Grafik Pergerakan Nilai Tukar Dinar

Grafik Pergerakan Nilai Tukar Dinar
sumber: GERAI DINAR

Alasan Fundamental Untuk Memilih Dinar…

1. Dinar emas adalah uang yang digunakan oleh Rasulullah SAW tidak hanya untuk jual beli, tetapi juga untuk penerapan syariah itu sendiri.

a. Nisab zakat yang diukur dengan 20 Dinar atau 200 Dirham.

b. Batasan Hukum potong tangan bagi pencuri batasannya adalah nisab pencuri ¼ Dinar.

c. Diyat atau uang darah [dibebaskan dari hukum qisas (dibunuh)] yang besarannya 1000 Dinar.

Lantas bagaimana kita bisa tahu seseorang menjadi wajib zakat atau malah sebaliknya berhak menerima zakat kalau ukurannya yang berupa Dinar atau Dirham saja kita tidak mengenalnya ?.

2. Fakta di dunia modern ini bahwa uang kertas tidak akan bertahan terlalu lama. Semua uang kertas yang ada di dunia modern ini, tidak ada satupun yang telah membuktikan dirinya bisa survive dalam seratus tahun saja. Bisa jadi nama uangnya masih ada, tetapi jelas daya belinya sangat jauh berbeda dalam rentang waktu tersebut.

Padahal disisi lain ada uang yang daya belinya terbukti tetap lebih dari 1400 tahun yaitu Dinar. Di jaman Rasulullah SAW 1 Dinar cukup untuk membeli kambing, saat inipun 1 Dinar bisa membeli kambing yang baik di Jakarta.

Selengkapnya……..

Grafik Harga Emas Harian - Mingguan - Bulanan -Tahunan

Investasi Emas : Koin Dinar, Emas Lantakan Atau Emas Perhiasan ?

Default value (nilai asal) dari investasi emas tinggi - otomatis nilai emas akan kembali ke nilai yang sesungguhnya – yang memang tinggi.

Default value (nilai) uang kertas, saham, surat berharga mendekati nol , karena kalau ada kegagalan dari pihak yang mengeluarkannya untuk menunaikan kewajibannya –uang kertas, saham dan surat berharga menjadi hanya senilai kayu bakar.

Nah sekarang sama-sama investasi emas, mana yang kita pilih ? Koin Emas, Emas Lantakan atau Perhiasan ?

BACA SELENGKAPNYA...........

Minggu, 06 Desember 2009

Noise Dan Signal Dalam Pasar Emas…

Di pasar emas (juga pasar modal, pasar uang dlsb); Noise adalah issue-issue sesaat yang berpengaruh pada fluktuasi harga emas.
Signal yang sangat jelas bisa dilihat pada harga emas dunia dari rentang waktu Januari 2000 sampai awal Desember 2009 ini atau rentang waktu 10 tahun terakhir, dimana harga emas dunia dalam US$ naik menjadi lebih dari 3 kali lipatnya (323 %); maka bila Anda investor emas atau Dinar yang berorientasi jangka panjang – kemungkinan besar Anda telah menangkap dan memanfaatkan Signal yang sangat jelas ini

.

Written by Muhaimin Iqbal
Sunday, 06 December 2009 06:24
Noise and Signal

Saya sering mendapat pertanyaan terutama dari klien-klien yang baru atau calon klien tentang naik turunnya harga emas dunia; pertanyaan ini lebih sering muncul pada saat terjadi perubahan drastik – baik itu harga naik ataupun harga turun. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menjawab secara umum – mayoritas dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Dalam pasar mata uang, pasar modal, komoditi dan tak terkecuali pasar emas ada istilah Noise And Signal yang berperan dalam pergerakan harga. Seperti ketika Anda mencari gelombang radio, ketika gelombang yang Anda putar tidak terlalu pas, stasiun terlalu lemah atau terlalu jauh – ada suara kresek-kresek yang tidak jelas – itulah Noise. Sementara bila Anda bisa menangkap suara yang sangat jelas, maka itulah Signal yang sesungguhnya.

Di pasar emas (juga pasar modal, pasar uang dlsb); Noise adalah issue-issue sesaat yang berpengaruh pada fluktuasi harga emas. Namanya juga issue – bisa benar, bisa juga salah – bahkan bisa juga di rekayasa oleh pihak tertentu. Sifat pengaruhnya jangka pendek, setelah issue atau penyebab jangka pendek tersebut mereda – maka harga emas akan kembali ke trend yang semula.

Contoh issue sesaat yang menjadi Noise di pasar emas secara berulang-ulang adalah (rencana) pelepasan emas IMF yang saya tulis di blog saya satu setengah tahun lalu (7 Mei 2008). Contoh lain adalah jatuhnya harga emas dunia akhir pekan ini setelah Amerika mengeluarkan data pengangguran yang ternyata tidak seburuk yang disangkakan oleh pasar – meskipun data ini juga diragukan oleh banyak pihak.

Bila Noise bisa disebabkan oleh issue sesaat yang tidak harus benar; tidak demikian halnya dengan Signal. Signal disebabkan oleh alasan yang bersifat fundamental dan biasanya berdampak dan teruji dalam jangka panjang. Dalam harga emas dunia yang dihitung dengan uang US$ misalnya; alasan fundamental yang mempengaruhi harga emas dunia antara lain ya nilai uang US$ itu sendiri. Uang US$ sangat dipengaruhi oleh fundamental ekonomi Amerika, maka harga emas dunia dalam US$ sangat dipengaruhi oleh ekonomi Amerika.

Di negara seperti Indonesia harga emas dalam Rupiah; Signal naik turunnya dalam jangka panjang selain tergantung ekonomi Amerika (karena harga emas internasionalnya tetap dalam US$) juga tentu saja sangat tergantung dengan ekonomi Indonesia sendiri , untuk ini lihat tulisan saya tentang Mengenal Gold Dinar Quadrant.

Grafik diatas adalah contoh Noise dan Signal ini; contoh Noise besar saya ambilkan periode antara Maret 2008 s/d November 2008 dimana pada periode tersebut harga emas dunia turun sampai 21 %-nya. Penyebabnya adalah issue-issue penyelamatan krisis ekonomi yang tidak jelas selama periode tersebut disamping juga faktor musiman. Bila Anda investor emas atau Dinar yang baru dan hanya menangkap Noise, maka pastilah Anda pada periode tersebut kecewa dengan penurunan ini.

Untuk contoh Signal yang sangat jelas saya ambilkan harga emas dunia dari rentang waktu Januari 2000 sampai awal Desember 2009 ini atau rentang waktu 10 tahun terakhir, dimana harga emas dunia dalam US$ naik menjadi lebih dari 3 kali lipatnya (323 %); maka bila Anda investor emas atau Dinar yang berorientasi jangka panjang – kemungkinan besar Anda telah menangkap dan memanfaatkan Signal yang sangat jelas ini.

Karena saya tidak pernah menganjurkan Anda untuk berspekulasi dengan harga emas jangka pendek; maka memahami Signal yang mempengaruhi atau menggerakkan harga emas jangka panjang adalah tema sentral dari tulisan-tulisan saya di situs ini. Wa Allahu A’lam.
Last Updated on Sunday, 06 December 2009 06:30

Copyright © 2009 Gerai Dinar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Read more...

Rabu, 02 Desember 2009

Korut Potong 100 Won Jadi 1 Won

Korea Utara pada hari Selasa (1/12) menyebutkan, sanering nilai won sebesar dua digit itu berlaku mulai hari Senin (30/11). Perubahan kebijakan pemerintah komunis Korut di bidang keuangan publik ini merupakan yang pertama dalam 17 tahun terakhir ini.
Pemerintah membatasi jumlah yang ditukar paling banyak 100.000 won per orang.
”Ini sama dengan merampas kekayaan orang dengan kekerasan, mengurangi daya beli mereka secara tajam.



Rabu, 2 Desember 2009 | 06:01 WIB


SEOUL, KOMPAS.com - Pemerintah Korea Utara melakukan sanering atau pemotongan nilai mata uang won secara tajam, dari 100 won menjadi 1 won. Langkah itu untuk menekan laju inflasi dan mengekang aktivitas pasar gelap yang telah memperburuk kondisi ekonomi nasional.

Laporan media massa di Korea Utara pada hari Selasa (1/12) menyebutkan, sanering nilai won sebesar dua digit itu berlaku mulai hari Senin (30/11). Perubahan kebijakan pemerintah komunis Korut di bidang keuangan publik ini merupakan yang pertama dalam 17 tahun terakhir ini.

Pejabat perdagangan luar negeri Korut, seperti dikuti kantor berita Yonhap di Seoul, Korea Selatan, menegaskan, pemotongan nilai won memicu rush. Pejabat di Seoul meragukan laporan itu.

Warga Pyongyang pun berbondong-bondong menyerbu pasar gelap guna menukarkan won dengan yuan China dan dollar AS. ”Penduduk Pyongyang terkejut dan panik karena reformasi mata uang itu,” kata para pedagang valas di pasar gelap.

Agen kantor berita China, Xinhua, di Pyongyang melaporkan, Deplu Korut sudah memberi tahu semua kedutaan besar di sana bahwa uang kertas lama, surat berharga, termasuk cek masih bisa ditukarkan hingga hari Minggu. Toko-toko milik negara telah ditutup untuk mengakomodasi perubahan itu. Para pramuniaga mengatakan, toko akan buka kembali sepekan lagi setelah harga baru ditetapkan oleh pemerintah.

”Rasio konversi telah ditetapkan 100 menjadi 1. Oleh karena itu, setiap 1.000 won kini ditukar menjadi 10 won dan 100 won menjadi 1 won,” ungkap seorang pejabat seperti dikutip Yonhap. Dia pun melanjutkan, ”Pasar-pasar gelap di Pyongyang pun kacau-balau karena penduduk bergegas mengubah mata uang lokal ke yuan China dan dollar AS.”

Xinhua juga melaporkan Kementerian Luar Negeri Korut tidak memberikan alasan-alasan akan perubahan tersebut. Adapun Badan Intelijen dan Kementerian Unifikasi Korsel di Seoul mengatakan, pemerintah telah menerima laporan tentang pemotongan nilai won Korut itu, tetapi tidak bisa mendapat konfirmasi soal itu dari Pyongyang.

”Dalam kasus-kasus terdahulu, Korut biasanya mengambil satu keputusan berdasarkan arahan anggota kabinet dari dewan rakyat pusat, yang kemudian dirilis media resmi pada hari itu,” kata juru bicara Kementerian Unifikasi, Chun Hae Sung.

Surat kabar Chosun Ilbo di Pyongyang melaporkan, sanering merupakan strategi Kim Jong Il mengendalikan rezimnya. Sebenarnya, 24 juta penduduk Korut sedang bersiap-siap mendesak Kim untuk segera menyerahkan kekuasaan kepada salah seorang dari tiga anak laki-lakinya.

Menegaskan peran negara

Park Hyeong-Jung, peneliti senior pada Institut Unifikasi Nasional Seoul, mengatakan, sanering dilakukan untuk menegaskan peran negara dalam mengendalikan inflasi dan aktivitas pasar gelap. Pemerintah membatasi jumlah yang ditukar paling banyak 100.000 won per orang.

”Ini sama dengan merampas kekayaan orang dengan kekerasan, mengurangi daya beli mereka secara tajam. Langkah yang ekstrem ini bertujuan melemahkan fungsi pasar bebas yang sedang berkembang di sana,” katanya.

Mata uang Korut, yang disebut won sama seperti mata uang Korsel, secara resmi telah digunakan untuk membendung arus mata uang asing. Namun, nilai aktualnya yang diakui di pasar gelap malah merosot tajam.

Pemerintah Korut secara efektif telah memanggil pulang semua pejabat perdagangan untuk mengawal peredaran mata uang asing. Peredaran itu pun dibatasi, kecuali sebagian dari mata uang asing itu bisa ”disumbangkan” kepada pemerintah pusat. Praktik ini sebetulnya adalah sinyal dari buruknya sistem moneter dan keuangan modern.

Kasus salah urus ekonomi bertahun-tahun, bencana alam, runtuhnya Uni Soviet, dan sanksi internasional atas ambisi nuklir Pyongyang telah mengguncang ekonomi Korut. Utusan khusus AS untuk Korut, Stephen Bosworth, mengunjungi Pyongyang awal pekan depan. Dia akan membujuk Korut agar meninggalkan program nuklirnya.(REUTERS/AFP/AP/CAL)
Read more...

Rabu, 18 November 2009

Gold Reserve : Mereka Mungkin Tahu Yang Dilakukannya, Sedangkan Kita…?

Lihat grafik disamping buktinya, Ton 10 negara dalam hal cadangan emas mayoritas adalah negara-negara barat yang suka mengkampanyekan bahwa emas adalah hal yang jelek untuk uang maupun untuk investasi. Negara yang sadar bahwa mereka selama ini ‘tertipu’ dengan pencitraan buruk emas – pun segera mengejarnya; hal ini misalnya dilakukan oleh China beberapa tahun terakhir dan India baru-baru ini


"Coin Emas & Emas Lantakan Produk USA"


Written by Muhaimin Iqbal
Wednesday, 18 November 2009 06:56
Gold Reserve

Saya punya dua ponakan laki-laki yang usianya hampir sebaya 3 dan 4 tahun yang lagi lucu-lucunya. Tidak hanya lucu, anak-anak ini rupanya juga cerdas. Karena selisih umur yang sangat dekat ini, mereka suka sekali berantem berebut mainan.

Rupanya si kecil yang 3 tahun mempunyai kecerdasan yang melebihi usianya; untuk mengelabui kakaknya yang lebih tua – agar tidak merebut mainannya – dengan idenya sendiri si kecil suka berkata “jelek…jelek…jelek…” pada mainan yang lagi dimainkannya dengan asyik. Maka si kakak menduga bahwa mainan tersebut memang jelek dan tidak tertarik untuk merebutnya.

Dari memahami permainan ponakan saya tersebut, saya tersentak dengan data cadangan emas negara-negara besar dunia. Rupanya ‘permainan’ inilah yang dimainkan negara-negara besar Dunia terhadap emas. Mereka melalui jalur IMF, melarang penggunaan emas sebagai referensi mata uang dan bahkan mengawasi perdagangannya secara ketat. Mereka juga rajin ‘mencitrakan’ emas sebagai hal yang buruk.

Saking besar pengaruh mereka ini, sampai-sampai otoritas pasar modal kita pun sempat beberapa tahun lalu ikut-ikutan memojokkan investasi emas dengan membuat citra buruk tentang investasi emas. Dalam iklannya mereka menggambarkan seorang ibu yang serakah dengan tumpukan emas di gelangnya kemudian nyengir memamerkan gigi emasnya pula.

Nampaknya negara-negara besar dunia, sedang mempraktekkan ilmu yang sama dengan yang dimiliki ponakan saya yang 3 tahun tersebut diatas. Mereka senang mengatakan “jelek…jelek…jelek” pada investasi emas. Padahal mereka sendiri asyik mengamankan cadangan kekayaannya dalam bentuk emas.

Lihat grafik diatas buktinya, Ton 10 negara dalam hal cadangan emas mayoritas adalah negara-negara barat yang suka mengkampanyekan bahwa emas adalah hal yang jelek untuk uang maupun untuk investasi. Negara yang sadar bahwa mereka selama ini ‘tertipu’ dengan pencitraan buruk emas – pun segera mengejarnya; hal ini misalnya dilakukan oleh China beberapa tahun terakhir dan India baru-baru ini.
Bukan hanya dari sisi kwantitif yang besar - karena rata-rata mereka memang negara besar, secara persentase terhadap total reserve mereka – cadangan emas mereka juga sangat besar. Amerika mencapai 77%, Perancis mendekati 71 %, Jerman mendekati 70 % , Italy mendekati 67% dan Belanda mendekati 60%. Bila di rata-rata dari top 10 tersebut, maka cadangan emas rata-rata mereka adalah 38.5 % dari total reserve-nya.

Lantas dimana kita dan negara-negara dengan penduduk mayoritas Islam lainnya ?; meskipun bagian dari syariat kita membutuhkan uang emas (Dinar) misalnya untuk menentukan nishab zakat, hukum potong tangan, uang darah (diyat) dlsb.; tidak satu-pun negara-negara yang penduduknya mayoritas Muslim seperti Indonesia memiliki cadangan emas yang memadai.

Indonesia misalnya; di bank sentral kita – Bank Indonesia – kita hanya memiliki cadangan emas sebesar 2,347,046.31 troy ounce atau sekitar 73 ton per akhir tahun lalu sesuai data BI di laporan tahunan tahun buku 2008. Dengan tingkat harga saat ini US$ 1,140/oz ; maka cadangan emas kita ini hanya bernilai US$ 2.68 Milyar, atau sekitar 4.15% dari cadangan devisa terakhir yang berada pada kisaran 64.5 milyar. Trend cadangan emas kita di BI juga bukannya naik, malah turun.

Setelah seperempat abad bertengger pada posisi di kisaran 96 ton, sekarang tinggal 73 ton atau turun 24 % dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini. Kemana perginya emas kita tersebut ? menurut laporan BI tahun buku 2006, sebagian emas kita tersebut di lego untuk mempercepat pelunasan hutang kita ke IMF !.

Jadi terserah kita sekarang….; ponakan saya yang usia 4 tahun saja, kini tidak mempan lagi dikibuli adiknya yang berkata “jelek…jelek…jelek” pada mainannya; masya kita tetap akan membiarkan pasar emas dunia dikuasai mereka yang sambil memojokkan citra emas, mereka mengumpulkannya dari tangan bangsa-bangsa lain yang lalai mengamankan asset riil-nya. Kalau toh otoritas kita tidak mengamankan asset riil bangsa ini, masya kita sebagai pribadi juga tidak mengamankan asset kita sendiri ?. Wa Allahu A’lam.


Last Updated on Wednesday, 18 November 2009 07:08

Copyright © 2009 Gerai Dinar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.


Read more...

Rabu, 21 Oktober 2009

Dengan Syariah Emas, Dunia Akan Bisa 8.7 Kali Lebih Makmur…!


Emas dan perak jumlahnya terbatas dan tidak bisa digelembungkan seperti pada asset-aset diatasnya, maka apa yang akan terjadi ? hukum permintaan dan penawaran yang akan berlaku. Ketika permintaan melebihi penawaran, harga pasti naik

Written by Muhaimin Iqbal
Tuesday, 20 October 2009 07:42
Piramid Terbalik

Dalam sebuah siaran televisi Business News Network (BNN) beberapa hari lalu, Trace Mayer – seorang financial blogger yang cerdas dari Canada memberikan uraian menarik tentang struktur kekayaan di seluruh dunia saat ini. Dia menggambarkan struktur kekayaan ini membentuk piramida terbalik seperti pada ilustrasi disamping.

Paling atas adalah kekayaan ‘paling palsu’ yang menggelembung dalam berbagai bentuk derivatives, nilainya mencapai sekitar US$ 1,600 Trilyun (Seribu Enam Ratus Trilyun US Dollars !). Dibawahnya sedikit lebih baik dari ini adalah berbagai asset dalam bentuk real estate dan non–monetary commodities, jumlahnya hanya sekitar 8 % dari asset yang di gelembungkan tersebut diatas atau sekitar US$ 125 Trilyun.

Yang ketiga adalah hutang yang ada jaminannya dan saham, nilainya hanya US$ 100 Trilyun . Yang keempat adalah uang dalam arti luas dalam bentuk obligasi pemerintah, treasury bills dlsb.; nilainya sebesar kurang lebih US$ 65 Trilyun. Yang kelima adalah uang kertas dalam bentuk fisik seperti US$ Yen , Euro, Rupiah dst.; nilainya hanya sekitar US$ 4 Trilyun.

Yang terakhir adalah kekayaan yang sesungguhnya yaitu berupa emas dan perak yang nilainya dperkirakan hanya sekitar US$ 4 Trilyun, atau hanya 0.25% dari kekayaan yang paling atas (derivatives).

Struktur ini digambarkan sebagai piramida yang terbalik oleh Trace Mayer, untuk mengisyaratkan betapa labilnya ekonomi dunia saat ini. Kekayaan yang paling atas adalah yang paling tidak aman, semakin kebawah semakin aman.

Seperti grafitasi bumi yang menarik benda-benda jatuh kebawah, maka setiap kali pemegang asset merasa tidak nyaman dengan asset-nya - maka dia akan mencari pelarian ke asset yang lebih aman dibawahnya.

Investor yang sudah tidak nyaman dengan derivatives akan pindah ke real estate dan sejenisnya; kemudian tidak nyaman lagi akan pindah ke securitized debt dan stocks, tidak nyaman lagi akan pindah ke obligasi pemerintah dan sejenisnya; tidak nyaman lagi akan memilih memegang uang saja; dan tidak nyaman lagi akhirnya akan berburu emas dan perak.

Karena emas dan perak jumlahnya terbatas dan tidak bisa digelembungkan seperti pada asset-aset diatasnya, maka apa yang akan terjadi ? hukum permintaan dan penawaran yang akan berlaku. Ketika permintaan melebihi penawaran, harga pasti naik.

Lantas dengan emas yang nilainya hanya sekitar US$ 4 trilyun atau 0.25 % dari seluruh asset derivatives dunia; apakah emas akan cukup untuk memutar ekonomi dunia ? jawabannya adalah sangat-sangat cukup !. Berikut perhitungannya :

Total seluruh Gross Domestic Product (GDP) dunia saat ini ‘hanya’ sekitar US$ 55 Trilyun; jadi jelas tidak memerlukan derivates yang nilainya US$ 1,600 Trilyun untuk menghasilkan GDP yang nilainya hanya US$ 55 Trilyun ini. Tetapi emas yang diam atau disimpan saja, nilainya cuma US$ 4 Trilyun, jadi tidak cukup juga untuk menghasilkan GDP yang US$ 55 Trilyun.

Itulah sebabnya dalam Islam, emas tidak boleh ditimbun, tidak boleh digunakan untuk perhiasan laki-laki, tidak boleh untuk tempat makan dan minum – agar dia beredar untuk digunakan sebagai uang. Contoh yang diberikan dalam suatu hadits Rasulullah SAW, perputaran harta yang banyak ini adalah hanya dalam waktu 3 hari.

Jadi emas yang ada di dunia senilai US$ 4 Trilyun, bila berputar sebagai uang dengan kecepatan berputar 3 hari sekali, maka potensi nilai ekonomi yang diputarnya akan mencapai US$ 480 Triyun atau sekitar 8.7 kali dari total GDP seluruh dunia saat ini. !.

Artinya apa ini semua ?; dengan menggunakan emas sebagai uang, kemudian penggunaannya mengikuti tuntunan syariah – maka dunia bisa 8.7 kali lebih makmur dari dunia yang sekarang. Wa Allahu A’lam.

Copyright © 2009 Gerai Dinar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.

Read more...

Selasa, 29 September 2009

Gold & Silver: the Shining Stars

Sep 22 2009 3:39PM
Courtesy of www.adenforecast.com

Gold, silver and gold shares are jumping up. Gold hit a record high this month and all three are in ‘break out’ mode. The time of truth is at hand and it won’t take much more strength to confirm that a stronger phase of the eight year old bull market has begun.

GOLD IS MONEY

We have often talked about gold’s role in the monetary system. For many years it was tossed aside as a barbaric relic and the thinking was that it was old fashioned. Nixon reinforced this in the 1970s when he closed the gold window by taking the U. S. dollar off the gold standard. An energetic economy then became most important.

But in spite of the generally strong U.S. economy and the growing global economies since the 1970s, the dollar has been weakening. Gold has been moving up quietly this decade and your average person or investor is still essentially unaware of its strength, but that will likely soon change.

GOLD: Strong in all currencies…

In today’s world it’s important that gold rise in all currencies. Why? Very simply, it will reconfirm that gold’s strength is powerful and real. We think this is ready to happen.

Looking at Chart 1 (left side), you can see that the gold price has tested the $1000 level twice since March 2008 when it first reached a record high. If gold now stays above $1004, it will clearly be breaking into record high territory and it’ll confirm a stronger phase of the ongoing bull market. You can bet this will attract attention and eventually mainstream investors will jump on board, driving the price much higher.


Interestingly, gold has also formed a head and shoulders technical pattern (see S, H, S). The rule of thumb is, if the NL resistance is broken on the upside, which it was when gold hit a record high, the price could rise the same distance as the size of this formation. In other words, gold could then continue up to near the $1400 level.

We’ll soon see what happens but most interesting is that gold is strong in euro terms as well (see Chart 1, right side). Note that it reached a new bull market high last February when it closed at its 1980 highs. The main point is, if gold can now reach a new record high in both dollars and euros it would be extremely bullish because it would be reaching a record high in the two most widely used currencies in the world.

… AND READY TO FLEX ITS MUSCLES

For now, what we call a “C” rise is ready to go. C rises are recurring, and they’re the best intermediate rises in a bull market when gold reaches new highs (see top of Chart 2). This is why the current C rise is so important, because it’s the first C rise since the financial meltdown last year.

The gold price is the central bankers’ only real discipline. The Federal Reserve has created more credit and injected the most money into the system this year than any other time in its 95 year history, in order to save the economy from a deflationary collapse. But the Fed’s actions, together with Obama’s spending and the massive stimulus from central banks around the world nearly guarantees that the end result will be inflation.

The economy is recovering at a heavy price. And this month’s gold rise suggests that inflation will eventually prevail. This will be especially true if gold breaks clearly out to new record highs. It will be saying that the government is actively creating inflation. This is also why the current C rise is so important.

Chart 2 shows that gold has the power and the room to rise strongly into record high territory. The leading indicator (B) is poised to complete a strong C rise and the gold price (A) shows that once a record high is sustained, gold could indeed jump up to the $1200 level as its first target. The long-term indicator (C) is also in a special situation that usually precedes a strong rise.

Once gold embarks on a stronger phase of the bull market, it’s not inconceivable that gold could eventually reach the $2,000 to even the $5000 level before the mega rise is over, looking out to the years ahead.

GOLD: Better than stocks, currencies & bonds

The stock market and the currencies have been good investments, but it’s important to know that gold is the best investment. It’s stronger than the currencies as you saw, and it’s stronger than the stock and bond markets. Chart 3 shows this clearly. Note that when comparing these markets, gold has been steadily stronger than the Dow Jones Industrials, and the U.S. bond market since 2001. Both ratios have been moving up since rising above the mega trend, the 80 month moving average, in 2003. This means that gold is solidly stronger than these other markets and its gains have been greater.

We are invested in the different market sectors because the trends are up and we’ll stay diversified as long as the trends stay up, but keep in mind that the strongest markets are in the gold and metals sectors. Most important, it’s not too late to buy.

by Mary Anne & Pamela Aden

*****

Mary Anne & Pamela Aden are well known analysts and editors of The Aden Forecast, a market newsletter providing specific forecasts and recommendations on gold, stocks, interest rates and the other major markets. For more information, go to www.adenforecast.com

Read more...

Jumat, 20 Maret 2009

Fiat Money, in Extremis , is Accepted by Nobody. ..Gold is Always Accepted…


Alan Greenspan (Chairman dari US Federal Reserve)10 tahun lalu di depan legislative Amerika dalam perdebatan panjang dengan anggota kongres yang cerdas ( Dr. Ron Paul ) – akhirnya ‘bandar’ uang fiat (uang kertas) dunia ini mengakui bahwa bisa jadi dalam kondisi extremis orang tidak mau menerima uang kertas, sebaliknya uang emas akan selalu dapat diterima.


Written by Muhaimin Iqbal
Thursday, 19 March 2009 07:17

Judul tulisan kali ini saya ambilkan dari pernyataan Alan Greenspan 10 tahun lalu di depan legislative Amerika, waktu itu ia adalah Chairman dari US Federal Reserve. Dalam perdebatan panjang dengan anggota kongres yang cerdas ( Dr. Ron Paul ) – akhirnya ‘bandar’ uang fiat (uang kertas) dunia ini mengakui bahwa bisa jadi dalam kondisi extremis orang tidak mau menerima uang kertas, sebaliknya uang emas akan selalu dapat diterima.

Kondisi extremis seperti apa yang dimaksudkan oleh Alan Greenspan ?, yang dia maksudkan adalah kondisi dimana orang mulai tidak percaya dengan uang kertas.

Kondisi ini pula yang nampaknya ada di pemikiran ‘dewa’ ekonom dan futurolog Amerika John Naisbitt ketika dalam bukunya yang terbit tahun lalu Mindset dia menulis bahwa monopoli terakhir yang akan ditinggalkan umat manusia adalah monopoli uang nasional (sekarang uang fiat). Umat manusia akan meninggalkan uang nasionalnya – uang fiat yang tidak memiliki nilai intrinsik – dan menggantinya dengan uang private yaitu benda-benda riil yang memiliki nilai intrinsik.
Alan Greenspan maupun John Naisbitt – dua orang yang sangat menguasai bidangnya, tentu tidak membuat pernyataannya secara sembarangan. Kondisi extremis yang mereka ungkapkan pernah terjadi dalam sejarah negeri mereka, dan berpeluang terjadi lagi di zaman modern ini.

Dalam sejarah Amerika pernah terjadi ketika debitur lari-lari mengejar kreditur untuk membayar hutang, tetapi sang kreditur lari menghindar karena tidak mau menerima uang yang hendak dibayarkan oleh debiturnya. Peristiwa ini terjadi antara tahun 1775 – 1780 ketika uang kertas mereka yang disebut Continental – tidak ada harganya !. Saat itu sampai-sampai ada barber shop yang menggunakan uangnya sebagi wallpaper (penutup tembok) karena uang harganya kurang lebih sama dengan kertas wallpaper.

Kondisi extremis yang diungkapkan oleh Alan Greenspan tersebut diatas memang belum terjadi saat ini, namun symptoms atau gejala-gejalanya sudah nampak. Coba Anda perhatikan grafik harga Dinar pagi ini, mengapa harga Dinar (harga emas) tiba-tiba melonjak tajam dini hari tadi atau sore waktu Amerika ?.

Penyebabnya tak lain adalah keputusan the Fed untuk ‘mencetak uang baru’ dengan membeli US$ 300 Milyar long-terms Treasury Securities dalam beberapa bulan kedepan. Total pembelian securities oleh the Fed tahun ini akan mencapai US$ 1.25 trilyun.

Setiap kali pemerintah suatu negeri mencetak uang melebihi kebutuhan transaksi riilnya, maka uang yang ada di masyarakat otomatis turun nilainya – Ini teori Ibnu Taimiyyah sekitar 800 tahun lalu yang masih sangat valid sampai sekarang.

Pasar yang paham atas makna tindakan the Fed Amerika tersebut diatas, langsung menyadari bahwa uang kertas yang ada ditangan mereka akan terus berkurang dengan cepat nilainya. Mereka kembali berburu emas dalam kepanikannya, karena mereka tahu hanya emas-lah uang yang tidak pernah kehilangan daya beli itu.

Kejadian semalam memang hanya symptom dari kondisi extremis yang bisa saja terjadi dan bisa juga tidak terjadi. Sama dengan kita ketika menyadari ada gejala penyakit mematikan (misalnya demam berdarah) di tubuh kita, yang hati-hati akan segera periksa ke dokter dan melakukan pencegahan agar gejala penyakit tersebut tidak bener-bener berubah menjadi penyakit yang berakibat fatal.

Yang cuek akan membiarkan gejala yang ada sampai penyakit bener-bener datang, padahal saat itu bisa jadi pengobatan sudah terlambat. Hanya kepada Allah kita mohon perlindungan, Amin.

Read more...

Sabtu, 14 Maret 2009

Sistem Keuangan Porak-poranda dengan Kerugian Triliunan

Bank-bank gelap” menipu investor, nasabah, dan masyarakat, serta menipu sesamanya. Pemodal dibujuk untuk menanamkan dana di perusahaan mereka. Dana dikucurkan kepada siapa saja yang bisa ditubruk tanpa memerhatikan kemampuan pengembalian pinjaman.


Krisis Global
Sabtu, 14 Maret 2009 | 03:07 WIB
Simon Saragih
Memiliki mobil atau rumah tidak harus dengan uang tunai, tetapi bisa dengan mencicil. Kebiasaan ini sudah berlangsung lama di dunia dengan mengandalkan pembayaran dari gaji. Hanya orang mapan yang bisa membeli segala kebutuhan dengan uang tunai.

Kegiatan mencicil seperti itu berjalan lancar. Tidak terdengar kebangkrutan massal perusahaan keuangan secara global sejak 1930-an. Ada sejumlah kasus kehancuran sistem keuangan di beberapa negara, tetapi tidak memberi efek domino kebangkrutan massal seperti sekarang.

Bukti lain, Presiden Bank Dunia Robert Zoellick mengatakan, tak pernah ada pertumbuhan ekonomi dunia yang negatif sejak Depresi Besar 1929.

Paul Krugman dan Joseph E Stiglitz, dua ekonom AS peraih Hadiah Nobel Ekonomi, mengatakan, ada regulasi yang membuat bank dan lembaga keuangan memberi kredit dengan rambu-rambu yang aman. Jika sebagian kredit yang dikucurkan macet, ada perusahaan asuransi yang menjamin kemacetan itu. Jika bank bangkrut sekalian, ada perusahaan penjamin deposito.

Dengan sistem seperti itu, konsumen, nasabah, dan perbankan sama-sama merasa aman dengan kegiatan saling meminjamkan, termasuk kegiatan meminjamkan kepada perusahaan. Dari proses pinjam-meminjam ini terjadilah permintaan, yang menjadi inti pendorong aktivitas perekonomian.

Kegiatan seperti itu buyar untuk sementara. Nasabah dan konsumen tidak dipercaya atau tidak memiliki daya beli sebagian karena sudah dikenai PHK. Bank tidak punya dana, bahkan sudah bangkrut, dan ini terjadi pada bank-bank kaliber dunia, seperti UBS, Citigroup, dan ABN-AMRO yang sudah almarhum.

Ini merembet ke perusahaan dengan anjloknya, misalnya, penjualan mobil buatan General Motors, Ford, Toyota, dan Honda. Hampir semua kategori produk mengalami penurunan penjualan. Sebagian kartu kredit pun kini sudah sekadar kartu yang tak berdaya beli lagi.

Warren Buffett mengatakan, kepercayaan itu pilar dari sistem yang tidak akan jalan tanpa kepercayaan. Ketiadaan kepercayaan itu contagious, menular dan menyebar ke semua sektor dengan daya rusak yang besar.

”Shadow banking”

Mengapa keadaan menjadi kacau? Kegiatan shadow banking, ”bank-bank gelap”, merajalela dalam 25 tahun terakhir. Sebagian ”bank-bank gelap” adalah perpanjangan tangan bank-bank konvensional dan tidak disentuh oleh hukum karena memang tidak diawasi. Regulator ketinggalan kereta.

Michael Hiltzik, kolumnis di harian AS, The Los Angeles Times, pada 12 Maret menulis, terjadi cerita horor dalam sistem keuangan. Walau dikatakan ”bank-bank gelap”, perusahaannya tidak gelap. Lehman Brothers adalah perusahaan AS berusia di atas 150 tahun. Sejumlah bank dan perusahaan besar dan resmi lainnya di AS juga terlibat. AIG, perusahaan asuransi terbesar dunia asal AS, pun sudah mirip ”spekulan”.

Besaran bisnis kegiatan ”bank-bank gelap”, menurut Paul Krugman, sekitar 10 triliun dollar AS, lebih besar dari kegiatan bank-bank konvensional. Mereka menggantikan peran utama bank konvensional dan menjadi saluran utama proses pinjam-meminjam.

”Bank-bank gelap” menipu investor, nasabah, dan masyarakat, serta menipu sesamanya. Pemodal dibujuk untuk menanamkan dana di perusahaan mereka. Dana dikucurkan kepada siapa saja yang bisa ditubruk tanpa memerhatikan kemampuan pengembalian pinjaman. Sekitar 1,2 juta warga di AS, misalnya, bisa mendapat rumah dari kredit, yang tidak didukung pendapatan untuk mencicil di kemudian hari. Walau untung tak ada, eksekutifnya mendapat bonus besar, seperti terjadi pada Merrill Lynch. ”Horrific,” kata Krugman.

Masalah bukan hanya karena kucuran kredit berlebihan tanpa rambu-rambu. ”Bank-bank gelap” itu juga turut serta berspekulasi di bursa. Dana-dana yang mereka dapat dimainkan di bursa. Salah satu yang terkenal adalah dengan mengerek harga komoditas menjadi tinggi, seperti harga kedelai dan minyak, sebagaimana pernah dikatakan Steve Forbes, pemilik majalah Forbes.

Para eksekutif keuangan Wall Street meraup keuntungan pribadi tidak dari keuntungan perusahaan, tetapi menelan dana dengan mengorbankan nasabah. Ini terjadi pada kasus Bernard Madoff, penipuan tunggal terbesar dalam sejarah dengan kerugian 170 miliar dollar AS.

CEO JP Morgan Chase Jamie Dimon, di New York, pekan ini, mengakui, perilaku seperti itu telah mengacaukan sistem keuangan. CEO HSBC Stephen Green mengakui, etika buruk sistem perbankan telah menjadi sumber kekacauan.

Berdasarkan data Bank Pembangunan Asia, jumlah uang yang lenyap akibat kekacauan di sektor keuangan sekitar 50 triliun dollar AS. Ini termasuk nilai kekayaan dunia yang lenyap akibat kejatuhan indeks-indeks di bursa global, bukan saja di AS.

CEO Blackstone Group LP Stephen Schwarzman, Selasa (10/3) di New York, mengatakan, 45 persen kekayaan dunia rusak akibat krisis kredit global. Jika dunia kehilangan 50 triliun dollar AS dana, bayangkan apa dampaknya untuk dunia dengan besaran produk domestik bruto (PDB) 60 triliun dollar AS?

Bagaimana memulihkan ekonomi dunia, kapan krisis akan selesai. ”Saya hanya bisa mengharapkan agar kita semua mendapatkan keberuntungan,” kata Krugman di National Press Club, Washington, Desember 2008. Pernyataan ini merefleksikan dalamnya persoalan, yang tidak bisa diprediksi kapan dan bagaimana menyelesaikannya

Read more...

Sabtu, 07 Maret 2009

Kapitalisme Ribawi Yang Memakan Dirinya Sendiri…


Erisychthon seorang tukang kayu yang kaya namun sangat serakah. Saking serakahnya, si tukang kayu bahkan berani menebang pohon kesayangan dewa mereka.Karena rasa lapar yang tidak pernah bisa terkenyangkan – maka akhirnya Erisychthon-pun memakan dirinya sendiri.


Written by Muhaimin Iqbal
Saturday, 07 March 2009 05:18

Ada cerita menarik dari Danah Zohar dalam bukunya yang best seller di seluruh dunia Spiritual Capital, yang sangat relevan dengan krisis financial yang melanda dunia saat ini.

Cerita ini sendiri berasal dari Mythology Yunani kuno tentang seorang tukang kayu yang kaya namun sangat serakah bernama Erisychthon. Saking serakahnya, si tukang kayu bahkan berani menebang pohon kesayangan dewa mereka – dimana rakyat Yunani biasa ‘beribadah’ di sekitar pohon tersebut.

Konon sang ‘dewa’ sangat marah atas ditebangnya pohon tersebut, dan dikutuklah Erisychthon untuk tidak pernah kenyang walau apapun telah dimakannya. Maka mulailah Erisychthon memakan apapun yang dijumpainya, toko dan isinya dimakan sampai habis, setelah itu keluarganya juga dimakan sampai habis – sampai tinggal satu-satunya yang ada di sekitar dia, yaitu dirinya sendiri. Karena rasa lapar yang tidak pernah bisa terkenyangkan – maka akhirnya Erisychthon-pun memakan dirinya sendiri.

Betapapun tidak masuk akalnya cerita tersebut, tetapi nampaknya realita yang tidak jauh berbeda sesungguhnya terjadi di dunia financial ribawi jaman modern, sehingga menimbulkan krisis di seluruh dunia sampai saat ini.

Dua hari lalu saya sarapan pagi dengan kawan lama seorang professional senior di lembaga pembiayaan yang sekarang induknya sudah di caplok oleh konglomerasi asing. Karena beliau sedang dalam taraf untuk berhijrah ke jalan yang lebih baik, beliau menceritakan apa yang bertentangan dengan hatinya yang antara lain terkait dengan krisis financial global dewasa ini. Yang diambil contohnya oleh beliau adalah industri otomotif di Amerika.

Dalam pasar yang normal, semestinya keseimbangan antara supply and demand terjadi dengan sendirinya. Produsen akan memproduksi sejumlah barang yang dibutuhkan konsumen, dan konsumen membeli kebutuhannya pada tingkat harga yang wajar sesuai kemampuan dirinya untuk membeli kebutuhan tersebut.

Apa yang dilakukan oleh lembaga-lembaga ribawi terhadap keseimbangan supply and demand tersebut ?.

Awalnya dia datang ke produsen mobil dan bilang sama si produsen untuk memproduksi mobil lebih banyak. Nggak punya modal ?, gampang tinggal dipinjami (tentu dengan bunga –karena bunga inilah daya tarik mereka). Nggak ada yang beli ?, gampang, nanti lembaga ribawi tersebut juga yang akan menggarap pembelinya.

Maka kemudian si lembaga ribawi datang ke konsumen (dengan berbagai iklannya), untuk mendorong konsumen membeli mobil yang sudah diproduksi produsen tersebut diatas. Konsumen nggak punya duit ?; gampang pula solusinya – tinggal dipinjami lagi oleh mereka – tentu lagi-lagi dengan bunga karena memang bunga inilah inti bisnisnya.

Keenakan mendapatkan bunga dari produsen dan juga konsumen, membuat lembaga ribawi semakin keranjingan ‘menciptakan’ keseimbangan baru pada supply and demand.

Kalau awal-awalnya yang digarap adalah produsen & konsumen yang credible yang memang mampu memproduksi/membeli barang dan mampu pula mengembalikan hutangnya; maka lama- kelamaan ‘pasar’ yang credible tersebut habis – tinggallah produsen abal-abal dan konsumen yang sebenarnya tidak mampu untuk meminjam dan mengembalikan hutangnya.

Apa yang terjadi kemudian ?, lembaga-lembaga ribawi tersebut mulai kesulitan menagih piutangnya ke para nasabahnya; bukan sepenuhnya salah nasabah sebenarnya – tetapi sebagian besar karena ulah lembaga-lembaga ribawi tersebut sendiri.

Setelah diambang kesulitan financial global yang begitu banyak korbannya, apakah attitude lembaga ribawi ini berubah ?, ternyata tidak. Sejauh pendapatan utama mereka dari bunga – maka mereka akan tetap memburu mangsanya untuk ‘dipinjami’ agar mereka tetap mendapatkan sumber bunga-nya.

Buktinya yang sangat up-to-date malam-malam begini (jam 11 malam ketika saya menulis artikel ini), masih juga ada sms sampai ke hand phone saya yang menawarkan kemudahan dana tunai…..

Hari gini ? ada kemudahan dana tunai ?...apa lagi kalau bukan mereka sedang mengincar kita-kita untuk menjadi sumber pendapatan bunga berikutnya. Kalau orang seperti kitapun sudah habis digarapnya, siapa lagi yang digarap ? mungkin mereka akan mulai memakan dirinya sendiri seperti cerita Erisychthon tersebut diatas….Wallahu A’lam.
Last Updated on Saturday, 07 March 2009 05:26

Read more...

Selasa, 03 Maret 2009

Raksasa-Raksasa Yang Berguguran…

Written by Muhaimin Iqbal
Tuesday, 03 March 2009 07:05
Sinyal belum beresnya system keuangan ribawi di dunia masih terus bermunculan dari hari ke hari. Pasar saham dunia semalam ditutup dengan penurunan yang sangat tajam, DOW turun 4 % menjadi 6763.29 yaitu terendah sejak 12 tahun terakhir.

Harga minyak dunia juga turun lebih dari 10 % dipicu oleh kekawatiran memburuknya ekonomi sehingga konsumsi bahan bakar akan turun. Harga emas-pun turun tetapi tidak sebesar penurunan harga minyak dan komoditi lainnya.

Yang lebih menghebohkan lagi di berita-berita finansial kemarin adalah diumumkannya kerugian AIG – raksasa asuransi dunia – sebesar US$ 61.7 Milyar, suatu angka kerugian korporasi terbesar sepanjang sejarah Amerika.

Bukan hanya kerugian yang selangit ini yang bikin heboh, tetapi juga AIG dituntut oleh mantan salah satu direksi yang juga pemegang sahamnya yaitu Maurice Greenberg. Greenberg menuduh manajemen AIG menutupi kondisi keuangan yang sebenarnya sehingga pemegang saham terbujuk untuk membeli saham tambahan dalam deferred compensation plans. Para pemegang saham ini akhirnya kehilangan seluruh investasinya di AIG setelah kerugian raksasa tersebut terungkap.

Bersamaan dengan hebohnya kerugian AIG; ‘dewa’-nya investasi Amerika Warren Buffet juga membuat heboh pasar investasi dengan surat terbuka ke para pemegang sahamnya. Di antara isi surat terbuka tersebut Buffet mengakui bahwa dirinya telah membuat beberapa langkah bodoh sehingga keuntungan kelompok usaha yang dipimpinnya anjlog 96 % dari tahun sebelumnya.

Krisis kali ini nampaknya lebih besar dampaknya bagi Amerika ketimbang peristiwa WTC 9/11. Ketika peristiwa WTC terjadi, Warren Buffet dengan perusahaannya Berkshire Hathaway relatif tidak terganggu. Saya masih ingat selepas peristiwa WTC ketika saya sebagai eksekutif perusahaan asuransi terbesar di Indonesia, mengalami kesulitan mencari kapasitas penutupan objek risiko terbesar di Indonesia waktu ini (US$ 4.6 Milyar) – Berkshire Hathaway inilah yang akhirnya bisa menutupi kekurangannya.

Bedanya dengan peristiwa WTC 8 tahun lalu adalah kali ini mereka tidak bisa menyalahkan orang lain atas apa yang dialaminya; maka tak kurang dari Warren Buffet harus mengakui kebodohannya secara terbuka.

Dari keruntuhan-keruntuhan raksasa finansial dunia ini, sesungguhnya banyak hal yang negeri Indonesia yang kita cintai ini harus belajar. Bahwa kiblat system keuangan dunia yang selama ini kita contoh – ternyata tidak dapat menjadi contoh.

Mereka mengajarkan ke kita tentang Good Corporate Governance (GCG) bahkan setengah memaksakan pelaksanaannya, ternyata mereka sendiri tidak melaksanaknnya.

Mereka mengajarkan investasi yang prudent, risk management yang canggih – lagi-lagi sekedar teori; para pelaku investasi yang disana sangat disegani sekalipun – juga tidak melaksanakannya.

Kini kesempatan kita untuk bangkit dengan cara kita sendiri; Agama yang oleh Maha Pencipta sendiri sudah dinyatakan sempurna – tentu sangat memadai untuk kita jadikan pegangan. Kalau dalam hal keluar masuk kamar kecil saja ada aturannya di agama ini, tentu dalam hal yang sangat besar seperti pasar, uang , system ekonomi dlsb. pastilah agama ini punya tuntunannya yang sempurna. Tinggal tantangannya adalah bagaimana kita menggali mutiara-mutiara ini dari dasarnya, bukan dari system ekonomi barat yang di cocok-cocokkan dengan system Islam. Wallahu A’lam.

Copyright © 2009 Gerai Dinar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL Licens

Read more...

Rabu, 11 Februari 2009

Monster Inflasi dan Monster Deflasi Versi European Central Bank…

Written by Muhaimin Iqbal
Wednesday, 11 February 2009 06:27
nflasi dan deflasi adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat yang hidup di era uang kertas ini. Kebanyakan kita merasakan bahwa inflasi (atau sangat jarang deflasi) itu bener-bener ada, tetapi tidak mudah memahami makhluk apa sih inflasi dan deflasi itu ?, bagaimana terbentuknya atau kapan lahirnya dlsb.

Nah untuk menjelaskan masalah inflasi dan deflasi ini secara menarik ke masyarakat, bahkan sejak mereka di bangku sekolah – European Central Bank (ECB) punya ide kreatif – yaitu membuat film animasi pendek sekitar 5 menit yang bercerita tentang dua monster yaitu Monster Inflasi dan Monster Deflasi. Kalau akses internet Anda cukup bagus, Anda bisa mengakses langsung dengan klik di link ini.


Tidak terbatas pada film animasi tersebut, ECB juga menyiapkan dokumen PDF untuk bisa di download para guru dan masyarakat untuk bahan ajar atau sosialisasi masyalah inflasi dan deflasi ini.

Sepintas film animasi ini nampak baik- baik saja dan cukup menarik untuk ditonton. Namun saya sendiri melihat film animasi tersebut merasa jadi bodoh, atau filmnya yang sengaja membodohkan penontonnya.

Di film animasi ini digambarkan ada dua orang pelajar yang sedang mendengarkan pelajaran tentang pengendalian harga dari gurunya, lalu ujug-ujug mereka berada didepan toko roti yang harga rotinya terus naik.

Ditengah kepanikan harga roti yang terus naik tersebut, datanglah si monster inflasi yang membagikan uang secara cuma-cuma. Semakin banyak uang dibagikan oleh si monster inflasi – semakin tinggi pula harga roti.

Akhir cerita bisa diduga bahwa si pembuat film-lah jagoannya. Maka ketika dua pelajar tersebut datang berkunjung ke kantor ECB; oleh manager Bank Central-nya Eropa tersebut dijelaskan bahwa ECB bertugas menjaga stabilitas harga –harga.

Menurut sang manager, masyarakat yang terwakili oleh dua pelajar tersebut tidak lagi perlu kawatir - karena si Monster Inflasi dan Monster Deflasi keduanya telah ditangkap oleh ECB. Keduanya dikecilkan dan dimasukkan ke stoples…mirip kisah pemburu hantu di televisi kita .

Mengapa saya merasa jadi bodoh nonton animasi ini ?. Karena ECB hanya bercerita dari satu sisi yang mentokohkan dirinya menjadi pahlawan penakluk Monster Inflasi dan Monster Deflasi.

Mereka tidak bercerita terus terang ke masyarakat siapakah Monster Inflasi dan Monster Deflasi tersebut sebenarnya ?. Siapa yang bisa mencetak uang dan meningkatkan supply uang secara berlebihan ke masyarakat ?, Atau menurunkannya dengan mengendalikan suku bunga perbankan ? Bukankan ini ECB juga yang melakukannya ?.

Atau dengan kata lain, kalau ECB jujur bukankah sebenarnya tokoh pahlawan dan tokoh monster-monster tersebut makhluknya adalah sama yaitu ya ECB-ECB juga ?.

Kalau menurut George Cooper penulis buku terkenal “The Origin of Financial Crises” (Vintage Book, New York, Dec 2008), tokoh Monster tersebut bukan ECB sendiri – tetapi sepupunya ECB ! – yaitu pemerintah-pemerintah yang punya andil dalam ECB. Argumen dia adalah, bukan ECB yang mencetak uang – tetapi pemerintahnya-lah yang mencetak uang terus menerus sehingga menggelembungkan inflasi- kemudian pemerintahan yang sama minta ECB mengendalikan inflasi yang diciptakannya ini.

Menurut Cooper lebih lanjut, bahkan monster-monster ini punya tanggal lahir yaitu 15 Agustus 1971 – ketika presiden Nixon mengumumkan berakhirnya era cadangan emas untuk setiap pencetakan uang kertas – dan mulainya era uang fiat murni. Dalam rezim uang fiat murni yang dianut di seluruh dunia saat ini, pemerintah bisa mencetak uang kertas berapa saja tanpa harus memikirkan cadangan emas yang mereka miliki. Di era uang fiat murni inilah – monster-monster inflasi meraja lela di seluruh dunia.

Apa yang dilakukan ECB sebenarnya baik dengan berusaha menjelaskannya secara mudah ke masyarakat; yang kurang tinggal kejujurannya dalam menceritakan hal yang menjadi hajat hidup orang banyak ini. Wallhu A’lam.
Last Updated on Wednesday, 11 February 2009 06:47

Copyright © 2009 Gerai Dinar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.

Read more...

Sabtu, 07 Februari 2009

Bahkan Investor Besar-pun Lari Ke Emas...

Written by Muhaimin Iqbal
Wednesday, 04 February 2009 13:34
Ada berita menarik yang saya ingin share dengan pembaca situs ini, berita ini dimuat di Blommberg kemarin. Bagi yang tertarik baca beritanya langsung - silahkan klik ke link yang saya berikan ini. Bagi yang tidak sempat baca berikut saya sampaikan inti sarinya.

Dalam sebuah interviewnya Eric Sprott, Chairman dan pendiri Sprott Asset Management Inc. Canada mengungkapkan bahwa Amerika baru dalam tahap awal depresi yang akan mendorong harga emas naik lebih dari dua kali dari sekarang - perkiraan dia akan berada pada kisaran angka US$ 2000/ oz.

Pendapat Eric Sprott ini menjadi perhatian dunia karena selain dia mengelola dana yang besarnya US$ 4.5 Milyar; pernyataan-pernyataannya sebelumnya juga banyak yang terbukti. Beberapa bulan sebelum tragedi Lehman Brothers dan Bear Stearns & Co. misalnya, Eric sudah mengingatkan akan apa yang disebut systemic financial melt down.

Keputusan Eric Sprott yang sejak Maret tahun lalu mulai mengamankan sebagian dana yang dikelolanya ke emas juga terbukti menjadi keputusan yang benar, sejak keputusan tersebut 81 dari Fortune 500 Companies telah mengalami penurunan index sampai 62 %.

Masih dari sumber berita yang sama, sebenarnya bukan hanya Eric Sprott pengelola dana besar yang mulai mengalihkan sebagian dananya ke emas. Di New York ada Green Light Capital, Inc. yang mengelola US$ 5.1 Milyar yang juga sudah mulai membeli emas untuk mengamankan asset-nya.

Pertanyaannya adalah mengapa pengelola dana sekaliber Eric Sprott berpikir untuk mulai mengalihkan dananya ke emas ?. Menurut Eric Sprott, ada kemungkinan segala upaya yang dilakukan oleh pemerintah Amerika untuk menyelamatkan ekonominya akan gagal.

Upaya terbesar dalam menyelamatkan ekonomi Amerika intinya adalah melalui penerbitan hutang baru dalam berbagai bentuknya. Masalahnya sekarang adalah siapa yang akan membeli hutang-hutang baru tersebut ? lha wong seluruh dunia sekarang juga lagi sibuk menyelamatkan ekonominya sendiri.

Sebagaimana prediksi ekonomi pada umumnya, prediksi Eric bisa benar dan bisa pula keliru. Namun kalau kita invest di emas atau Dinar sekarang - tidak akan ada ruginya - apapun yang terjadi dengan hasil prediksi Eric.

Bila ternyata harga emas melonjak lebih dari dua kalinya dari sekarang (artinya daya beli uang kertas anjlog), kita telah pula menyelamatkan asset kita. Kalau yang terjadi sebaliknya - harga emas turun - kita juga tahu emas atau dinar tidak pernah kehilangan daya belinya. Wallhu A'lam.
Last Updated on Thursday, 05 February 2009 11:26

Copyright © 2009 Gerai Dinar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.


Read more...

Kamis, 22 Januari 2009

Gold prices advance as investors seek safety

By SARA LEPRO
AP Business Writer
Published: Tuesday, Jan. 20, 2009

NEW YORK -- Gold prices advanced Tuesday as investors sought safety amid fears of a deepening global banking crisis. Other commodities fell amid expectations that demand will continue to weaken.

Signs that banks are still suffering big losses from soured loans, and warnings that those losses will continue for some time have investors worried that the government's efforts to prop up the financial system won't be enough. That rattled Wall Street Tuesday, causing investors to flee stocks and move their money to more traditionally safe investments like gold.

The Dow Jones industrials plunged 332 points, or 4 percent, to finish at 7,949. Broader stock indexes lost more than 5 percent.

Gold, which typically moves inversely with the dollar, also rose despite signs of strength in the U.S. currency. Gold prices tend to benefit when the dollar is weak, as the contract is often used as a hedge against inflation.

On Tuesday, the dollar gained ground against the euro and the British pound after the British government announced a second rescue plan for the country's banks in just over three months. Separately, the British government increased its stake in the Royal Bank of Scotland to nearly 70 percent, after the bank forecast for a loss of $41.3 billion in 2008.

The report dovetailed with discouraging results at U.S. banks. Regional bank Regions Financial Corp. reported a fourth-quarter loss of $6.24 billion due to a hefty one-time charge to reflect declining value in its banking reporting unit. And State Street Corp. reported a 71 percent drop in fourth-quarter earnings and warned of a difficult year ahead.

The news followed reports of multibillion losses announced Friday by Citigroup Inc. and Bank of America Corp.

Plagued by concerns about a drop in demand for raw materials amid a worsening recession, commodities prices have shown little strength so far this year - extending a trend that began in the middle of 2008 as the economy took a turn for the worst. But investors often look to gold in times of economic uncertainty, so prices have been cushioned from some of the fears about falling prices that are hurting other commodities.

"Gold will not necessarily move in line with other commodities at all," said Natalie Dempster, head of investment at World Gold Council.

"Gold has different fundamentals," Carlos Sanchez, analyst with CPM Group in New York, agreed. "It's not as supply-demand based, it's more investor based. I think you saw that today with the stock market lower and some safe-haven buying."

Gold for February delivery gained $15.30 to settle at $855.20 an ounce on the New York Mercantile Exchange.

Other precious metals prices fell. March silver shed 4 cents to $11.1750 an ounce, while March copper futures fell 2.3 cents to $1.5045 a pound.

The yield on the benchmark 10-year Treasury note, which moves opposite its price, rose to 2.35 percent from 2.34 percent late Friday.

Energy prices fell on the Nymex, revealing little optimism that energy demand will improve.

Light, sweet crude for March delivery fell $1.53 to settle at $40.68.

A limited number of traders took advantage of the February contract which expires Tuesday. That contract rose $2.23 to settle at $38.74 per barrel. Trading in the final day of the contract was very light.

In other Nymex trading, gasoline futures fell 2.4 cents to settle at $1.1431 a gallon, while heating oil dropped 9.76 cents to settle at $1.3758 a gallon.

Grain prices slumped on the Chicago Board of Trade.

March wheat futures tumbled 28.25 cents to $5.50 a bushel, while corn for March delivery fell 7.5 cents to $3.835 a bushel. March soybeans fell 28 cents to $9.92 a bushel.

Read more...

Selasa, 20 Januari 2009

Hanya Ada Satu Penantang US Dollar :

Written by Muhaimin Iqbal
Tuesday, 20 January 2009 08:25

“Sebagai akibat dari resesi skala gobal, tidak ada negara yang menginginkan mata uangnya terapresiasi. Alternative bagi US Dollar tahun 2009 bukanlah mata uang negara lain, tetapi ‘mata uang kuno’ yaitu emas. Logam Mulia dapat muncul sebagai hedge atas kecurigaan investor terhadap perilaku bank sentral dan ketakutan akan inflasi…”. David Hales dalam tulisannya tanggal 5 Januari lalu di Financial Times.

Ini bukan kali pertama saya menemukan penulis barat yang objektif tentang mata uang. Pemikir-pemikir di Gold Anti Trust Action Committee (GATA) sudah lama mengungkapkan pandangannya yang senada, Ter-wacanakan-nya Bretton Wood II oleh para pemimpin dunia G-20 juga tidak terlepas dari pengakuan bahwa sebenarnya emas-lah uang yang sejati itu.

Berbeda dengan kita yang meyakini uang yang sejati (timbangan yang adil) hanyalah emas dan perak berdasarkan keyakinan agama kita, David Hales berkesimpulan bahwa pengganti US Dollars hanyalah emas berdasarkan kondisi financial global terkini, sebagaima antara lain terungkap dalam beberapa realita berikut:

· Seluruh pemain ekonomi dunia tergelincir dalam resesi. Real GDP di Amerika dan di Eropa akan mencapai minus 1.5%, dan Jepang akan lebih buruk lagi dan bisa mencapai minus 2.5%.

· Response dari negara-negara Eropa (yang sebenarnya memiliki calon kuat mata uang pengganti US$ yaitu Euro), jauh lebih lamban dari respon Amerika dalam bentuk berbagai stimulus ekonomi. Jadi mata uangnya juga tidak bisa diharapkan.

· China yang terpukul oleh krisis ini, diperkirakan tidak akan intervensi pasar untuk menaikkan nilai tukar mata uangnya. Pertama karena cadangan devisa mereka mulai menurun, kedua menaikkan nilai tukar mata uang akan menurunkan daya saing ekspornya yang saat inipun sudah terganggu.

· Mata uang Jepang yang saat masih kuat kedepannya akan cenderung ditekan oleh pemerintahnya sendiri dengan alasan yang sama yaitu karena penurunan ekspor dan penurunan kapasitas produksi.

· Lalu lintas perdagangan dunia akan turun karena negara-negara pengimpor besar mengalami resesi. Tidak hanya Eropa, Amerika dan Jepang, tetapi juga yang tidak kalah buruk adalah Korea Selatan, Taiwan dan Cina.


Amerika tetap boleh bangga memiliki mata uang yang terkuat diantara mata uang-mata uang lain yang lemah. Namun ini hanya terjadi selama penantangnya yang sesungguhnya – yaitu emas/Dinar – belum muncul. Tidak heran mengapa pemerintah mereka selalu memusuhi emas, sampai-sampai warga mereka sendiri yang menyadari bahwa mereka terdhalimi oleh pemerintahnya – mendirikan berbagai organisasi untuk melawannya seperti GATA, FAME (Foundation of Advance Monetary Education) dlsb.

Bagi kita umat Islam; kepada kita sudah dikabarkan tentang kehancuran mereka ini – namun apakah kita yang akan menggantikannya ? tergantung kemauan kita untuk mulai bekerja untuk ini.

“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (QS 59 :2)

Jadi Allah telah menghancurkan (ekonomi) mereka dengan tangan-tangan mereka sendiri, yang diperlukan sekarang adalah munculnya tangan-tangan kaum mukminin untuk menggantikannya. Kalau tangan-tangan kaum mukminin tidak juga segera muncul, maka yang akan muncul bisa jadi kedhaliman lain dalam bentuknya yang baru. Wallahu A’lam.

Last Updated on Tuesday, 20 January 2009 08:35

Copyright © 2009 Gerai Dinar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.


Read more...

Senin, 05 Januari 2009

Peter Schiff: Gold Will Rise, Dollar Will Collapse....

Written by Administrator
Wednesday, 19 November 2008 14:48

The opinions expressed in this presentation are those of the interviewee and interviewer and may differ from those of other persons. These views are not intended to be a forecast of future results, or investment advice. The information is not intended to represent any past or future investment recommendation, and any market conditions described may not continue.
Mike Norman, HardAssetsInestor.com (Norman): Hello everybody, and welcome back for another installment of HardAssetsInvestor.com’s interview series. I’m Mike Norman, your host. Well, he’s back. Mr. Doom and Gloom is here … Peter Schiff, president of Euro Pacific Capital and author of the new book just out, “Bull Moves in Bear Markets.”

Peter Schiff, president of Euro Pacific Capital (Schiff): “The Little Book ...”

Norman: “The Little Book …”; it’s in The Little Book Series. Well look … the last time you were here, things were kind of going your way, but it looks like things have turned upside down.

All kidding aside, I know your big thing over the last seven or eight years has been gold. We’re very supportive of gold on this show; we think that probably people should have some gold as part of their overall portfolio mix. But let’s just look at what happened.

Several weeks ago, the U.S. stock market had its worst week in history … even going back to the 1930s … worst week in history. I saw a breakdown of various assets – all assets really – stocks, bonds, gold, commodities, oil. Gold was at the bottom of the list. The top-performing asset, and something that you hate, was the U.S dollar.

So how do you explain that? If we are going through the worst economic and financial crisis in history – precisely what gold is supposed to protect against – why would it perform so bad?

Schiff: Well, I think it will perform very well; you got to give it a little bit more time.

Norman: More time or more decimation?

Schiff: No, what’s happening right now, Mike, is just de-leveraging, and so gold is going down for the same reason a lot of stocks are going down, a lot of commodities are going down. There’s a lot of leverage in this system, there’s a lot of margin calls, a lot of liquidation; a lot of people are having to sell whatever they own to pay off their debts.

Norman: But look at where the money is going … the money is going into U.S. sovereigns, Treasuries … it’s going into the U.S. dollar.

Schiff: For now.

Norman: Why for now?

Schiff: Right now there’s some perception of safety there, but it’s the opposite of the leveraging. If you’re selling your assets, you’re accumulating dollars; but ultimately right now, it’s like there’s been this gigantic nuclear explosion in the United States, and everybody is running toward the blast. Pretty soon they’re going to figure out they’re going in the wrong direction.

Norman: You always talk about gold as a currency, and we have seen currencies appreciate – the yen, for example, the dollar tremendously, for example, but gold has not held up.
Schiff: Well, if you actually look at gold versus other currencies, in the last couple of weeks gold has made new record highs in terms of the South African rand, the Canadian and Australian dollars … so gold was not doing as poorly as many of the currencies, and I think this is all short term.
I think you’re going to see a lot of money moving into gold, and if you look at how much gold has gone down from the peak, the peak was about a thousand … it’s off about 25%. Stocks are off 40%. Gold is still up during this year against the Dow.

Norman: Let’s see the performance from this point forward; we’ll look back at this again and we’ll revisit this issue.
Let’s talk about something else, something that you have also … and I just mentioned it … the U.S. dollar. You were very, very negative. In the last month, we have seen unprecedented actions by the U.S. Fed in terms of expansion of the monetary basis; in other words, printing money … what you call printing money … and despite that, the dollar has remained incredibly strong.
How do you explain that according to your logic?

Schiff: Everything the government is doing is inherently negative for the dollar, and all of this…

Norman: It’s not playing out that way.

Schiff: It will; you’ve got to give it time.

I remember when I was on television talking about the subprime and people were telling me it’s no big deal, and I said, just wait a while; give it time.
Look, everything that we’re doing – all the bailouts, all the stimulus packages – this is all being financed by inflation. It’s inherently terrible for the dollar.

Norman: But you just said yourself that everything is deflating.

Schiff: But right now, Mike, you’re getting this de-leveraging, and this is benefitting the dollar, so despite the horrific fundamentals for the dollar, it’s going up anyway.
But ultimately, when this phony rally runs out of steam, the dollar is going to collapse, and that’s when we’re going to have a much greater crisis because now you’re going to have a collapsing dollar, which is going to push long-term interest rates up, commodity prices up.

Norman: I still don’t understand why the dollar is going to collapse. So you’re saying that the Fed is just going to allow … or leave this enormous amount of liquidity in there, that at some point down the road, if we recover, they’re not going Scto take it out?

Schiff: Look, they have no control over it. The Fed is trying to artificially reflate our phony economy, right?
We had this economy that was based on Americans borrowing money and then spending it on products. We have this huge debt finance bubble which is collapsing, and it’s being supported by foreigners.
But when this artificial demand for Treasuries goes away, the Fed is going to try to print a lot of money and the dollar is going to get killed.

Norman: All right; I’m going to ask you to hold on. Folks, check back because we’re going to do the second part of my interview with Peter Schiff, so check back to this site. This is Mike Norman; bye for now.

Read more...

Kamis, 11 Desember 2008

Tinggalkan US Dollar Selagi Masih Berharga…

Written by Muhaimin Iqbal
Thursday, 11 December 2008 07:31

Peringatan ini saya ambilkan dari study oleh Casey Research yang kemudian dituangkan dalam the Casey Report baru-baru ini.
Terungkap dari report yang panjang ini bahwa selama krisis finansial yang sampai sekarang tengah berlangsung, Amerika Serikat telah mem-bailout atau berkomitment untuk bailout sebesar US$ 8.5 trilyun. Bailout ini melibatkan empat institusi keuangan negeri itu seperti dalam grafik, lebih dari 61 % sendiri dikeluarkan oleh Federal reserve.

Dalam teori ekonomi yang umum, bailout ini mestinya tidak masalah karena umumnya berupa loan, equity atau guarantee. Loan mestinya harus dibayar oleh si penerima pinjaman pada akhirnya. Equity akan menambah kepesertaan pemerintah di
berbagai sektor usaha. Demikian pula guarantee mestinya juga tidak menimbulkan kerugian pada asset pemerintah – karena tidak ada cash out-nya.

Namun seluruh bailout tersebut ternyata menjadi masalah besar setelah terungkap dalam report tersebut diatas bahwa; loan yang dikeluarkan oleh ( atau dijanjikan) pemerintah dalam program bailout tersebut mencapai US$ 2.3 trilyun dan rata-rata tidak di back up oleh asset yang ada harganya. Artinya lebih besar kemungkinan tidak terbayarnya, daripada kemungkinan terbayar.


Bailout yang berupa equity mencapai US$ 3.0 trilyun, tetapi ternyata ini rata-rata equity pada perusahaan yang bangkrut. Bahasa jawanya ini Nguyahi Segoro (nggarami laut).

Yang terbesar berupa gurantee pemerintah yang mencapai US$ 3.2 trilyun, rata-rata ini pada produk-produk derivative dan produk investasi bodong lainnya yang sedang runtuh – yang pada waktunya nanti akan menuntut pihak pemberi guarantee untuk bener-benar menalanginya. Artinya yang mestinya tidak menjadi cash-out-pun akhirnya bener-bener akan menjadi cash-out.

Lantas seberapa besar sih sebenarnya uang US$ 8.5 trilyun ini ?; grafik disamping menggambarkan bahwa seluruh project besar bangsa Amerika sepanjang sejarah – setelah di adjusted dengan faktor inflasi – kalau di total hanya mencapai US$ 8.1 trilyun.

Perang Dunia II misalnya setelah di adjusted dengan inflasi ‘hanya’ membebani Amerika US$ 4.1 trilyun; Seluruh program NASA yang diantaranya sampai membawa bangsa Amerika ke bulan hanya perlu US$ 0.885 trilyun. Perang Vietnam hanya US$ 0.686 trilyun.

Apa makna dari angka-angka ini semua ?. Maknanya adalah pemerintahan Amerika telah menggadaikan bangsa dan kekayaannya sampai bergenerasi yang akan datang. Selama bangsa-bangsa lain tetap memberi mereka pinjaman – dengan menggunakan uang Dollar Amerika – kemungkinan mereka bisa saja survive hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun.

Balon yang terus menerus ditiup, akhirnya akan meletus juga. Inilah yang akan terjadi dengan Amerika dan dengan uang US Dollarnya.

Para pemberi pinjaman (semua pihak yang masih menggunakan US Dollar – termasuk saya dan Anda kala bepergian keluar negeri dlsb.) ini akhirnya juga akan sadar bahwa yang diberi pinjaman ini sebenarnya tidak layak menerimanya. Bukan hanya karena mereka tidak akan mampu membayarnya, tetapi juga mereka menggunakan pinjaman dari bangsa-bangsa lain di dunia untuk membiayai kesombongannya – bahkan kadang untuk menindas bangsa lainnya !.

Mulai saat ini, bantulah pemerintah kita menyelamatkan Rupiah – paling tidak ini lebih baik daripada membantu pemerintah Amerika menyelamatkan uangnya.

Namun kalau pemerintah kita juga mengikuti cara-cara Amerika – ingat peribahasa “Guru…berdiri, murid…berlari “?, maka kita juga harus pikirkan cara-cara kita menyelamatkan diri, keluarga , masyarakat dan bangsa ini kedepan…Solusi Dinar adalah salah satunya. Wallahu A’lam.
Read more...

Rabu, 03 Desember 2008

Ketika Mereka Ragu Dengan Uangnya...

Written by Muhaimin Iqbal
Wednesday, 03 December 2008 10:51

Kalau yang ragu tentang sistem uang fiat ini adalah orang kebanyakan seperti kita, mungkin ini tidak terlalu masalah. Tetapi bagaimana kalau yang ragu ini adalah menteri keuangan dari suatu negara yang mengaku dirinya Adi Kuasa ? - ini seharusnya menjadi perhatian yang serius bagi siapapun yang concern terhadap uang mereka.
Karaguan ini nampak jelas sekali terungkap dalam perdebatan antara Ben Bernanke – US Federal Reserve Chairman dan Ron Paul - US Treasury Secretary lewat klip video 5 menit yang kita dapat saksikan langsung di YouTube.


Rekaman Video ini nampaknya diambil dari rapat resmi di Konggres sekitar dua pekan lalu.

Berikut adalah inti dari keraguan mereka yang saya terjemahkan bebas dari video klip tersebut :

· Selama ini mereka telah mengeluarkan begitu banyak dana dan energy untuk menyelamatkan system uang kertas yang sebenarnya sudah tidak berjalan sebagaimana mestinya.

· Mereka telah gagal untuk menyadari bahwa system keuangan mereka sebenarnya sudah tidak workable. US$ telah mati. !.

· Akar permasalahan yang sudah dimulai sejak 1971 (ketika Bretton Wood Agreement diingkari) tidak bisa disembuhkan hanya dengan intervensi pasar.

· Mereka menyadari bahwa dunia sudah mulai membicarakan untuk mengganti US$ sebagi international reserve dengan New international reserve currency, namun mereka belum tahu apa bentuknya.

· Ron Paul mempertanyakan ke Ben Bernanke , apakah Emas sudah mulai disebut-sebut sebagai pengganti reserve currency dalam pembicaraan-pembicaraan para Bank Sentral Dunia – dimana Amerika terlibat di dalamnya.

· Menurut Ron Paul pula, bahwa solusi dari krisis ini adalah kembali ke currency yang istilah dia memiliki integrity , bukan sekedar fiat money.

Pernyataan-pernyataan Ron Paul tersebut khususnya pernyataan bahwa US$ telah mati, tentu saja dibantah oleh Ben Bernanke dengan argumen US$ yang nyatanya bernilai tinggi sekarang.

Kalau Anda memiliki bandwidth cukup untuk menyaksikan perdebatan mereka secara langsung; Anda dapat memnyimpulkan sendiri siapa diantara mereka yang benar dan berkata jujur – dan siapa yang lagi berbohong; dari mimik wajah mereka hal ini nampak jelas.
Read more...

Senin, 24 November 2008

Bencana Dolar, Mari Kembali Ke Emas

HTI-Press. Krisis keuangan global yang terjadi kini merupakan fenomena yang menjadi pusat perhatian dunia, tidak saja bagi pemikir ekonomi mikro dan makro, tetapi juga bagi para elite politik dan para pengusaha. Dalam sejarah ekonomi, ternyata krisis sering terjadi di mana-mana melanda hampir semua negara yang menerapkan sistem kapitalisme. Krisis demi krisis ekonomi terus berulang tiada henti, sejak tahun 1923, 1930, 1940, 1970, 1980, 1990, dan 1998 – 2001 bahkan sampai saat ini krisis semakin mengkhawatirkan dengan munculnya krisis finansial di Amerika Serikat.

Roy Davies dan Glyn Davies, 1996 dalam buku The History of Money From Ancient time oi Present Day, menguraikan sejarah kronologi secara komprehensif. dimana sepanjang abad 20 telah terjadi lebih 20 kali krisis besar yang melanda banyak negara. Fakta ini menunjukkan bahwa secara rata-rata, setiap 5 tahun terjadi krisis keuangan hebat yang mengakibatkan penderitaan bagi ratusan juta umat manusia.

Krisis ini pun berimbas pada dolar yang kemudian membuat gonjang-ganjing keuangan banyak Negara di dunia. Uang, dalam perekonomian mempunyai arti sangat penting. Ketidakadilan alat ukur itu, karena instabilitas nilai tukar, akan mengakibatkan perekonomian suatu bangsa bahkan dunia, tidak berjalan pada titik keseimbangan. Akibatnya, akan semakin sulit merealisasikan keadilan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Inilah yang menimpa sistem uang kertas yang kita anut saat ini.

Uang kertas yang pada dasarnya hanya berupa kertas, ternyata tidak memiliki nilai intrinsik yang murni. Akibatnya, fluktuasi nilai tukarnya terus terjadi. Baik karena gangguan sektor riil seperti korupsi dan bencana alam, maupun gangguan sektor moneter yang berpeluang menciptakan sistem ribawi.

Potret ketimpangan ekonomi yang melanda negara-negara dunia ketiga akibat penerimaan mereka terhadap sistem mata uang kertas (fiat money) menjadi bukti nyata akan hal itu. Fiat money adalah penggunaan mata uang berbasis kertas yang diterbitkan pemerintah suatu negara tanpa disokong logam mulia (emas dan perak).

Penggunaan fiat money baru dikenal pada abad 20 ini. Penandanya, saat sistem Bretton Woods ambruk pada 1944. Emas yang selama ribuan tahun menjadi standar mata uang (classical gold standard) diganti dengan sistem kurs mengambang (flexible excange rate) yang sama sekali tak lagi bersandar pada emas. Dunia kemudian hanya mengenal satu mata uang kertas yang mendominasi perdagangan dan menjadi pilihan mengisi cadangan devisa oleh berbagai negara, yaitu dolar AS.

Perombakan sistem moneter standar emas dunia adalah hasil rekayasa Kapitalisme dalam rumusan Imperialisme Moneter melalui IMF dan Bank Dunia dengan metode hutang luar negeri, sistem moneter bukan standar emas, inflasi dengan sistem bank sentral, selisih kurs dan bunga melalui mekanisme pasar bebas. Dengan fluktuasi yang sedikit saja, maka hancurlah sitem keuangan dunia. Lebih lebih votalitas kurs ini bisa dipermainkan oleh beberapa orang/ lembaga saja di dunia ini.

Penggunaan uang kertas sebagai alat transaksi moneter internasional itu telah membuka ruang bagi munculnya penjajahan baru dan salah satu biang ketidakadilan moneter di dunia. Melalui mata uang kertas, sebuah negara dapat menjajah, menguasai, bahkan melucuti kekayaan negara lain. Negara yang memiliki nilai mata uang kertas lebih kuat menekan negara lain yang mata uang kertasnya lebih lemah.

Contoh nyata penjajahan melalui mata uang itu terlihat dalam penggunaan uang kertas dolar Amerika Serikat (AS) yang diterima oleh 60 persen penduduk bumi. Inilah ironi terbesar dunia saat ini. Dolar yang terdistribusi secara luas menempatkan AS pada tempat istimewa. Melalui dolar–mata uang yang tak berbasis pada emas itu–AS mengeksploitasi, memajaki warga dunia dengan mengalihkan beban inflasi yang ditanggungnya pada seluruh pemakai dolar di seantero dunia. Negara-negara ketiga didera krisis ekonomi berkepanjangan lantaran harus membayar inflasi yang ditimbulkan oleh penggunaan uang kertas tersebut.

Bukan itu saja. Ketidakadilan juga tersimak saat negara-negara ketiga menyerahkan pelbagai komoditas mereka seperti minyak, kayu dan kekayaan alam lainnya sementara AS cukup menukar semua komoditas itu dengan uang kertas yang bisa dicetaknya kapan saja. Sepanjang dolar tetap dipakai dalam pelbagai transaksi moneter internasional, ketimpangan moneter dan krisis ekonomi akan terus melanda negara-negara ketiga.

Dalam sejarah, mata uang emas terbukti diterima sebagai alat moneter universal. Ribuan tahun lamanya masyarakat dunia dari pelbagai peradaban memilih mata uang ini sebagai alat tukar dalam aneka praktik keuangan. Selama ribuan tahun pula, perdagangan dunia menganut konsep bimetalisme, kebijakan moneter berbasis emas dan perak. Imperium Romawi menggunakan denarius, mata uang berupa koin emas bergambar Hercules bersama dua putranya, Herculyanoos dan Qustantine. Di Cina dikenal qian, mata uang yang juga berbasis logam.

Jika kita mau terbebas dari ketidakadilan moneter dan krisis ekonomi tersebut, maka kenapa tidak melirik mata uang emas dan perak. Sistem uang emas dan perak punya beberapa keunggulan.

Pertama, uang emas sudah dibuktikan sejak zaman Nabi Muhamad saw sebagai alat tukar yang punya nilai intrinsik murni. Nabi pernah mengutus sahabatnya membeli seekor kambing dengan harga satu dinar. Hari ini, 1500 tahun kemudian, sekeping dinar tetap bisa dapat seekor kambing. Jadi, nilainya tetap. Begitu juga dirham. Satu dirham dari dulu sampai sekarang kira-kira dapat seekor ayam kecil, sedangkan ayam besar dua dirham. Jadi, emas dan perak adalah penyimpan nilai yang tetap dan dijamin oleh dirinya sendiri.

Kedua, jika emas dan perak berlaku sebagai mata uang maka ia akan menjadi mata uang universal yang menjadi milik semua negara. Karena emas dan perak diterima oleh semua negara. Ketiga, sebagai mata uang universal ia tidak memiliki masalah kurs. Sehingga, harga 1 dinar di Amerika Serikat sama dengan harga 1 dinar di Indonesia. Tidak seperti sekarang, $ 1 US tiba-tiba 9000 kali lipat rupiah, dan ini tiap kali bisa dimainkan.

Keempat, jika kita menetapkan dinar dan dirham sebagai mata uang, berarti kita telah bersikap adil. Karena, begitu kita bertransaksi dengan dinar berarti kita telah melakukan tukar menukar harta dengan harta lain yang nilainya sepadan. Misalnya, kita menjual hasil hutan berupa kayu, kita akan mendapatkan emas dalam bentuk dinar. Kelebihan lainnya, jika kita mempunyai cadangan emas yang banyak, kita tidak mudah diguncang berbagai krisis. Tidak seperti saat ini. Kita mengekspor minyak, kayu, elektronik, dan lainnya hanya untuk ditukar dengan kertas yang nggak ada apa-apanya. Hanya kertas dengan angka-angka yang dipaksakan oleh hukum dan politik negara untuk mempercayainya.
Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/05/bencana-dolar-mari-kembali-ke-emas/
Read more...

Kamis, 20 November 2008

China Harus Segera Tingkatkan Cadangan Emasnya


Jumat, 14 November 2008 | 14:23

BEIJING.

Asosiasi Emas di China bilang, Pemerintah China harus meningkatkan simpanan emasnya sebagai langkah diversifikasi cadangan devisa. Sebab, ada kecenderungan nilai dolar akan mengalami pelemahan ke depan nanti.

“China harus memiliki setidaknya beberapa ribu ton emas sebagai cadangan, lima sampai enam kali dari yang diumumkan pemerintah saat ini yang hanya sebesar 600 ton,” jelas Hou Huimin, vice chairman China Gold Association. Kelompok tersebut mewakili produsen, trader dan retailer emas.

Asal tahu saja, saat ini anggaran defisit AS terus meningkat dan mencapai rekor tertinggi pada Oktober. Tak heran, banyak dari investor yang bertaruh bahwa nilai dolar akan semakin melemah seiring dengan langkah departemen keuangan AS yang diprediksi akan menjual lagi surat utang untuk mendanai paket penyelamatan sektor finansial AS senilai US$ 700 miliar. Sejak menyentuh rekor tertingginya Maret lalu hingga saat ini, harga emas sudah merosot 29%.

“Tidak ada keraguan bahwa emas akan lebih menarik dibanding dolar seiring dengan meningkatnya utang AS. Dalam jangka panjang, baik dolar maupun surat utang AS akan terus melemah nilainya. Sangat memungkinkan sekali jika China pada akhirnya akan membeli emas, seperti yang sudah dilakukan sebelumnya,” papar Kenichiro Ikezawa dari Daiwa SB Investment Ltd.

Pada pukul 12.13 waktu Beijing, dolar mengalami pelemahan 0,6% terhadap enam mata uang utama dunia. Sedangkan harga emas turun 1% menjadi US$ 729,13 per troy ounce.

Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, China memiliki dana cadangan mata uang asing yang nilainya mencapai US$ 1,9 triliun. China juga merupakan pemegang terbesar surat utang AS setelah Jepang.

Tahun lalu, permintaan emas di China mengalami kenaikan 23%. Itu artinya, Negeri Panda merupakan konsumen emas terbesar kedua dunia.
Barratut Taqiyyah Bloomberg
Read more...

Minggu, 16 November 2008

Zakat Perhiasan


Para ulama sepakat bahwa tidak wajib zakat bagi intan, berlian, yaqut, mutiara, marjan, dan batu-batu permata lainnya kecuali apabila diperdagangkan. Bila diperdagangkan, ia wajib dikeluarkan zakatnya.
Adapun perhiasan wanita seperti emas dan perak, maka para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Abu Hanifah dan Ibnu Hazm mengatakan bahwa wajib dikeluarkan zakatnya bila sampai 1 nisab (jika telah sampai dua puluh dinar dan sudah mencapai waktu satu tahun, wajib dikeluarkan zakatnya sebanyak 1/40 yakni 1/2dinar).
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Amar bin Syu'aib yang diterimanya dari bapaknya, dadari kakeknya, ia berkata:" Ada 2 orang wanita datang kepada Rasulullah s.a.w. dalam keadaan memakai gelang di tangannya. Rasulullah s.a.w. bertanya kepada mereka.'Apakah kalian menginginkan Allah membelitkan pada tangan kalian pada hari kiamat nanti gelang yang terbuat dari api neraka?". 'Tidak,'jawab mereka. 'Kalau begitu, bayarlah zakat barang yang ada di tangan kalian ini!' Sabda Nabi s.a.w."
Asma'binti Yazid berkata,"Aku masuk bersama bibi aku ke rumah Rasulullah s.a.w., sedangkan ketika itu kami memakai gelang emas. Rasulullah s.a.w. bertanya,"Apakah kalian mengeluarkan zakatnya?"Tidak,'jawab kami. 'Tidakkah kalian merasa takut bahwa Allah akan mengalungkan gelang yang terbuat dari api neraka? Karena itu bayarlah zakatnya,"Sabda Nabi.s.a.w. [Menurut Haitsami, hadits ini diriwayatkan Ahmad dan sanadnya Hasan].

Aisyah berkata,"Suatu ketika,Rasulullah s.a.w. datang, lalu beliau melihat cincin-cincin perak di tanganku. 'Apa itu, wahai Aisyah?'tanya beliau. 'Aku melakukan ini untuk berhias-hias dihadapanmu, wahai Rasulullah,'jawabku. 'Apakah engkau membayar zakatnya?tanya Nabi s.a.w. lagi. "Tidak,'ujarku. "Masya Allah,' sampai beliau berkata,'Itu sudah cukup memasukkan dirimu ke dalam neraka,"(HR Abu Dawud, Daruquthni, dan Baihaqi).
Adapun ketiga imam lainnya berpendapat bahwa tidak wajib zakat pada perhiasan-perhiasan wanita walau berapa pun banyaknya.
Baihaqi meriwayatkan bahwa Jabir bin Abdullah pernah ditanya tentang perhiasan, apakah wajib dikeluarkan zakatnya, Jabir menjawab,"Tidak. "Ia ditanya orang lagi,"bagaimana kalau 1000 dinar?"Jabir menjawab,"Walaupun lebih banyak lagi dari itu!"
Baihaqi meriwayatkan bahwa Asma binti Abu Bakar menghiasi putri nya dengan perhiasan-perhiasan emas seharga lebih kurang 50ribu dinar dan tidak pernah mengeluakan zakatnya.
Di dalam buku al-Muwaththa' terdapat riwayat yang diterima dari Abdurrahman bin Qasim, dari bapaknya,:"Aisyah bertindak sebagai wali kepada putri-putri saudaranya yang telah yatim. Mereka memakai perhiasan dan Aisyah tidak mengeluarkan zakat dari perhiasan-perhiasan tersebut."
Diriwayatkan juga bahwa Abdullah bin Umar biasa memberi putri-putri dan budaknya perhiasan-perhiasan dari emas dan dia tidak mengeluarkan zakat dari perhiasan tersebut.
Khaththabi mengatakan."Zahir Al Qur'an menjadi bukti alasan bagi orang yang mewajibkan mengeluarkan zakat perhiasan, sedangkan astar menguatkan lagi dalil tersebut. PIhak yang menyatakan tidak wajib mengeluarkan zakat perhiasan berpegang pada dalilyang bersumber pada akal pikiran dan sebagian kecil dari atsar. Langkah yang lebih aman ialah wajib mengeluarkan zakat perhiasan.
Read more...

Kamis, 13 November 2008

Orang Sakit Parah Yang Makannya Banyak…

Kalau kita perhatikan pergerakan grafik harga emas harian dalam US$ dan dalam Rupiah di blog ini selama 6 minggu terakhir, banyak sekali kita lihat keanehan –keanehannya.

Grafik hijau dan kuning yang seharusnya berimpit, sering tidak berimpit atau bahkan berlawanan arah. Ambil contoh grafik yang nampak di layar Anda pagi ini (13/11/07 jam 7 pagi), harga emas dunia dalam US$ menukik tajam – tetapi justru naik dalam Rupiah.

Hal ini terjadi tidak lain karena nilai uangnya yang bergerak berlawanan. US $ semakin perkasa, sementara Rupiahnya semakin melemah. Daya beli emasnya sendiri tetap seperti yang sering saya ungkapkan di blog ini.

Pertanyaan awamnya adalah mengapa US$ terus menanjak nilainya ? padahal katanya Amerika-lah pangkal krisis keuangan global ini bermula ?.

Amerika memang sedang krisis berat, bukan hanya sector keuangannya yang luluh lantak tetapi juga sector riilnya yang antri minta pertolongan pemerintah. Justru karena begitu banyaknya yang membutuhkan pertolongan likuiditas, maka begitu banyak pula US$ dibutuhkan di dalam negeri AS.

Uang Dollar dari perbagai penjuru dunia disedot balik ke negaranya memalui obligasi pemerintah dan sejenisnya. Maka kembali pada hukum supply & demand , kalau supply US$ yang ada diperebutkan begitu banyak yang membutuhkan, maka pastilah US$-nya naik.

Sementara uang Rupiah yang dipakai untuk membeli US$ menjadi kedodoran, pagi ini ketika menulis artikel ini saya sempatkan menoleh ke US$ gauge yang ada di sidebar blog ini; angka menunjukkan US$ 1= Rp 12,025. Wow !.

Anda nggak perlu cemas, dari yang saya amati setiap Rupiah jatuh pada perdagangan internasional yang terjadi malam hari waktu Indonesia – besuk paginya otoritas moneter negeri ini akan berjibaku menyelamatkannya. Jadi siang atau sore ini Rupiah insyaallah akan membaik. Lagian siapa yang butuh US Dollar ?.

Fenomena naiknya terus menerus nilai US$ terhadap mata uang lainnya di saat puncak krisis ini, sulit dicerna oleh oleh kebanyakan oran awam kayak kita. Oleh karenanya setiap mendapatkan pertanyaan masalah ini, saya berusaha membuat analogi yang lebih mudah diterima si penanya.

Begini analogi saya yang saya jelaskan kepada orang jawa yang menanyakannya kepada saya.

Di masyarakat tradisional jawa, ada anggapan bahwa kalau ada orang yang lagi sakit parah – biasanya sulit makan tentunya; tetapi kali ini tiba –tiba dia minta makanan tertentu dan makannya sangat banyak. Orang-orang yang melihat ini di jawa akan mulai berfikir bahwa si sakit akan meninggal dunia. Konon orang sakit parah yang makan banyak adalah salah satu pertanda dia akan meninggal dunia.

Demikianlah Ekonomi Amerika, mereka lagi sakit parah dan saat ini sedang makan makanan kesukaannya (US$ ) dengan sangat banyak – sampai menyulitkan orang lain yang membutuhkannya (US$). Konon mereka juga akan ‘meninggal dunia’.

Fenomena akan 'mati'-nya ekonomi Amerika ini terungkap juga dalam The Deal's M&A Outlook 2009 conference di New York kemarin. Salah satu pembicaranya mengungkapkan bahwa dalam 12-18 bulan kedepan, prioritas industri keuangan Amerika bukan lagi urusan strategis atau pertumbuhan - urusan utamanya adalah berjuang dari hari ke hari agar tetap bisa hidup!.

Wallahu A’lam, hanya Allah yang mengetahui ilmu masa depan.

posted by M. Iqbal at 7:25 AM
Read more...

Kamis, 11 September 2008

Emas dan Perak, Simbol Perlawanan terhadap Dollar Cs (Bag.1)

Ingin menumbangkan hegemoni Zionis Internasional secara efektif, cepat, namun aman? Segeralah mempergunakan emas dan perak (Dinar dan Dirham) sebagai mata uang dan investasi, dan sedikit demi sedikit—lebih cepat lebih baik—menukar Rupiah, Dollar, Yen, Euro, Poundsterling, Gulden, dan sebagainya dengan emas dan perak sebagai mata uang yang sejati, karena yang lain itu sesungguhnya cuma simbol yang secara intrinsik tidak memiliki nilai apa-apa.

Apa yang kita namakan dengan mata uang sekarang ini, yaitu Dollar, Yen, Rupiah, Poundsterling, Euro, dan sebagainya, pada hakikatnya hanya selembar kertas biasa (dan yang berbentuk koin juga koin biasa yang tak ada harganya), yang hanya menjadi “uang” karena ada jaminan dari bank. Bank sendiri berani menjamin mata uang yang tak berharga tersebut karena memiliki cadangan devisa berupa emas dan perak.

Emas dan perak inilah yang sampai saat ini terus berupaya direbut dan ditimbun oleh Konspirasi Yahudi Internasional dari tangan seluruh warga dunia, agar emas dan perak seluruh dunia berada di tangan kaum Yahudi Internasional dan di tangan kaum non-Yahudi hanyalah selembar kertas tidak berharga yang dipakai sebagai alat transaksi. Keadaan ini akan sangat menguntungkan kaum Yahudi Internasional yang bisa seenaknya memainkan nilai tukar mata uang tersebut sehingga masyarakat non-Yahudi bisa dikendalikan dengan mudah.

Penguasaan dan pengendalian dunia merupakan tujuan utama kaum Yahudi. Kaum Yahudi sangat yakin, ini didukung oleh Talmud, bahwa kaum Yahudi adalah kaum yang dipilih Tuhan untuk memimpin dunia dan menjadikan semua manusia non-Yahudi sebagai budaknya. Bahkan Talmud mengatakan bahwa hanya orang Yahudi-lah yang bisa dianggap manusia, sedangkan orang-orang non-Yahudi tidak bisa dianggap manusia dan lebih tepat disamakan dengan binatang. Sebab itu, orang-orang Yahudi mempunyai istilah lain bagi orang non-Yahudi, yakni Ghoyim atau Gentiles.

Salah satu strategi utama kaum Yahudi untuk menundukkan dunia adalah dengan menimbun emas dari seluruh dunia ke tangannya, dan menyebarkan mata uang-mata uang palsu ke seluruh penjuru dunia. Ini telah dirancang dengan baik oleh Mayer Amschell Rothschild dalam pertemuan rahasia 13 Dinasti Yahudi Dunia di Judenstrasse, Bavaria, pada tahun 1773, yang kemudian dalam Konferensi Zionis Internasional pertama di Bassel-Swiss, 1897, disahkan menjadi agenda bersama Zionis Internasional yang dinamakan sebagai Protokol of Zions.

Inilah sejumlah butir dalam Protokolat Zionis yang berhubungan dengan penguasaan dunia lewat kekuatan emas dan uang:

“Kekuatan uang selalu bisa mengalahkan segalanya. Agama yang bisa menguasai rakyat pada masa dahulu, kini mulai digulung dengan kampanye kebebasan. Namun rakyat banyak tidak tahu harus mengapa dengan kebebasan itu. Inilah tugas Konspirasi untuk mengisinya demi kekuasaan, dengan kekuatan uang. ” (butir 3)

“Dengan emas, Konspirasi akan menguasai opini dunia. Satu orang Yahudi yang menjadi korban sama dengan 1000 orang non-Yahudi (Gentiles/Ghoyim) sebagai balasannya” (butir 13)

“Krisis ekonomi yang dibuat akan memberikan hak baru kepada Konspirasi, yaitu hak pemilik modal dalam penentuan arah kekuasaan. Ini akan menjadi kekuasaan turunan. ” (butir 15)

“Monopoli kegiatan perekonomian raksasa dengan dukungan modal yang dimiliki Konspirasi adalah syarat utama untuk menundukkan dunia, hingga tidak ada satu kekutan non-Yahudi pun yang bisa menandinginya. Dengan demikian, kita bisa bebas memainkan krisis suatu negeri. ” (butir 20)

“Penguasaan kekayaan alam negeri-negeri non-Yahudi mutlak dilakukan. ” (butir 21)

Lantas, apa sebenarnya beda emas dan perak dengan mata uang-mata uang negara-negara dunia yang sekarang dicetak dari selembar kertas biasa?

Kehebatan Emas dan Perak

Sejak berabad-abad silam, emas dan perak telah menjadi logam mulia yang diagungkan oleh banyak manusia. Bahkan emas dan perak, juga batu permata, telah dipergunakan oleh raja-raja, para sultan, para diktator, tiran, dan sebagainya sebagai bahan dasar pembuatan mahkota mereka.

Pertanyaannya seperti yang ditanyakan oleh A. Riawan Amin dalam buku “The Satanic Financial: True Conspiracies” (Celestial Publishing, 2007): “Kenapa Tuhan perlu menciptakan emas dan perak?”

Presiden Direktur Bank Muamalat Indonesia yang getol mengkampanyekan penggunaan emas dan perak sebagai mata uang sejati ini mengutip Ibnu Khaldun dalam ‘Muqaddimah”nya: “Tuhan menciptakan dua logam mulia itu untuk menjadi alat pengukur nilai atau harga (measure of value) bagi segala sesuatu. ”

Al-Maqrizi dalam “Ighatsah” juga menyatakan, “Allah menciptakan dua logam mulia itu bukan sekadar sebagai alat pengukur nilai, atau untuk menyimpan kekayaan (investasi), tetapi juga sebagai alat tukar (medium of exchange). ” Karena tingginya kedudukan emas dan perak inilah maka banyak kalangan menganggap kedua logam mulia tersebut sebagai Heaven’s Currency (Mata uang surga).

A. Riawan Amin menulis, “Masyarakat kuno sudah menggunakan emas, perak, dan tembaga untuk transaksi ekonomi. Emas dan perak dipilih karena kelangkaan (rare) dan warnanya yang indah. Dalam sejarah manusia, tak lebih dari 90. 000 ton emas yang ditambang dari perut bumi. Sementara perak dan tembaga untuk memenuhi transaksi dengan nilai yang lebih rendah dari emas. ”

Uniknya, tambah Amin, dunia modern mengklasifikasikan logam-logam mulia tersebut dalam kolom yang sama. Tabel Periodik menempatkan emas, perak, dan tembaga (dengan simbol masing-masing Au, Ag, dan Cu) dalam kelompok yang sama yakni Golongan 11. Berbeda dengan kebanyakan logam lainnya, emas memiliki sifat yang sangat istimewa.

Pertama, ia tidak bisa diubah dengan bahan kimia apa pun. Archimedes (300 SM) membuktikan bahwa emas bisa dideteksi tanpa merusak dan hanya dengan menggunakan air tawar biasa. Karena bukan termasuk logam yang aktif maka emas tidak terpengaruh oleh air dan udara. Tidak seperti besi atau logam lainnya, emas tidak bisa berkarat.

Selain itu, emas juga termasuk logam yang sangat lunak. Bisa ditempa menjadi lempengan yang super tipis dan bisa juga ditempa menjadi kawat dengan ketebalan super mini. Bayangkan saja, satu ons emas bisa ditempa dengan luas seukuran 100 kaki persegi atau dibuat kawat sepanjang 50 mil!

Emas juga dikenal sebagai logam mulia paling berat. Satu kaki kubik emas beratnya mencapai lebih dari setengah ton. Itulah sebabnya mengapa dalam sejarah manusia tidak pernah ada pencurian emas dalam skala besar karena untuk itu diperlukan alat berat untuk mengangkatnya.

Dan Maha Besar Allah SWT yang telah menciptakannya, sepanjang sejarah manusia, penambangan emas dunia dari tahun ke tahun hanya mengalami kenaikan dua persen tiap tahunnya. Dalam setahun seluruh industri tambang emas dunia menghasilkan kira-kira 2.000 ton emas. Bandingkan dengan produksi baja AS sejak 1995 seperti yang dirilis Iron and Steel Institute yang bermarkas di Washington DC yang mencapai 10. 500 ton perjamnya. Sebab itu, emas sungguh-sungguh logam yang sanga langka dan sangat stabil nilainya sejak awal sejarah manusia hingga kini.

Dalam tulisan kedua, selain kehebatan emas dan perak juga akan dikupas tentang kelemahan mata uang palsu yang kini dipakai banyak negara dunia dan kaitannya dengan Konspirasi Yahudi Internasional.(Bersambung)
Sumber :Rizki Ridyasmara (http://www.eramuslim.com)

Emas dan Perak, Simbol Perlawanan terhadap Dollar Cs

Akibat gejolak politik yang berawal dari kepentingan ekonomi, pada 1913 para bankers AS menyatakan telah terjadi kekurangan mata uang di Amerika. Oleh sebab itu, pemerintah Amerika tidak bisa menerbitkan mata uang lagi karena semua emas cadangannya telah terpakai.

Agar ada tambahan sirkulasi uang, sekelompok orang kemudian mendirikan satu bank yang dinamakan “The Federal Reserve Bank of New York”, yang kemudian menjual stock yang dimiliki dan dibeli oleh mereka sendiri senilai US$ 450. 000. 000 melalui bank-bank: Rothschild Bank of London, Rothschild Bank of Berlin, Warburg Bank of Hamburg, Warburg Bank of Amsterdam (Keluarga Warburg mengontrol German Reichsbank bersama Keluarga Rothschild), Israel Moses Seif Bank of Italy, Lazard Brothers of Paris, Citibank, Goldman & Sach of New York, Lehman & Brothers of New York, Chase Manhattan Bank of New York, serta Kuhn & Loeb Bank of New York.

Karena bank-bank tersebut mempunyai cadangan emas yang besar, maka bank tersebut dapat mengeluarkan mata uang yang dengan jaminan emas tersebut dan mata uang tersebut disebut “Federal Reserve Notes”. Bentuknya sama dengan mata uang Amerika dan masing-masing dapat saling tukar.

Untuk membayar bunga, pemerintah Amerika menciptakan income-tax. Jadi sebenarnya warganegara Amerika membayar bunga kepada Federal Reserve. Income tax dimulai tahun 1913, pada tahun yang sama Federal Reserve Bank didirikan. Seluruh income tax yang terkumpul dibayarkan ke Federal Reserve sebagai bunga atas pinjaman.

Awal tahun 1929, Federal Reserve berhenti menerima uang emas sebagai bayaran. Yang berlaku hanya ‘uang resmi’. Federal Reserve mulai menarik uang kertas yang dijamin emas dari sirkulasi dan menggantinya dengan ‘uang resmi’.

Sebelum tahun 1929 berakhir, ekonomi Amerika mengalami malapetaka (dikenal dengan masa ‘Great Depression’). Tahun 1931, Presiden Amerika Hoover mengumumkan kekurangan budjet sebesar US$ 902. 000. 000. Tahun 1932 Amerika menjual emas senilai US$ 750. 000. 000 yang digunakan untuk menjamin mata uang Amerika. Ini sama dengan ‘penjualan likuidasi’ sebuah perusahaan bermasalah. Emas yang dijual ini dibeli dengan potongan (discount rates) oleh bank internsional/bank asing (persis keadaannya seperti di Indonesia sekarang ini), dan pembelinya adalah pemilik Federal Reserve di New York.

Roosevelt melakukan serangkaian keputusan untuk melakukan reorganisasi pemerintahan Amerika sebagai suatu perusahaan. Perusahaan ini kemudian mengalami kebangkrutan. Amerika bangkrut karena tidak bisa membayar bunganya akibat berhutang kepada Federal Reserve. Akibat bangkrutnya Amerika, maka bank-bank yang merupakan pemilik Federal Reserve sekarang memiliki SELURUH Amerika, termasuk warganegaranya dan asset-assetnya. Negara Amerika bentuknya adalah anak perusahaan Federal Reserve.

Tahun 1934 Roosevelt memerintahkan seluruh bank di Amerika untuk tutup selama satu minggu dan menarik emas dari seluruh warga AS dan juga mata uang yang diback-up emas dan menggantinya dengan “seolah-olah uang” (uang kartal) yang dicetak Federal Reserve. Tahun itu dikenang sebagai ‘Liburan Bank Nasional’.

Warga AS Dilarang Memiliki Emas

Rakyat mulai menahan emasnya karena mereka tidak mau menggunakan kertas tak bernilai “seolah-olah uang”. Karena itu Roosevelt pada tahun 1934 mengeluarkan perintah bahwa setiap warganegara dilarang memiliki emas, karena illegal. Para hamba hukum mulai melakukan penyelisikan pada orang-orang yang memiliki emas, dan segera menyitanya jika ditemukan. (Catatan: Pada saat itu rakyat yang ketakutan berbondong-bondong menukar emasnya dengan sertifikat/bond bertuliskan I. O. U yang ditandatangani oleh Morgenthau, Menteri Keuangan Amerika). Hal ini merupakan perampokan emas besar-besaran yang terjadi dalam sejarah umat manusia. Tahun 1976 Presiden Carter mencabut aturan ini.

Tahun 1963 Presiden Kennedy memerintahkan Departemen Keuangan Amerika untuk mencetak uang logam perak. Langkah ini mengakhiri kekuasaan Federal Reserve karena dengan memiliki uang sendiri, maka rakyat Amerika tidak perlu membayar bunga atas uangnya sendiri. Lima bulan setelah perintah itu dikeluarkan, Presiden Kennedy mati dibunuh.

Langkah pertama Presiden Johnson adalah membatalkan keputusan Presiden Kennedy dan memerintahkan Departemen Keuangan Amerika untuk menghentikan pencetakan mata uang perak sekaligus menarik mata uang perak dari peredaran untuk dimusnahkan. Pada hari yang sama Kennedy dimakamkan, Federal Reserve Bank mengeluarkan uang ‘no promise’ yang pertama. Uang ini tidak menjanjikan bahwa mereka akan membayar dalam mata uang yang sah secara hukum, tetapi mata uang ini merupakan alat pembayaran yang berlaku.

Presiden Ronald Reagan merencanakan memperbaiki pemerintahanh Amerika sesuai dengan aturan konstitusi. Ia ditembak beberapa bulan kemudian oleh anak dari teman dekatnya, Wakil Presiden George Bush. Reagan tidak mengeluarkan perintah baru dan pada tahun 1987 untuk melaksanakannya namun perintah tersebut tidak ditanggapi oleh pemerintah Amerika.

Tahun 1993, James Traficant dalam pidatonya yang terkenal di Parlemen mengutuk sistem Federal Reserve sebagai suatu penipuan besar-besaran. Tak lama setelah itu ia menjadi korban penyelidikan korupsi sekali pun tidak ada tuntutan kepadanya selama bertahun-tahun.

Pada tahun 2002, Traficant akhirnya terbukti korupsi. Ia mengatakan bahwa saksi-saksi yang melawan dia semuanya dipaksa untuk berbohong. Ia juga mengeluh karena tidak diperkenankan menghubungi semua orang yang menyelidikinya, sebagai saksi. Karena kebusukan sistem The Federal Reserve, penguasa AS anti Yahudi Henry Ford pernah berkata, “Barangkali ada bagusnya rakyat Amerika pada umumnya tidak mengetahui asal-usul uang, karena jika mereka mengetahuinya, saya yakin esok pagi akan timbul revolusi. ”

Demikian sejarah kebusukan sistem mata uang kartal. Umat Islam seharusnya dengan penuh kesungguhan mulai menggunakan kembali emas dan perak sebagai mata uang, bukan dollar, rupiah, dan sebagainya. Kita harus sadar, kaum Yahudi Internasional sepanjang sejarahnya terus menghimpun dan mengangkangi emas dan perak dari seluruh manusia non-Yahudi. Untuk melawan semuanya itu tidak ada jalan lain, umat Islam harus kembali kepada penggunaan emas dan perak sebagai mata uang dan juga sebagai investasi.

Di Amerika Serikat saja, sejumlah warganegaranya telah lama aktif mengkampanyekan kembali penggunaan emas dan perak sebagai mata uang sejati (Liberty Dollar). Pelan tapi pasti, dunia akan kembali mempergunakan mata uang sejati ini. Mudah-mudahan kita tidak terlambat.

Emas dan Perak, Simbol Perlawanan terhadap Dollar Cs (Bag.3)

Senin, 13 Agu 07 09:38 WIB
Kirim teman

Pada prinsipnya, sistem The Satanic Finance yang mendewakan uang kartal adalah sistem penipuan terhadap masyarakat banyak. Secara sederhana, sistem ini bisa digambarkan sebagai mencetak sebanyak-banyaknya uang kartal (uang simbol yang sesungguhnya tidak memiliki nilai sama sekali) dan mengguyurnya ke tengah masyarakat. Di lain pihak dalam waktu bersamaan, pengelola atau pengusaha yang mencetak uang kartal itu menarik sebanyak-banyaknya batangan emas ke pihaknya dari masyarakat luas. Jadi mereka menukar uang kartal yang sama sekali tidak ada harganya dengan batangan-batangan emas.

Sejarah Uang di Amerika Serikat

Sejarah uang kartal bisa kita lihat dengan sangat bagus dalam sejarah perekonomian Amerika Serikat. Semua paparan di bawah ini terkait sejarah uang di AS dikutip dari buku “Knights Templar, Knights of Christ” (Pustaka Alkautsar, 2006):

Jauh sebelum AS terbentuk, para Mason telah berada di daratan ini. Ketika Amerika masih berupa 13 koloni Inggris, Benjamin Franklin mengunjungi London dan menemui sejumlah pemodal Yahudi di sana. Dalam pertemuan yang dicatat dalam Dokumen Senat AS halaman 98 butir 33, yang dilaporkan Robert L. Owen, mantan kepala komisi bank dan keuangan Kongres AS, dilaporkan bahwa wakil-wakil perusahaan Rothschild di London menanyakan kepada Benjamin Franklin hal-hal apa saja yang bisa membuat perekonomian koloni Amerika itu bisa maju.

Franklin anggota Freemansonry Inggris itu menjawab, “Itu mudah. Kita akan cetak mata uang kita sendiri, sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan oleh industri yang kita miliki. ” Rothschild segera saja mencium kesempatan besar untuk menangguk untung di koloni Inggris ini. Namun sebagai langkah awal, hak untuk mencetak uang sendiri bagi koloni di seberang lautan tersebut masih dilarang oleh Inggris yang sudah dikuasai Yahudi.

Amshell Mayer Rothschild sendiri saat itu masih sibuk di Jerman mengurus bisnisnya, yang salah satu cabang usahanya adalah mengorganisir tentara bayaran (The Mercenaries) Jerman bagi Inggris untuk menjaga koloni-koloni Inggris yang meluas melampaui Eropa. Usulan mencetak mata uang sendiri bagi Amerika, lepas dari sistem mata uang Inggris, akhirnya tiba di hadapan Rothschild. Setelah memperhitungkan segala laba yang akan bisa diperoleh, demikian pula dengan penguasaan politisnya, maka Rothschild akhirnya menganggukkan kepalanya.

Dengan cepat lahirlah sebuah undang-undang yang memberi hak kepada pemerintah Inggris di koloni Amerika untuk mencetak mata uangnya sendiri bagi kepentingan koloninya tersebut. Seluruh asset koloni Amerika pun dikeluarkan dari Bank Sentral Inggris, sebagai pengembalian deposito seklaigus dengan bunganya yang dibayar dengan mata uang yang baru. Hal ini menimbulkan harapan baru di koloni Amerika. Tapi benarkah demikian?

Dalam jangka waktu setahun ternyata Bank Sentral Inggris—lewat pengaruh pemodal Yahudi—menolak menerima pembayaran lebih dari 50% dari nilai mata uang Amerika, padahal ini dijamin oleh undang-undang yang baru. Dengan sendirinya, nilai tukar mata uang Amerika pun anjlok hingga setengahnya. “…Masa-masa makmur telah berakhir, dan berubah menjadi krisis ekonomi yang parah. Jalan-jalan di seluruh koloni tersebut kini tidak lagi aman, ” demikian paparan Benjamin Franklin yang tercatat dalam Dokumen Kongres AS nomor 23.

Belum cukup dengan itu, pemerintah pusat Inggris memberlakukan pajak tambahan kepada koloninya tersebut yakni yang dikenal sebagai Pajak Teh. Keadaan di koloni Amerika bertambah buruk. Kelaparan dan kekacauan terjadi di mana-mana. Ketidakpuasan rakyat berbaur dengan ambisi sejumlah politikus. Situasi makin genting. Dan tangan-tangan yang tak terlihat semakin memanaskan situasi ini untuk mengobarkan apa yang telah terjadi sebelumnya di Inggris dan Perancis: Revolusi.

Sejarah mencatat, bentrokkan bersenjata antara pasukan Inggris melawan pejuang kemerdekaan Amerika Serikat meletus pada 19 April 1775. Jenderal George Washington diangkat menjadi pimpinan kaum revolusioner. Selama revolusi berlangsung, Konspirasi Yahudi Internasional seperti biasa bermain di kedua belah pihak. Yang satu mendukung Inggris, memberikan utang dan senjata untuk memadamkan ‘pemberontakan kaum revolusioner’, sedangkan satu pihak lagi mendukung kaum revolusioner dengan uang dan juga senjata. Tangan-tangan Konspirasi menyebabkan Inggris kalah dan pada 4 Juli 1776, sejumlah tokoh Amerika Serikat mendeklarasikan kemerdekaannya.

Merdeka secara politis ternyata tidak menjamin kemerdekaan penuh secara ekonomis. Kaum pemodal Yahudi dari Inggris masih saja merecoki pemerintahan yang baru saja terbentuk. Rothschild dan seluruh jaringannya tanpa lelah terus menyusupkan agen-agennya ke dalam tubuh Kongres. Dua orang agen mereka, Alexander Hamilton dan Robert Morris pada tahun 1783 berhasil mendirikan Bank Amerika (bukan bank sentral), sebagai ‘wakil’ dari Bank Sentral Inggris. Melihat gelagat yang kurang baik, Kongres membatalkan wewenang Bank Amerika untuk mencetak uang. Pertarungan secara diam-diam ini berlangsung amat panas. Antara kelompok pemodal Yahudi dengan sejumlah tokoh Amerika, yang herannya banyak pula yang merupakan anggota Freemasonry, untuk menguasai perekonomian negara yang baru ini.

Thomas Jefferson menulis surat kepada John Adams, “Saya yakin sepenuhnya bahwa lembaga-lembaga keuangan ini lebih berbahaya bagi kemerdekaan kita daripada serbuan pasukan musuh. Lembaga keuangan itu juga telah melahirkan sekelompok aristocrat kaya yang kekuasaannya mengancam pemerintah. Menurut hemat saya, kita wajib meninjau hak mencetak mata uang bagi lembaga keuangan ini dan mengembalikan wewenang itu kepada rakyat Amerika sebagai pihak yang paling berhak. ”

Para pemodal Yahudi pun marah bukan main mengetahui surat ini. Nathan Rothschild secara pribadi mengancam Presiden Andrew Jackson akan menciptakan kondisi Amerika yang lebih parah dan krisis berkepanjangan. Tapi Presiden Jackson tidak gentar. “Anda sekalian tidak lain adalah kawanan perampok dan ular. Kami akan menghancurkan kalian, dan bersumpah akan menghancurkan kalian semua!”

Pemodal Yahudi benar-benar marah sehingga mendesak Inggris agar menyerbu Amerika dan terjadilah perang pada tahun 1816. William Guy Carr telah merinci kejadian demi kejadian ini dengan sangat bagus. Presiden Abraham Lincoln sendiri pada malam tanggal 14 April 1865 dibunuh oleh seorang Yahudi bernama John Dickles Booth. Konspirasi memerintahkan pembunuhan ini karena mengetahui bahwa Presiden Lincoln akan segera mengeluarkan sebuah undang-undang yang akan menyingkirkan hegemoni Konspirasi terhadap Amerika. Si pembunuh Lincoln, Dickles Booth, berhubungan dengan Yahuda B. Benjamin, seorang agen Rothschild di Amerika. Booth sendiri tertangkap dan dihukum, sedangkan pihak Konspirasi tetap aman.
Sumber :Rizki Ridyasmara (http://www.eramuslim.com)
Read more...

Investasi Emas, Why Not?

Thursday, May 29th, 2008

Emas dari dulu memang menjadi fenomena yang menarik hati. Memang benar apa yang dilakukan para orang tua jaman dulu yang gemar membeli emas atau tanah dari pada barang lainnya. Karena mereka tahu bahwa harga emas bakal naek terus dari tahun ke tahun. Investasi emas untuk jangka panjang (long term) memang sangat menjanjikan disamping simple juga tidak terlalu membutuhkan keahlian khusus untuk menjalankannya. Sama halnya dengan investasi tanah. Kendalanya mungkin pada keamanan penyimpanan emas itu sendiri, apakah di simpan di rumah atau di bank (Safe Deposit Box Bank). Perjalanan harga emas dari tahun ke tahun sangat fantastis, tahun 1998 harga emas per gramnya mencapai Rp 25,000,-, tahun 2004 sudah mencapai Rp. 90,000,-, sedangkan sekarang harga per gramnya per tanggal 29 Mei 2008 sudah mencapai Rp. 279,000,-. Memang harga emas belakangan ini sempat naik turun akibat fluktuasi harga minyak dunia. Ya, setidaknya kita perlu jeli untuk memanfaatkan peluang berinvestasi emas mengingat kondisi tersebut.

Kenapa Emas?

TEORI INVESTASI

Jangan Taruh semua Telor dalam satu keranjang. Pastikan investasi anda berada dalam beberapa instrumen invesatsi anda selain tanah, saham, obligasi, dan emas tentunya.

SEJARAH BERKATA

Sejarah membuktikan emas tidak memiliki efek inflasi (ZERO INFLATION EFFECT) dan cendrung stabil dengan nilai yang riil.

TEORI KELANGKAAN (SCARCITY)

Di beberapa negara terjadi penurunan produksi emas, sehingga menimbulkan kelangkaan (scarcity) emas di masyarakat sedangkan permintaan terhadap emas meningkat. Hal ini bisa memicu kenaikan harga emas.

(Ditulis oleh : Gede Suarnaya, dari berbagai sumber)