. Produsen akan memproduksi sejumlah barang yang dibutuhkan konsumen, dan konsumen membeli kebutuhannya pada tingkat harga yang wajar sesuai kemampuan dirinya untuk membeli kebutuhan tersebut.

Apa yang dilakukan oleh lembaga-lembaga ribawi terhadap keseimbangan supply and demand tersebut ?.

Awalnya dia datang ke produsen mobil dan bilang sama si produsen untuk memproduksi mobil lebih banyak. Nggak punya modal ?, gampang tinggal dipinjami (tentu dengan bunga –karena bunga inilah daya tarik mereka). Nggak ada yang beli ?, gampang, nanti lembaga ribawi tersebut juga yang akan menggarap pembelinya.

Maka kemudian si lembaga ribawi datang ke konsumen (dengan berbagai iklannya), untuk mendorong konsumen membeli mobil yang sudah diproduksi produsen tersebut diatas. Konsumen nggak punya duit ?; gampang pula solusinya – tinggal dipinjami lagi oleh mereka – tentu lagi-lagi dengan bunga karena memang bunga inilah inti bisnisnya.

Keenakan mendapatkan bunga dari produsen dan juga konsumen, membuat lembaga ribawi semakin keranjingan ‘menciptakan’ keseimbangan baru pada supply and demand.

Kalau awal-awalnya yang digarap adalah produsen & konsumen yang credible yang memang mampu memproduksi/membeli barang dan mampu pula mengembalikan hutangnya; maka lama- kelamaan ‘pasar’ yang credible tersebut habis – tinggallah produsen abal-abal dan konsumen yang sebenarnya tidak mampu untuk meminjam dan mengembalikan hutangnya.

Apa yang terjadi kemudian ?, lembaga-lembaga ribawi tersebut mulai kesulitan menagih piutangnya ke para nasabahnya; bukan sepenuhnya salah nasabah sebenarnya – tetapi sebagian besar karena ulah lembaga-lembaga ribawi tersebut sendiri.

Setelah diambang kesulitan financial global yang begitu banyak korbannya, apakah attitude lembaga ribawi ini berubah ?, ternyata tidak. Sejauh pendapatan utama mereka dari bunga – maka mereka akan tetap memburu mangsanya untuk ‘dipinjami’ agar mereka tetap mendapatkan sumber bunga-nya.

Buktinya yang sangat up-to-date malam-malam begini (jam 11 malam ketika saya menulis artikel ini), masih juga ada sms sampai ke hand phone saya yang menawarkan kemudahan dana tunai…..

Hari gini ? ada kemudahan dana tunai ?...apa lagi kalau bukan mereka sedang mengincar kita-kita untuk menjadi sumber pendapatan bunga berikutnya. Kalau orang seperti kitapun sudah habis digarapnya, siapa lagi yang digarap ? mungkin mereka akan mulai memakan dirinya sendiri seperti cerita Erisychthon tersebut diatas….Wallahu A’lam.
Last Updated on Saturday, 07 March 2009 05:26

Read more...

Investasi Emas, Why Not?

Thursday, May 29th, 2008

Emas dari dulu memang menjadi fenomena yang menarik hati. Memang benar apa yang dilakukan para orang tua jaman dulu yang gemar membeli emas atau tanah dari pada barang lainnya. Karena mereka tahu bahwa harga emas bakal naek terus dari tahun ke tahun. Investasi emas untuk jangka panjang (long term) memang sangat menjanjikan disamping simple juga tidak terlalu membutuhkan keahlian khusus untuk menjalankannya. Sama halnya dengan investasi tanah. Kendalanya mungkin pada keamanan penyimpanan emas itu sendiri, apakah di simpan di rumah atau di bank (Safe Deposit Box Bank). Perjalanan harga emas dari tahun ke tahun sangat fantastis, tahun 1998 harga emas per gramnya mencapai Rp 25,000,-, tahun 2004 sudah mencapai Rp. 90,000,-, sedangkan sekarang harga per gramnya per tanggal 29 Mei 2008 sudah mencapai Rp. 279,000,-. Memang harga emas belakangan ini sempat naik turun akibat fluktuasi harga minyak dunia. Ya, setidaknya kita perlu jeli untuk memanfaatkan peluang berinvestasi emas mengingat kondisi tersebut.

Kenapa Emas?

TEORI INVESTASI

Jangan Taruh semua Telor dalam satu keranjang. Pastikan investasi anda berada dalam beberapa instrumen invesatsi anda selain tanah, saham, obligasi, dan emas tentunya.

SEJARAH BERKATA

Sejarah membuktikan emas tidak memiliki efek inflasi (ZERO INFLATION EFFECT) dan cendrung stabil dengan nilai yang riil.

TEORI KELANGKAAN (SCARCITY)

Di beberapa negara terjadi penurunan produksi emas, sehingga menimbulkan kelangkaan (scarcity) emas di masyarakat sedangkan permintaan terhadap emas meningkat. Hal ini bisa memicu kenaikan harga emas.

(Ditulis oleh : Gede Suarnaya, dari berbagai sumber)